Selama ini, kanker paru sering langsung dikaitkan dengan rokok. Karena itu, seseorang yang tidak merokok kadang merasa tidak perlu khawatir. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Kanker paru bisa terjadi pada orang yang tidak pernah merokok atau hanya memiliki riwayat merokok yang sangat sedikit. Sejumlah data bahkan menunjukkan sekitar seperempat kasus kanker paru terjadi pada orang yang tidak pernah merokok atau sepanjang hidupnya merokok kurang dari 100 batang.

Artinya, tidak merokok memang menjadi salah satu cara penting untuk mengurangi risiko. Namun, faktor tersebut bukan satu-satunya yang menentukan seseorang bisa terkena kanker paru atau tidak.

Risikonya juga dapat berkaitan dengan paparan polusi udara, gas radon, faktor genetik, lingkungan, hingga riwayat merokok sebelumnya.

Kanker paru pada orang yang tidak merokok juga memiliki karakteristik yang menarik. Kondisi ini dilaporkan lebih sering ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Risiko tersebut juga disebut lebih menonjol pada perempuan keturunan Asia Timur atau Asia Selatan.

Karena itu, menganggap kanker paru hanya sebagai penyakit perokok berat dapat membuat seseorang mengabaikan gejala yang sebenarnya perlu diperiksa.

Hal lain yang sering luput adalah usia.

Kanker paru memang lebih banyak ditemukan pada usia lanjut. Namun, penyakit ini juga bisa terjadi pada orang yang lebih muda. Sekitar satu dari 10 pasien yang baru didiagnosis kanker paru berusia di bawah 55 tahun.

Pada kelompok usia muda, masalahnya bisa menjadi lebih rumit. Gejala yang muncul sering tidak langsung dicurigai sebagai kanker paru sehingga pemeriksaan dapat terlambat dilakukan.

Padahal, mengenali perubahan pada tubuh tetap penting, berapa pun usia seseorang.

Batuk yang tidak kunjung hilang memang menjadi salah satu gejala yang perlu diperhatikan. Namun, kanker paru tidak selalu dimulai dengan batuk.

Sesak napas, nyeri dada, tubuh terus-menerus terasa lelah, berat badan turun tanpa alasan yang jelas, hingga batuk berdarah juga dapat menjadi tanda. Pada kondisi tertentu, pasien dapat mengalami nyeri tulang, pembengkakan kaki, atau perubahan pada bentuk kuku.

Tentu saja, munculnya gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami kanker paru. Banyak kondisi lain yang juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Namun, gejala yang menetap atau semakin berat layak diperiksakan agar penyebabnya dapat diketahui.

Pemeriksaan juga tidak berarti semua orang harus menjalani CT scan secara rutin.

Salah satu metode yang digunakan untuk skrining kanker paru pada kelompok tertentu adalah low-dose CT atau CT dosis rendah. Pemeriksaan ini menggunakan dosis radiasi yang lebih rendah dibandingkan CT scan standar.

Skrining kanker paru biasanya ditujukan kepada kelompok yang memiliki risiko tinggi sesuai pedoman medis. Jadi, keputusan menjalani skrining perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan berdasarkan usia, riwayat merokok, dan faktor risiko lainnya.

Menariknya, CT dosis rendah telah menunjukkan manfaat dalam mendeteksi kanker paru lebih awal. Dalam uji skrining besar, pemeriksaan ini dikaitkan dengan penurunan kematian akibat kanker paru sekitar 20 persen pada kelompok berisiko tinggi.

Namun, menemukan nodul di paru-paru juga tidak otomatis berarti kanker.

Jika dokter menemukan nodul yang mencurigakan, langkah berikutnya bisa berupa pemantauan dan pemeriksaan ulang setelah beberapa waktu. Dokter akan melihat apakah nodul berubah ukuran atau karakter sebelum menentukan tindakan lebih lanjut.

Pesan pentingnya sederhana. Jangan merasa aman hanya karena tidak merokok. Jangan pula langsung panik ketika menemukan gejala tertentu.

Kenali faktor risikonya. Perhatikan perubahan tubuh. Dan ketika ada keluhan yang menetap atau mengkhawatirkan, jangan menunda pemeriksaan.

Kanker paru memang memiliki hubungan kuat dengan rokok. Namun, cerita tentang penyakit ini jauh lebih kompleks dari sekadar siapa yang merokok dan siapa yang tidak.

Memahami faktanya dapat membantu kita lebih waspada tanpa hidup dalam ketakutan.

 

Foto: Pexels

 

#KankerParu #Kesehatan #Kanker #GayaHidupSehat #KesehatanParu #DeteksiDini #HidupSehat #InfoKesehatan #KesehatanKeluarga #TipsSehat