Syahrini akhirnya kembali ke panggung setelah sekitar tujuh tahun vakum.

Penampilannya di Pestapora 2026 menjadi panggung off air pertamanya setelah sekian lama menepi dari dunia hiburan.

Menariknya, alasan Syahrini meninggalkan panggung bukan karena kehilangan kecintaan pada musik, melainkan karena memilih fokus pada keluarga.

Di atas panggung Pestapora, Syahrini mengatakan tujuh tahun tersebut bukan waktu untuk menjauh dari publik. Ia memilih menjaga putrinya dan sang suami, Reino Barack.

“Tujuh tahun aku bukan menjaga jarak, tapi aku menjaga anak dan menjaga Reino Barack,” ujar Syahrini.

Sebelumnya, Syahrini juga bercerita bahwa kehidupannya berubah setelah menjadi istri dan ibu.

Ia kini lebih disiplin mengatur waktu, bangun pagi setelah salat Subuh karena sang anak sudah terbangun, hingga menyiapkan makanan anaknya sendiri.

Ia bahkan mengatakan tidak ingin urusan makanan anak sepenuhnya diserahkan kepada pengasuh atau asisten rumah tangga.

Di sinilah kisah comeback Syahrini bisa dilihat dari sudut pandang Islam.

Menjadi ibu dan istri tidak berarti seorang perempuan kehilangan dirinya.

Ada masa ketika seorang perempuan mungkin memilih mengurangi aktivitas di luar rumah untuk memberi perhatian lebih besar kepada suami dan anak. Ada pula masa ketika ia kembali berkarya setelah merasa urusan keluarga sudah lebih siap untuk ditinggalkan sejenak.

Islam mengenal tanggung jawab dalam keluarga. Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban. Dalam hadis, perempuan disebut sebagai pemelihara rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.

Karena itu, mengurus rumah, mendampingi anak, dan menjaga hubungan dengan pasangan tidak semestinya dianggap sebagai aktivitas kelas dua. Ada amanah besar di dalamnya.

Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan.

Islam tidak mengatakan bahwa perempuan harus selalu berada di rumah dan tidak boleh mengembangkan dirinya.

Sejumlah kajian keislaman justru menjelaskan bahwa perempuan diperbolehkan bekerja dan berkarier dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat, kehormatan diri, serta tanggung jawab dalam keluarga. Ada pandangan ulama bahwa perempuan boleh berkarier di luar rumah dengan syarat tertentu.

Muhammadiyah pun menegaskan bahwa perempuan memiliki sejarah kontribusi di ruang sosial sejak masa awal Islam.

Jadi, persoalannya bukan sederhana soal “perempuan harus di rumah atau harus berkarier.”

Yang lebih penting adalah bagaimana seorang perempuan mengatur prioritas hidupnya.

Syahrini memberikan contoh yang menarik. Ia sudah memiliki karier sebelum menikah. Ketika menikah dan kemudian memiliki anak, ia memilih memberikan porsi besar waktunya kepada keluarga. Setelah tujuh tahun, ia kembali ke panggung ketika merasa waktunya sudah tepat.

Bahkan ketika kembali berkarya, Syahrini mengakui bahwa porsinya sekarang berbeda karena sudah memiliki anak dan keluarga. Ia mengatakan dirinya harus menyesuaikan aktivitas dengan kehidupan keluarga.

Ini bisa menjadi pelajaran bagi banyak perempuan yang sedang berada di persimpangan antara keluarga dan aktualisasi diri.

Tidak semua fase hidup harus dipaksakan berjalan dengan pola yang sama.

Ada masa untuk mengejar pendidikan. Ada masa membangun karier. Ada masa mendampingi pasangan. Ada masa mengurus bayi. Ada masa fokus membesarkan anak. Setelah itu, mungkin terbuka lagi ruang untuk berkarya.

Perempuan tidak harus merasa gagal ketika untuk sementara waktu memilih keluarga.

Begitu pula perempuan tidak otomatis menjadi ibu atau istri yang buruk hanya karena tetap berkarya di luar rumah.

Demikian pula pandangan bahwa aktivitas domestik dapat menjadi bentuk khidmah, sementara perempuan tetap memiliki ruang untuk bekerja dan berkontribusi di masyarakat.

Maka, kisah Syahrini bukan sekadar tentang seorang penyanyi yang kembali memegang mikrofon.

Ada pesan tentang timing dan prioritas.

Kadang seseorang perlu berhenti mengejar sorotan untuk menyelesaikan amanah yang lebih dekat. Setelah itu, ketika keadaan memungkinkan, ia dapat kembali mengambil ruang untuk dirinya sendiri.

Berkarya boleh. Memiliki cita-cita juga boleh. Mengembangkan potensi juga boleh.

Tetapi ketika sudah menjadi istri dan ibu, keluarga tetap membutuhkan perhatian yang nyata. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi juga hadir dengan waktu, kasih sayang, pendidikan, dan keteladanan.

Karena itu, seorang perempuan tidak perlu merasa harus memilih antara menjadi ibu yang baik atau perempuan yang produktif.

Yang perlu dipelajari adalah bagaimana menempatkan setiap peran pada waktunya.

Syahrini memilih tujuh tahun untuk keluarga. Kini ia kembali bernyanyi.

Dan mungkin memang begitu hidup bekerja. Ada saatnya kita menepi. Ada saatnya kita kembali. Yang penting, setiap fase dijalani dengan kesadaran bahwa keluarga juga merupakan bagian dari ibadah.

 

Foto: Instagram @princessyahrini

 

#Syahrini #SyahriniComeback #IbuMuslimah #IstriDanIbu #KeluargaMuslim #IslamDanPerempuan #MuslimahBerkarya #ParentingIslami #LifestyleIslami #InspirasiMuslimah