Handika Dany Rahmayanti, Perempuan Peraih Gelar Doktor Fisika Termuda di Usia 24
Tidak semua kegagalan membawa seseorang menjauh dari cita-cita. Kisah Handika Dany Rahmayanti atau Dika justru menunjukkan hal sebaliknya. Perempuan yang kini dikenal sebagai doktor fisika termuda versi rekor MURI itu awalnya sama sekali tidak membayangkan akan menekuni dunia fisika.
Saat lulus SMA, Dika justru lebih tertarik pada bidang kesehatan dan kimia. Ia mencoba berbagai jalur masuk perguruan tinggi. Mulai jalur rapor hingga tes universitas. Ia juga mencoba masuk politeknik dan Poltekkes. Namun, berkali-kali usahanya berakhir dengan kegagalan.
Dalam kondisi tersebut, Dika tetap ingin kuliah. Orang tuanya juga berharap ia bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri. Ia kemudian mulai mencari peluang. Dari berbagai pilihan jurusan, fisika akhirnya muncul sebagai jalan yang paling mungkin ditempuh.
Pilihan itu awalnya bukan lahir dari kecintaan pada fisika. Dika bahkan mengaku tidak tertarik dengan fisika ketika masih SMA karena menganggap pelajaran tersebut sulit. Namun, ia akhirnya diterima di Program Studi Fisika Universitas Negeri Semarang melalui jalur mandiri.
Di titik inilah cerita Dika berubah.
Ia tidak lagi sekadar menjalani jurusan yang tersedia. Dika mulai mencari cara agar bisa memahami dunia fisika. Ia membeli buku dan komik sains. Ia juga mengajar les fisika untuk anak-anak. Dari aktivitas tersebut, ketertarikannya terhadap fisika perlahan tumbuh.
"Saya sudah masuk ke kolam fisika, sehingga bagaimana caranya bisa sampai tepi," kata Dika kepada detikEdu ketika menceritakan proses tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan S1, kesempatan yang lebih besar datang. Dika mendapatkan beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul atau PMDSU. Program tersebut memungkinkan dirinya melanjutkan pendidikan magister dan doktor secara terintegrasi di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dika menyelesaikan pendidikan S2 dalam sekitar 1,5 tahun dan S3 dalam 2,5 tahun. Ia akhirnya meraih gelar doktor pada 2019. Usianya ketika menyelesaikan pendidikan tersebut baru 24 tahun.
Perjalanan akademiknya kemudian mendapatkan pengakuan. Dika meraih predikat cumlaude dengan IPK 4,00. Pada 2021, Museum Rekor Indonesia atau MURI mencatatnya sebagai Perempuan Peraih Gelar Doktor Fisika Termuda. ITB mencatat usianya ketika memperoleh gelar doktor tersebut adalah 24 tahun.
Menariknya, pencapaian tersebut tidak datang dari seseorang yang sejak awal sudah yakin ingin menjadi fisikawan. Justru ada serangkaian penolakan yang lebih dulu ia lewati.
Dika pernah gagal masuk bidang yang sejak awal diminatinya. Namun, ketika pintu itu tertutup, ia tidak berhenti. Ia mencoba pintu lain. Setelah masuk ke dunia fisika, ia berusaha memahami bidang tersebut hingga akhirnya mampu menjadikannya sebagai jalan akademik dan profesi.
Kisahnya juga tidak berhenti setelah memperoleh gelar doktor.
Dika kemudian menjadi dosen di Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta. Ia juga dipercaya menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atau P3M. Posisi tersebut terkonfirmasi melalui laman resmi P3M Polimedia yang mencantumkan nama Dr. Handika Dany Rahmayanti, M.Si. sebagai Kepala P3M.
Karya akademiknya juga terus berkembang. Dalam wawancara dengan detikEdu pada 2023, Dika tercatat telah menghasilkan buku, modul, karya kekayaan intelektual, paten, serta puluhan artikel yang terindeks Google Scholar dan Scopus.
Dari perempuan yang berkali-kali gagal masuk bidang kesehatan, Dika akhirnya menemukan keberhasilan di bidang yang dulu bahkan tidak ia sukai.
Cerita ini memberi pelajaran yang sederhana. Kegagalan memang bisa membuat seseorang kecewa. Namun, kegagalan tidak otomatis menentukan akhir perjalanan.
Ada cita-cita yang harus dilepaskan. Ada rencana yang berubah. Ada jalan yang awalnya tidak pernah dipilih, tetapi kemudian justru membuka kesempatan yang jauh lebih besar.
Dika tidak mendapatkan masa depan yang persis seperti rencana awalnya. Ia mendapatkan sesuatu yang berbeda. Dan dari jalan yang semula terasa seperti pilihan terakhir, ia berhasil membangun pencapaian yang bahkan mungkin tidak pernah ia bayangkan ketika pertama kali masuk kuliah.
Kadang-kadang, yang perlu dilakukan setelah sebuah pintu tertutup bukan terus memaksanya terbuka. Bisa jadi, kita perlu melihat pintu lain yang selama ini tidak pernah kita perhatikan.
Dika sudah membuktikannya.
Foto: Linkedin
#HandikaDanyRahmayanti #DoktorTermuda #DoktorFisika #MURI #FisikaITB #PMDSU #Polimedia #PendidikanIndonesia #InspirasiPendidikan #KisahInspiratif