Allah Sudah Beri Segalanya, Mengapa Masih Berpaling?
Kadang manusia terlalu sibuk mengejar apa yang belum dimiliki sampai lupa menghitung apa yang sudah diberikan Allah Swt. Setiap hari kita menghirup udara, berpijak di bumi, menikmati air, makan dari hasil tanaman, dan hidup di bawah langit. Semua itu terasa biasa karena hadir setiap hari.
Al-Qur’an mengajak kita melihat semua kenikmatan tersebut dengan cara berbeda. Salah satunya melalui Surah Al-Baqarah ayat 22. Ayat ini tidak sekadar menjelaskan tentang bumi, langit, hujan, dan buah-buahan. Di dalamnya ada pesan besar tentang tauhid, rasa syukur, dan cara seorang muslim memandang kehidupan.
Allah Swt. berfirman:
الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءً ۖ وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya, “(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
Ada alur yang kuat dalam ayat ini. Allah menyebut bumi sebagai tempat manusia hidup, langit sebagai atap, air sebagai sumber kehidupan, lalu buah-buahan sebagai rezeki. Setelah menyebut semua nikmat tersebut, Allah memberikan perintah agar manusia tidak membuat tandingan bagi-Nya.
Menurut penjelasan tafsir Kementerian Agama, bumi dibuat layak dihuni, langit menjadi atap, dan air hujan menjadi sumber kehidupan yang menghasilkan berbagai buah sebagai rezeki. Semua itu seharusnya membawa manusia mengenal kekuasaan dan keesaan Allah Swt.
Apa maknanya bagi seorang muslim?
Pertama, tauhid tidak hanya diucapkan, tetapi harus terlihat dalam cara kita menjalani hidup.
Kalimat fa lā taj‘alū lillāhi andādā, jangan membuat tandingan bagi Allah, mengingatkan bahwa tidak boleh ada sesuatu yang menempati posisi Allah dalam ibadah dan penghambaan. Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini sebagai penegasan bahwa Allah adalah Pencipta sekaligus Pemberi rezeki, sehingga hanya Dia yang berhak disembah.
Kedua, rezeki perlu dilihat lebih luas.
Sering kali kita menyebut rezeki hanya ketika mendapatkan uang, pekerjaan, rumah, atau keuntungan. Padahal ayat ini mengajak manusia melihat air, buah-buahan, bumi yang bisa dihuni, dan berbagai fasilitas kehidupan sebagai bagian dari nikmat Allah.
Artinya, ketika pagi ini kamu masih bisa minum air, makan nasi, menghirup udara, bekerja, berkumpul dengan keluarga, dan pulang ke rumah dengan selamat, ada begitu banyak nikmat Allah yang sebenarnya sedang kamu gunakan.
Ketiga, syukur seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah.
Ayat ini menarik karena setelah menyebut berbagai nikmat, Allah tidak berhenti pada kalimat “bersyukurlah”. Allah justru mengingatkan manusia agar tidak menyekutukan-Nya.
Pesannya jelas. Nikmat seharusnya membawa manusia mengenal siapa Pemberi nikmat, bukan membuat manusia semakin lupa kepada-Nya.
Keempat, manusia diminta memperhatikan alam, bukan sekadar menikmatinya.
Tafsir Tahlili Kemenag menjelaskan bahwa manusia diperintahkan memperhatikan proses penciptaan, merenungkannya, mempelajarinya, lalu mengolahnya agar memberi manfaat bagi manusia dan kemanusiaan.
Ini membuat ayat tersebut relevan dengan kehidupan modern. Seorang muslim tidak cukup hanya menikmati hasil bumi. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk tidak merusaknya. Air yang menjadi sumber kehidupan tidak semestinya dicemari. Tanah yang menjadi tempat hidup tidak semestinya dieksploitasi tanpa batas.
Pada akhirnya, Surah Al-Baqarah ayat 22 mengajarkan cara melihat kehidupan. Bumi bukan sesuatu yang hadir tanpa makna. Air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Makanan bukan sekadar hasil belanja. Semua itu adalah tanda kekuasaan dan rezeki dari Allah Swt.
Ketika hati mulai merasa kekurangan, ayat ini mengajak kita berhenti sejenak. Lihat apa yang sudah ada. Rasakan nikmat yang selama ini dianggap biasa. Lalu tanyakan kepada diri sendiri, sudahkah semua nikmat itu membuat kita semakin mengenal dan menyembah Allah?
Sebab semakin banyak nikmat yang kita sadari, seharusnya semakin kuat pula keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya tempat manusia bergantung.
Foto: Pexels
#AlBaqarah #AlQuran #Islam #Muslim #Tauhid #TadaburQuran #AyatAlQuran #Rezeki #Syukur #DamaiIndonesiaku