Tiga Tahun Gaza, Luka yang Tak Bisa Sembuh
Tiga tahun hidup di tengah perang telah meninggalkan luka yang tidak terlihat pada warga Gaza. Anak-anak kehilangan keluarga, orang tua kehilangan rumah, dan mereka yang selamat harus menghadapi trauma setiap kali mendengar suara pesawat nirawak atau ledakan bom. Bagi mereka, perang bukan sekadar kenangan buruk. Ancaman yang sama masih membayangi kehidupan sehari-hari.
Dampak perang terhadap kesehatan mental warga Palestina di Gaza menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian dunia. Jutaan anak membutuhkan dukungan psikososial, sementara banyak orang dewasa berjuang menghadapi kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).
Kesaksian seorang penyintas yang mengajar bahasa Inggris di Gaza menggambarkan bagaimana kekerasan berkepanjangan merenggut rasa aman, bahkan setelah seseorang berhasil bertahan hidup. Ia kehilangan kerabat, teman, dan murid-muridnya. Salah satu pengalaman paling menyakitkan adalah menemukan Mohammed, muridnya yang baru berusia delapan tahun, meninggal di bawah reruntuhan bangunan.
Trauma Gaza Tak Berakhir Saat Bom Berhenti
Kesaksian tersebut menggambarkan kenyataan yang kerap luput dari perhatian. Perang tidak hanya menghancurkan bangunan dan merenggut nyawa. Perang juga merusak rasa aman, mengganggu kemampuan seseorang menjalani kehidupan sehari-hari, dan meninggalkan ketakutan yang bisa bertahan bertahun-tahun.
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkuat gambaran itu. Pada Maret 2026, UNFPA menyebut lebih dari satu juta anak di Gaza membutuhkan layanan kesehatan mental dan dukungan psikososial. Sebanyak 96 persen anak yang menjadi bagian dari data tersebut merasa kematian sudah dekat. Di kalangan remaja dan anak muda, sekitar 61 persen mengalami PTSD, 38 persen mengalami depresi, dan 41 persen mengalami kecemasan.
Angka-angka itu menunjukkan besarnya kebutuhan bantuan psikologis. Namun, statistik tidak sepenuhnya mampu menjelaskan pengalaman seseorang yang setiap hari menghadapi ancaman kematian, kehilangan orang terdekat, dan tidak mengetahui kapan kehidupan akan kembali aman.
Bagi penyintas tersebut, trauma bahkan terasa seperti pecahan peluru yang tertinggal di dalam tubuh. Dadanya menegang ketika pesawat nirawak melintas. Tangannya gemetar saat mendengar suara tembakan. Ia sulit berkonsentrasi, kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana, dan membaca buku untuk mengalihkan pikirannya dari bayangan kematian.
Pengalaman semacam ini memperlihatkan bahwa selamat secara fisik tidak selalu berarti seseorang telah pulih. Sebagian penyintas juga menghadapi survivor's guilt, yaitu perasaan bersalah karena dirinya masih hidup sementara keluarga, teman, atau orang-orang yang dicintainya meninggal.
Lebih dari 74 Ribu Nyawa Melayang
Krisis kesehatan mental tersebut berlangsung di tengah kehancuran fisik yang masif. Memasuki tiga tahun sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023, jumlah warga Palestina yang dilaporkan meninggal di Gaza telah melampaui 74.000 orang.
Menurut laporan kantor berita Palestina WAFA pada 3 Oktober 2026, yang mengutip sumber medis, jumlah korban meninggal mencapai 74.228 orang. Sebanyak 175.188 orang dilaporkan terluka. Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, sedikitnya 1.445 orang meninggal dunia.
Angka tersebut terus berubah seiring berlanjutnya kekerasan dan proses pendataan korban. Di balik setiap angka, ada keluarga yang kehilangan anggota keluarga, anak yang tumbuh tanpa orang tua, serta orang tua yang harus menjalani hidup setelah kehilangan anaknya.
Kondisi ini juga memperlihatkan pentingnya akses terhadap layanan kesehatan, tempat tinggal yang layak, pendidikan, dan bantuan kemanusiaan. Pemulihan mental akan sulit berlangsung ketika seseorang masih menghadapi ancaman, hidup dalam pengungsian, atau tidak dapat mengakses kebutuhan dasar.
Dukungan psikososial perlu berjalan bersama upaya melindungi warga sipil dan memulihkan kehidupan mereka. Anak-anak membutuhkan ruang aman untuk belajar dan bermain. Keluarga yang kehilangan orang tercinta membutuhkan pendampingan. Tenaga kesehatan dan pekerja kemanusiaan juga memerlukan dukungan agar dapat terus membantu masyarakat.
Ketika Dunia Tak Lagi Terasa Nyata
Ada satu bagian dari kesaksian penyintas Gaza yang terasa sangat menyakitkan. Ia mengaku tidak lagi membaca buku untuk memperkaya pengetahuan, melainkan untuk melupakan apa yang telah dilihatnya. Fiksi pun tidak lagi mampu mengejutkan dirinya karena kenyataan yang dialaminya terasa jauh lebih mengerikan.
Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa perang meninggalkan dampak yang tidak selesai hanya dengan menghitung jumlah korban atau membangun kembali rumah yang hancur. Ada kehidupan batin yang ikut porak-poranda dan membutuhkan waktu, rasa aman, serta pertolongan nyata untuk pulih.
Tiga tahun penderitaan di Gaza semestinya mendorong dunia untuk melihat warga Palestina sebagai manusia dengan hak untuk hidup aman, memperoleh layanan kesehatan, belajar, dan memiliki masa depan.
Bagi mereka yang masih bertahan, harapan tidak cukup hadir dalam pernyataan politik atau janji perdamaian. Harapan harus terlihat dalam perlindungan warga sipil, akses bantuan kemanusiaan, penghentian kekerasan, dan kesempatan bagi anak-anak untuk kembali menjalani kehidupan tanpa dihantui ketakutan.
Sebab, ketika seorang anak merasa kematian bisa datang kapan saja, persoalannya bukan sekadar trauma yang harus disembuhkan. Ada kebutuhan mendesak untuk memastikan bahwa hidupnya benar-benar aman.
Foto: Reuters
#Gaza #Palestina #Kemanusiaan #KesehatanMental #TraumaPerang #AnakGaza #SolidaritasPalestina #Perdamaian #KrisisKemanusiaan #DamaiIndonesiaku