Cara Teuku Wisnu & Shireen Sungkar Ajarkan Anak Cinta Akhirat
Kalimat "Nak, jangan main hp terus" mungkin diucapkan ribuan orang tua setiap hari.
Ironisnya, nasihat itu sering keluar sambil tangan orang tuanya sendiri sibuk menggulir layar ponsel.
Di sinilah banyak orang tua tanpa sadar keliru. Mereka berharap anak mendengar apa yang diucapkan, padahal anak lebih cepat meniru apa yang dilihat.
Anak tidak belajar menjadi baik dari ceramah yang panjang. Mereka belajar dari kebiasaan yang hidup di rumah.
Prinsip inilah yang terlihat dalam cara Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar membesarkan ketiga anak mereka. Bagi pasangan ini, parenting bukan sekadar mengajari anak pintar membaca atau berprestasi di sekolah. Yang lebih penting adalah membentuk hati yang mengenal Allah dan peduli kepada sesama.
"Investasi terbesar bukan untuk dunia, tetapi untuk akhirat," menjadi nilai yang terus mereka tanamkan dalam keluarga.
Salah satu caranya adalah mengenalkan empati sejak usia dini.
Shireen Sungkar pernah bercerita bahwa ia dan Teuku Wisnu mengajak anak-anak memahami kondisi saudara muslim di Palestina. Mereka tidak hanya bercerita, tetapi juga memperlihatkan video dan menjelaskan bahwa banyak anak seusia mereka hidup di tengah perang dan kehilangan keluarga.
Tujuannya bukan membuat anak sedih.
Tujuannya agar mereka belajar bersyukur.
Menurut Shireen, ketika anak melihat bahwa ada orang lain yang hidup jauh lebih sulit, mereka akan lebih mudah memahami mengapa berbagi itu penting.
Cara ini jauh lebih efektif daripada sekadar berkata, "Ayo bersedekah."
Empati tidak lahir dari perintah. Empati tumbuh dari pengalaman.
Pelajaran itu kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata.
Putra sulung mereka, Adam, pernah melelang mainan dinosaurus kesayangannya untuk membantu pembangunan masjid Indonesia pertama di Yokohama.
Bukan karena dipaksa.
Melainkan karena kedua orang tuanya mengajak berdialog bahwa sesuatu yang paling dicintai justru bisa menjadi amal terbaik ketika diberikan karena Allah.
Allah Swt. berfirman,
"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai." (QS. Ali 'Imran: 92)
Ayat ini bukan hanya untuk orang dewasa.
Anak-anak pun bisa belajar maknanya melalui pengalaman sederhana di rumah.
Pelajaran berikutnya adalah tentang komunikasi.
Shireen mengakui mendidik anak tidak bisa dilakukan dengan emosi atau berharap mereka langsung memahami semua nasihat. Anak membutuhkan proses. Karena itu, ia lebih memilih mengajak anak berdiskusi daripada sekadar memberi perintah.
Pendekatan seperti ini juga dicontohkan Rasulullah saw. Beliau mendidik dengan kelembutan, memberi alasan, mendengar, lalu membimbing sesuai kemampuan orang yang dihadapinya.
Teuku Wisnu pun beberapa kali mengingatkan bahwa kegagalan parenting sering kali bukan karena anak sulit diatur. Melainkan karena orang tua lupa memperbaiki dirinya sendiri.
Ia pernah mengatakan, "Orang tua juga bisa durhaka kepada anak, yaitu ketika tidak mengajarkan agama kepada mereka."
Kalimat itu terasa menohok.
Hari ini, banyak orang tua rela menghabiskan jutaan rupiah untuk kursus bahasa asing, tetapi menunda mengenalkan Al-Qur'an. Bangga ketika anak lancar berbicara bahasa Inggris, tetapi belum lancar membaca surah pendek. Padahal keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Yang dibutuhkan adalah keseimbangan.
Allah Swt. berfirman, "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan agama bukan tugas tambahan setelah semua urusan dunia selesai. Justru itulah fondasi yang harus dibangun sejak awal.
Keluarga Teuku Wisnu dan Shireen menghadapi kondisi istimewa ketika putri bungsu mereka, Cut Shafiyyah Mecca Al Fatih, didiagnosis berada dalam spektrum autisme.
Alih-alih menutupinya, mereka memilih berbagi agar bisa menjadi penguat bagi orang tua lain.
Shireen mengaku sempat menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Namun, ia kemudian menyadari bahwa setiap anak memiliki jalan tumbuh yang berbeda.
Bersama Teuku Wisnu, ia rutin mendampingi Shafiyyah menjalani terapi agar sang putri memperoleh penanganan yang lebih intensif. Mereka memilih fokus pada perkembangan kecil yang berhasil dicapai, bukan terus membandingkan dengan anak lain.
Sikap ini mengajarkan satu hal yang sering terlupakan. Setiap anak berkembang dengan waktunya sendiri. Yang tidak boleh tertinggal adalah kasih sayang orang tuanya.
Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kelembutan itulah yang menjadi benang merah dalam pola asuh Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar.
Mereka tidak berusaha menjadi orang tua yang sempurna. Mereka hanya berusaha menjadi teladan yang terus belajar. Karena pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu benar.
Anak membutuhkan orang tua yang setiap hari menunjukkan bagaimana menjadi manusia yang terus memperbaiki diri.
Foto: Instagram/@shireensungkar
#ParentingIslami #TeukuWisnu #ShireenSungkar #PendidikanAnak #KeluargaMuslim #Parenting #Sedekah #Autisme #AkhlakAnak #InspirasiKeluarga