Saat Jalan Halal Dipermudah, Kenapa Masih Ditunda?
Banyak anak muda rela mengantre berjam jam demi konser. Rela menabung bertahun tahun demi liburan ke luar negeri. Namun, ketika berbicara tentang pernikahan, kalimat yang sering muncul justru, "Nanti dulu, masih ribet."
Padahal, sering kali yang rumit bukan prosesnya, melainkan rasa takut yang dibesarkan oleh pikiran sendiri.
Kabar dari Jepang ini menjadi pengingat bahwa jika ada kemauan, selalu ada jalan untuk mempermudah yang halal.
Pada Minggu, 19 Juli 2026, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo mencatat sejarah dengan menggelar Akad Nikah Bersama pertama bagi warga negara Indonesia di Sapporo, Hokkaido. Acara yang berlangsung di Masjid Sapporo ini merupakan hasil kolaborasi KBRI Tokyo bersama Majelis Wakil Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (MWCINU) Hokkaido, Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Hokkaido, Komunitas Ngaji Kuy, Sahabat Hokkaido Indonesia (SaHI), dan Pengajian Muslimah Sakura.
Sebanyak delapan pasangan mengikuti akad nikah tersebut. Dua pasangan merupakan sesama WNI, sementara enam pasangan lainnya adalah pernikahan antara WNI dan warga Jepang. Program ini menjadi layanan "jemput bola" agar WNI yang tinggal jauh dari Tokyo tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk mengurus akad nikah ke ibu kota Jepang atau bahkan pulang ke Indonesia.
Bagi banyak orang, ini mungkin sekadar berita pelayanan publik. Namun, jika dilihat lebih dalam, pesannya jauh lebih besar.
Islam tidak pernah ingin mempersulit pernikahan. Manusialah yang sering membuatnya rumit. Rasulullah saw. bersabda: "Nikah yang paling besar keberkahannya adalah yang paling mudah biayanya." (HR. Ahmad)
Hadis ini terasa relevan di tengah fenomena anak muda yang menunda menikah karena mengejar pesta mewah, standar hidup tinggi, atau takut dianggap belum mapan. Tidak sedikit yang akhirnya memilih hubungan tanpa kepastian selama bertahun tahun. Padahal, kepastian adalah salah satu bentuk perlindungan yang diberikan Islam kepada laki laki dan perempuan.
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa Islam memudahkan akad nikah karena tujuan utamanya adalah menjaga kehormatan manusia. "Jangan dipersulit sesuatu yang Allah mudahkan. Yang penting syarat dan rukunnya terpenuhi."
Pesan itu tercermin dalam langkah KBRI Tokyo. Negara hadir bukan hanya untuk mengurus dokumen, tetapi juga membantu warganya menjalankan syariat dengan lebih mudah.
Program ini menjadi penting karena jumlah WNI di Hokkaido terus bertambah. Data KBRI menunjukkan, hingga Desember 2025 terdapat sekitar 12.841 WNI di wilayah tersebut, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 8.711 orang. Mayoritas bekerja sebagai peserta Technical Intern Training Program (TITP), Special Skilled Worker (SSW), tenaga perawat, caregiver, pekerja konstruksi, peternakan, pertanian, hingga mahasiswa di Hokkaido University.
Artinya, semakin banyak anak muda Indonesia yang membangun masa depan jauh dari Tanah Air. Semakin besar pula kebutuhan akan layanan keagamaan dan administrasi yang mudah diakses.
Namun, ada pelajaran yang lebih luas daripada sekadar angka. Hari ini, banyak orang menganggap menikah harus menunggu semua sempurna. Harus punya rumah. Harus punya mobil. Harus punya tabungan ratusan juta.
Masalahnya, hidup tidak pernah benar benar sempurna. Kalau menunggu semua lengkap, bisa jadi usia terus berjalan, sementara hati semakin lelah karena hubungan yang tak kunjung memiliki arah.
Islam menawarkan cara berpikir yang berbeda. Menikah bukan garis finis setelah semuanya siap. Menikah justru awal perjalanan untuk saling bertumbuh dan saling menguatkan.
Allah Swt. berfirman: "Dan di antara tanda tanda kebesaran Nya ialah Dia menciptakan pasangan pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar Rum: 21)
Ayat ini tidak mengatakan bahwa ketenangan datang setelah seseorang menjadi kaya. Ketenteraman justru lahir dari ikatan yang dibangun di atas iman, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Tentu, menikah bukan keputusan yang boleh tergesa gesa. Kesiapan mental, ilmu, dan kemampuan menafkahi tetap menjadi syarat penting. Namun, kesiapan berbeda dengan kesempurnaan.
Langkah KBRI Tokyo menunjukkan bahwa ketika berbagai pihak mau bekerja sama, jalan menuju yang halal bisa dibuat lebih mudah. NU, Muhammadiyah, komunitas muslim, hingga pemerintah bergerak bersama untuk melayani umat.
Di tengah dunia yang sering mempromosikan hubungan tanpa komitmen, kabar dari Sapporo ini justru membawa pesan yang menenangkan. Jangan biasakan menunda yang halal, lalu terbiasa dengan yang tidak jelas. Karena cinta yang paling indah bukan yang paling lama dijalani tanpa status, melainkan yang berani diikat dengan tanggung jawab di hadapan Allah.
#Nikah #KBRITokyo #Jepang #MuslimMuda #PernikahanIslam #Hijrah #RelationshipGoals #Islam #ArRumAyat21 #GenZMuslim