Pernikahan sering dibayangkan sebagai kisah cinta yang penuh bunga, kejutan romantis, dan momen-momen manis. Padahal, seiring bertambahnya usia, fondasi yang membuat sebuah hubungan tetap bertahan bukan lagi sekadar rasa berbunga-bunga, melainkan kualitas persahabatan antara suami dan istri.

Pesan itu yang disampaikan motivator parenting sekaligus konselor keluarga, Cahyadi Takariawan. Menurutnya, pasangan yang mampu menjadi sahabat bagi pasangannya akan lebih mudah menikmati perjalanan rumah tangga hingga usia senja.

Bagi anak muda yang sedang mempersiapkan pernikahan atau baru membangun rumah tangga, pandangan ini menjadi pengingat bahwa cinta bukan hanya tentang chemistry, tetapi juga tentang kemampuan berteman dengan pasangan.

Yang harus dipahami, pada masa pengantin baru hubungan suami istri umumnya dipenuhi semangat dan gejolak cinta yang kuat. Fase ini dikenal sebagai mawadah, yaitu kasih sayang yang hangat dan penuh gairah.

Namun, waktu akan mengubah dinamika hubungan. Ketika usia bertambah dan aktivitas fisik mulai berkurang, hubungan tidak lagi didominasi oleh rasa yang menggebu. Justru pada fase inilah muncul rahmah, yaitu kasih sayang yang semakin dalam, matang, dan penuh kelembutan.

Rahmah tercermin dari kemampuan suami dan istri untuk menjadi sahabat terbaik satu sama lain. Mereka saling menemani, mendengarkan, memahami, serta hadir dalam berbagai keadaan, tanpa menuntut hubungan selalu terasa spektakuler.

Menurut Cahyadi, hanya sahabat sejati yang bersedia mendengarkan cerita yang sama berulang kali dengan penuh kesabaran. Hal ini sering terlihat pada pasangan lansia. Karena pengalaman baru semakin sedikit, topik pembicaraan mereka kerap mengulang kenangan-kenangan lama.

Sebaliknya, pasangan muda biasanya memiliki banyak cerita baru. Aktivitas yang beragam, pekerjaan, studi, hingga pengalaman sehari-hari membuat obrolan terasa dinamis. Namun, kondisi itu tidak akan berlangsung selamanya.

Karena itu, anak muda sebaiknya mulai membangun kebiasaan berteman dengan pasangan sejak awal pernikahan. Tidak hanya berbagi kebahagiaan, tetapi juga belajar menjadi pendengar yang baik, menghargai pendapat pasangan, serta menikmati kebersamaan tanpa harus selalu diwarnai hiburan atau sensasi baru.

Bayangkan sepasang suami istri yang telah menghabiskan puluhan tahun bersama. Mereka duduk berdampingan menikmati secangkir teh hangat pada pagi atau sore hari. Cerita yang disampaikan mungkin sudah berkali-kali diulang, tetapi tetap didengarkan dengan senyum dan kesabaran. Kehangatan itu lahir bukan semata karena cinta romantis, melainkan karena mereka telah menjadi sahabat seumur hidup.

Di tengah budaya anak muda yang sering mengejar hubungan serba instan dan penuh validasi media sosial, kualitas persahabatan justru menjadi investasi terbesar dalam pernikahan. Sebab, romantisme bisa berubah seiring waktu, tetapi persahabatan yang dibangun dengan kepercayaan, komunikasi, dan saling menghargai akan menjadi bekal untuk menua bersama dalam kebahagiaan.

 

Foto: Pexels

 

#Pernikahan #PersahabatanSuamiIstri #AnakMuda #RelationshipGoals #KeluargaHarmonis #MawadahWarahmah #CahyadiTakariawan #Parenting #InspirasiPernikahan #Romantisme