Penyelenggaraan pesta olahraga terbesar sejagat selalu menyedot perhatian miliaran pasang mata di seluruh penjuru bumi. Namun, ketika ajang megah sekelas Piala Dunia meninggalkan jejak kontroversi yang berlarut-larut, gelombang kritik tajam tidak dapat dihindari lagi. Sorotan keras kini tertuju langsung pada pucuk pimpinan organisasi sepak bola dunia, di mana desakan agar Presiden FIFA Gianni Infantino meletakkan jabatannya mengema sangat kencang. Berbagai dugaan kejanggalan, mulai dari isu diskriminasi, rasisme, nepotisme, hingga persoalan transparansi tata kelola yang disaksikan langsung oleh masyarakat global, menjadi pemicu utama yang membakar amarah publik sports mania di berbagai belahan dunia.

Peristiwa riyuh di panggung olahraga internasional ini sejatinya menyimpan ikhtiar reflektif yang sangat mendalam jika ditinjau dari perspektif tatanan moral dan etika Islam. Sebuah perhelatan kolosal yang sejatinya menjadi ajang pemersatu peradaban manusia justru berubah menjadi panggung kecaman ketika nilai-nilai keadilan dan kejujuran dikesampingkan. Islam meletakkan keadilan sosial dan penolakan terhadap segala bentuk kecurangan sebagai fondasi paling mendasar dalam setiap bentuk kepemimpinan maupun pengelolaan urusan publik, baik di tingkat lokal maupun internasional.

Ketika praktik diskriminasi dan rasisme masih mewarnai panggung dunia, Islam secara tegas telah meruntuhkan tembok rasialisme tersebut sejak puluhan abad yang lalu. Rasulullah SAW dalam Khutbah Wada yang sangat monumental menegaskan bahwa tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula bagi orang berkulit putih atas orang berkulit hitam, melainkan hanya berdasarkan ketakwaan. Penilaian terhadap harkat dan martabat seseorang diukur dari kebaikan serta kebersihan hatinya, bukan dari warna kulit, asal-usul kebangsaan, maupun tumpukan harta kekayaan yang dimilikinya.

Prinsip kesetaraan dan larangan keras terhadap perbuatan diskriminatif serta kesombongan ini tercantum secara anggun dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman bangsa dan suku bangsa diciptakan oleh Allah SWT agar manusia saling mengenal, saling melengkapi, dan saling menghormati, bukan untuk saling menindas, merasa paling unggul, atau berlaku culas antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Gejolak mengenai desakan mundur pimpinan tertinggi badan sepak bola tersebut dikutip dari pemberitaan VIVA, yang mengulas secara mendalam bagaimana kekecewaan publik memuncak akibat berbagai tuduhan penyelewengan yang mencederai nilai-nilai sportivitas. Penyelenggaraan acara berskala internasional membutuhkan transparansi penuh, karena setiap tindakan yang tidak jujur pada akhirnya akan terkuak dan memicu kehancuran reputasi di hadapan khalayak ramai.

Namun, jika kita menyelami lebih jauh ke dalam khazanah hikmah Islami, ada satu konsep yang sangat unik dan berbeda untuk merenungi fenomena ini, yaitu konsep al-Muwasat atau rasa empati kepedulian universal yang dipadukan dengan kepekaan nurani (fithrah). Di dalam Islam, sebuah kepemimpinan atau kepengurusan acara besar bukan sekadar panggung pamer kemewahan atau alat memuaskan ego dan kerakusan kelompok tertentu. Kepemimpinan adalah manifestasi pengabdian sosial yang menuntut kepekaan terhadap perasaan dan hak-hak orang banyak.

Ketika sebuah lembaga global terjebak dalam perangkap egoisme, keangkuhan, dan kerakusan materialistis, sejatinya lembaga tersebut sedang mengalami krisis spiritual dan kebangkrutan etika. Kebatilan dan tindakan semena-mena tidak akan pernah bisa bertahan lama, sebab alam semesta diciptakan Allah SWT di atas hukum keseimbangan dan keadilan. Dalam ajaran Islam, setiap tindakan penyelewengan dan kedzaliman yang tersembunyi kelak akan disingkapkan, baik melalui mekanisme kontrol sosial manusia di dunia maupun dalam pertanggungjawaban mutlak di akhirat kelak.

Rasulullah SAW memberikan pengingat yang sangat tajam mengenai dampak buruk dari perbuatan zalim dan kecurangan melalui sabda beliau:

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Hadis shahih ini menegaskan bahwa kedzaliman dan kecurangan akan menjadi kegelapan yang gulita bagi pelakunya pada hari kiamat. Kegelapan itu tidak hanya berwujud sanksi di akhirat, tetapi sering kali ditunjukkan Allah SWT di dunia berupa hilangnya rasa hormat masyarakat, kehancuran nama baik, serta kegelisahan hidup yang tak berkesudahan akibat sirnanya keberkahan.

Hikmah unik lainnya yang dapat kita petik dari kehebohan panggung olahraga dunia ini adalah pentingnya menjaga integritas personal di tengah godaan kekuasaan dan materi yang sangat besar. Kesederhanaan jiwa dan kejujuran adalah perisai paling ampuh agar seseorang tidak mudah tergiur melakukan nepotisme atau korupsi. Orang yang memiliki ketenangan batin tidak akan silau oleh kemewahan sesaat yang didapat dari cara-cara yang merugikan publik.

Untuk menjaga diri dari godaan kerakusan, kesombongan, serta penyalahgunaan wewenang, para cendekiawan muslim mengajarkan doa yang terkandung dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 80 untuk selalu dilafalkan oleh setiap orang yang mengemban tugas publik:

رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا

Doa ini mengandung permohonan yang amat mendalam agar Allah SWT membimbing setiap langkah hidup kita masuk dan keluar dalam keadaan jujur dan benar, serta memohon agar dianugerahi kekuasaan atau kemampuan yang senantiasa menolong kebaikan dan menegakkan keadilan.

Pelajaran berharga dari panggung dunia ini menjadi pengingat bagi siapa saja di antara kita bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari seberapa megah acara yang dibuat atau seberapa tinggi posisi yang diduduki, melainkan dari seberapa bersih nilai-nilai kejujuran, kesetaraan, dan keadilan yang diterapkan dalam setiap tindakan. Ketika integritas moral dijaga dengan sungguh-sungguh, maka kehormatan dan kedamaian akan senantiasa mengiringi langkah perjalanan hidup manusia.

Guncangan hebat yang menerpa pimpinan tertinggi organisasi sepak bola dunia usai ajang Piala Dunia menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga integritas dan keadilan, sebagaimana dikutip dari laporan berita VIVA. Dari kacamata Islam, segala bentuk kecurangan, diskriminasi, dan keangkuhan merupakan tindakan zalim yang mencederai nilai kesetaraan manusia serta merusak kepercayaan publik. Mari kita jadikan fenomena ini sebagai pengingat untuk senantiasa mengutamakan kejujuran dan ketulusan dalam setiap amanat kehidupan yang kita jalani demi menghadirkan keberkahan bersama.

 

Foto: Reuters/ Ivan Vucci

#IntegritasMoral #KeadilanSosial #IslamDanEtika #StopDiskriminasi #HikmahKehidupan #PelajaranDunia #KejujuranAdalahKunci #PesanPendakwah #MencariKeberkahan #PemberdayaanUmat