Wali Kota New York Diserang Usai Singgung Gaza
Pernyataan Wali Kota New York Zohran Mamdani untuk memperingati tiga tahun serangan Hamas terhadap Israel memicu kontroversi. Ia menyampaikan duka bagi warga Israel yang tewas pada 7 Oktober 2023, tetapi juga menyoroti penderitaan warga Palestina akibat serangan militer Israel di Gaza.
Pernyataan yang dirilis pada Rabu itu menuai kritik dari Anti-Defamation League (ADL), organisasi yang memerangi antisemitisme. ADL menilai Mamdani tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap penderitaan orang Yahudi dalam serangan Hamas. Konsul Jenderal Israel di New York, Ofir Akunis, juga mengecam pernyataan tersebut.
Di sisi lain, demonstran pro-Palestina justru memprotes Mamdani di depan Balai Kota New York. Mereka menilai wali kota itu terlalu mengalah terhadap tekanan politik terkait sikapnya terhadap Zionisme. Kontroversi ini memperlihatkan betapa sulitnya seorang pemimpin menyampaikan sikap tentang tragedi 7 Oktober sekaligus penderitaan warga Gaza tanpa menghadapi kritik dari berbagai pihak.
Apa yang Disampaikan Mamdani?
Dalam pernyataannya, Mamdani mengakui serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 sebagai kejahatan perang. Ia menyebut lebih dari 1.100 warga Israel tewas dan 251 orang diculik. Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang masih menanggung kehilangan akibat serangan tersebut.
Namun, Mamdani menegaskan bahwa penderitaan warga Palestina tidak dimulai pada hari itu dan tidak berakhir setelahnya. Ia menyoroti jumlah korban jiwa di Gaza, termasuk lebih dari 21.000 anak menurut angka yang dikutipnya, serta korban yang terus berjatuhan setelah gencatan senjata pada Oktober 2025.
Mamdani juga mengkritik dukungan pemerintah federal Amerika Serikat terhadap Israel, terutama pengiriman senjata yang menurutnya turut mendukung kejahatan perang. Ia menggunakan istilah genosida, pendudukan, dan apartheid untuk menggambarkan tindakan pemerintah Israel. Istilah-istilah tersebut merupakan penilaian politik yang disampaikan Mamdani, bukan putusan hukum yang ditetapkan dalam pernyataan itu.
Pesan utama Mamdani adalah bahwa penghormatan kepada korban seharusnya mendorong dunia memperjuangkan kebebasan, keamanan, dan martabat setiap manusia.
ADL dan Pejabat Israel Melontarkan Kritik
Jonathan Greenblatt, pimpinan ADL, menilai pernyataan Mamdani tidak secara eksplisit menyebut orang Yahudi sebagai kelompok yang menjadi korban serangan 7 Oktober. Ia juga menuduh Mamdani memanfaatkan hari berkabung untuk menyampaikan kritik terhadap Zionisme.
Konsul Jenderal Israel di New York, Ofir Akunis, menyebut pernyataan tersebut menghina ingatan para korban. Ia menilai Mamdani mengabaikan beratnya tragedi yang menimpa warga Israel, termasuk pembunuhan warga sipil dan penyanderaan.
Jack Simony, pimpinan Auschwitz Jewish Center Foundation, mengambil posisi yang lebih bernuansa. Ia mengakui penderitaan besar warga Palestina akibat perang, tetapi menegaskan bahwa masyarakat Yahudi juga perlu mendapat ruang untuk berduka atas korban serangan Hamas tanpa kesedihan mereka terus dikaitkan dengan kritik terhadap Israel.
Gubernur New York Kathy Hochul pun menekankan kekejaman serangan 7 Oktober dan penderitaan keluarga korban penyanderaan. Sementara itu, demonstran pro-Palestina yang berkumpul di depan Balai Kota justru menilai Mamdani terlalu mengalah terhadap tekanan politik sejak menjabat wali kota.
Mengapa Pernyataan Ini Menjadi Sorotan?
Kontroversi ini menunjukkan betapa tajamnya perbedaan pandangan tentang cara mengenang tragedi 7 Oktober dan menilai perang di Gaza. Sebagian pihak menganggap peringatan serangan Hamas harus berfokus pada korban Israel. Pihak lain menilai penderitaan warga Palestina juga harus mendapat perhatian, terutama ketika korban terus berjatuhan.
Keduanya menyangkut persoalan kemanusiaan yang nyata. Serangan terhadap warga sipil, penyanderaan, dan kekerasan seksual tidak dapat dibenarkan. Demikian pula, penderitaan warga sipil Palestina, kematian anak-anak, kehancuran rumah sakit, serta hambatan bantuan kemanusiaan tidak boleh diabaikan.
Mamdani menghadapi kritik dari dua arah karena berusaha mengangkat kedua sisi penderitaan tersebut, tetapi juga memasukkan kecaman keras terhadap kebijakan Israel dalam pernyataan peringatan. Perdebatan ini memperlihatkan bahwa pemilihan kata seorang pemimpin dapat memengaruhi bagaimana masyarakat memahami korban, tanggung jawab, dan keadilan.
Pertanyaan yang lebih mendasar ialah apakah penghormatan kepada satu kelompok korban harus mengurangi perhatian terhadap kelompok korban lainnya. Kematian warga Israel pada 7 Oktober 2023 layak dikenang. Kehidupan warga Palestina yang hilang selama perang juga layak mendapat perhatian dan keadilan. Mengakui penderitaan satu pihak tidak mengharuskan dunia menutup mata terhadap penderitaan pihak lain.
Bagi masyarakat internasional, tantangannya bukan menentukan siapa yang paling pantas berduka. Tantangannya ialah memastikan bahwa kehilangan nyawa manusia tidak dijadikan alasan untuk membenarkan kekerasan berikutnya. Perdamaian membutuhkan keberanian untuk mengakui penderitaan semua korban, menuntut pertanggungjawaban atas pelanggaran, dan melindungi hak setiap manusia untuk hidup aman dan bermartabat.
Foto: Instagram @ncmayor
#ZohranMamdani #NewYork #Palestina #Gaza #Israel #Hamas #Kemanusiaan #Perdamaian #HakAsasiManusia #DamaiIndonesiaku