Tidak mudah menjaga kepercayaan diri ketika untuk pertama kalinya harus berhadapan dengan pecatur dari berbagai negara di panggung sebesar Olimpiade Catur. Namun, Laysa Latifah memilih tidak memikirkan terlalu jauh hasil akhirnya. Ia fokus pada satu pertandingan, menikmati prosesnya, lalu mengevaluasi setiap hasil sebelum kembali duduk di depan papan catur.

Strategi sederhana itu membawa mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut pada pencapaian besar. Dalam debutnya di Olimpiade Catur FIDE ke-46 di Samarkand, Uzbekistan, Laysa berhasil meraih norma terakhir Woman Grandmaster (WGM). Jika gelarnya disahkan FIDE, ia akan menjadi pecatur putri Indonesia keempat yang menyandang gelar tersebut setelah Irene Kharisma Sukandar, Medina Warda Aulia, dan Dewi Ardhiani Anastasia Citra.

Olimpiade Catur FIDE ke-46 berlangsung pada 16 hingga 27 September 2026. Bagi Laysa, ajang tersebut memiliki arti khusus karena menjadi Olimpiade Catur pertamanya. Ia datang bukan sebagai pemain tanpa pengalaman. Sebelumnya, Laysa sudah menyandang gelar Woman International Master (WIM) dan membutuhkan satu norma lagi untuk melengkapi persyaratan menuju WGM.

Perjalanan menuju norma tersebut juga tidak berlangsung mudah. Laysa harus menghadapi lawan dengan pengalaman dan gelar internasional. Salah satu pertandingan penting terjadi ketika ia berhadapan dengan GM Elisabeth Paehtz dari Jerman. Laysa berhasil memenangkan pertandingan tersebut. Ia juga mencatat kemenangan atas WIM Bach Ngoc Thuy Duong dari Vietnam yang membantu memastikan norma terakhirnya.

Namun, tantangan terbesar yang dirasakan Laysa ternyata bukan hanya soal membaca posisi, menghitung variasi, atau menentukan langkah terbaik di atas papan.

Kepercayaan diri menjadi salah satu tantangan yang harus ia jaga.

Dalam wawancara dengan detikEdu, Laysa bercerita bahwa Olimpiade mempertemukannya dengan pemain-pemain terbaik dari berbagai negara. Kondisi tersebut membuatnya harus mampu menjaga fokus dan keyakinan pada kemampuan sendiri.

Alih-alih membebani diri dengan target besar, Laysa memilih menghadapi pertandingan satu demi satu. Ia berusaha menikmati setiap permainan dan memberikan kemampuan terbaik. Jika hasilnya kurang maksimal, ia melakukan evaluasi sebelum kembali berkonsentrasi menghadapi pertandingan berikutnya.

Cara berpikir tersebut menjadi penting dalam olahraga seperti catur. Satu kesalahan dapat mengubah jalannya pertandingan. Kekalahan dalam satu babak juga tidak boleh mengganggu konsentrasi untuk pertandingan selanjutnya.

Laysa menunjukkan bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Seorang atlet juga perlu mengelola tekanan, menerima hasil pertandingan, lalu kembali fokus.

Di balik pencapaian itu terdapat proses pembinaan yang sudah berlangsung sejak lama. Laysa tergabung dalam Pelatnas Junior Indonesia dan mendapatkan pembinaan dari sejumlah pelatih, termasuk GM Susanto Megaranto dan IM Tirta Chandra Purnama.

Dukungan juga datang dari dunia pendidikan. Sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNJ, Laysa mendapatkan beasiswa dari kampus yang membantu menunjang pendidikannya sekaligus perjalanan kariernya sebagai atlet.

Kini, perjuangan Laysa memasuki babak baru. Norma WGM terakhir sudah berhasil ia raih. Selangkah lagi, namanya akan tercatat sebagai salah satu pecatur putri Indonesia yang menyandang gelar Woman Grandmaster.

Perjalanannya menunjukkan bahwa prestasi besar sering kali tidak lahir dari satu pertandingan saja. Ada latihan bertahun-tahun, pembinaan, dukungan pendidikan, tekanan mental, hingga kemampuan untuk tetap bangkit setelah hasil yang tidak sesuai harapan.

Laysa juga memberikan pelajaran penting bagi siapa pun yang sedang mengejar target. Kamu tidak selalu bisa mengendalikan hasil akhir. Namun, kamu bisa mengendalikan cara menghadapi prosesnya.

Satu pertandingan diselesaikan dengan fokus. Hasilnya dievaluasi. Setelah itu, kembali melangkah.

Bagi Laysa, cara tersebut akhirnya membawanya ke panggung Olimpiade dan mendekatkannya pada gelar WGM. Bagi Indonesia, pencapaiannya membuka peluang lahirnya nama baru dalam sejarah catur putri nasional.

 

Foto: UNJ

 

#LaysaLatifah #CaturIndonesia #WomanGrandmaster #WGM #OlimpiadeCatur #UNJ #CaturPutri #AtletIndonesia #PrestasiIndonesia #Inspirasi