Pikirkan sejenak, berapa kali kita sudah mendengar kata "gencatan senjata" dan "negosiasi" dalam konflik Israel-Palestina? Puluhan tahun berlalu, perjanjian demi perjanjian dibuat dan dilanggar, sementara rakyat Palestina terus menderita. Kini, Amerika Serikat mengkaji proposal gencatan senjata selama 10 hari antara Iran dan Israel yang diajukan Qatar, Mesir, dan Pakistan. Namun, di sisi lain, Israel justru meningkatkan kesiagaan militernya. Ini adalah siklus yang tak pernah berakhir, dan kita perlu bertanya, apakah diplomasi masih memiliki ruang di tengah realitas pahit ini?

Proposal gencatan senjata 10 hari ini bukan sekadar penghentian tembak-menembak. Usulan itu juga mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. AS masih mempelajari rincian proposal ini, dan Washington meminta Israel untuk tidak mengambil langkah yang dapat menggagalkan upaya diplomasi. Namun, Israel tetap meningkatkan kesiagaan militer, bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik skala penuh. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan di antara pihak-pihak yang bertikai sudah sangat tipis.

Dikutip dari viva.co.id, Amerika Serikat tetap menyiapkan berbagai langkah antisipasi apabila proses perundingan gagal. Laporan Axios menyebut Washington mempersiapkan sejumlah opsi sambil menunggu perkembangan pembahasan proposal. Ini adalah sikap yang realistis, karena sejarah telah membuktikan bahwa perjanjian seringkali dilanggar oleh pihak yang sama. Israel, di sisi lain, telah meningkatkan status kesiagaan menyusul situasi keamanan yang masih belum menentu. Pasukan Israel bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik yang dapat berkembang menjadi kampanye militer berskala penuh.

Kita sebagai umat Islam harus melihat ini dengan mata yang jernih. Selama ini, Israel selalu melanggar kesepakatan dan terus melakukan agresi, bahkan saat sedang berunding. Mereka menggunakan waktu untuk memperkuat posisi, bukan untuk mencari perdamaian. Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada kata "damai" bagi penjajah selama mereka masih memiliki kekuatan. Perundingan hanya menjadi taktik untuk mengulur waktu dan mengelabui dunia internasional. Rakyat Palestina terus menjadi korban, sementara negara-negara besar sibuk dengan permainan diplomasi mereka.

Dalam ajaran Islam, kita diajarkan untuk tidak pernah berdamai dengan kezaliman. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 39, "Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada fitnah lagi dan (sampai) agama itu hanya bagi Allah semata." Ini bukan berarti kita harus selalu berperang, tetapi kita tidak boleh tunduk pada penindasan. Jika musuh terus melanggar perjanjian, maka perlawanan adalah pilihan yang sah. Iran, dengan segala kemampuannya, telah menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam. Mereka telah menghancurkan jet tempur AS di Yordania dan membuktikan bahwa kekuatan militer mereka tidak bisa dianggap remeh.

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Jangan pernah berhenti berjuang, dan jangan pernah percaya pada janji-janji palsu mereka. Perang sampai akhir adalah pilihan yang lebih mulia daripada perundingan yang hanya akan memperpanjang penderitaan. Aamiin.

#GencatanSenjata #KonflikIranIsrael #ASmediator #SelatHormuz #Diplomasi #Perlawanan #IranTangguh #Palestina #Keadilan #PerangSampaiAkhir