Hari ini, Jumat, 10 Juli 2026 pukul 03.20 WIB, langit Jakarta terasa jauh lebih hening dan dingin. Di balik riuh dan gemerlap kota, sebuah kabar duka yang amat mendalam menghentak sanubari bangsa Indonesia: Dr. (H.C.) H. Rachmat Gobel mengembuskan napas terakhirnya di RS Brawijaya Tebet pada usia 63 tahun. Kepergian tokoh paripurna yang menjabat sebagai anggota DPR RI fraksi Partai NasDem dan mantan Menteri Perdagangan ini menyisakan kekosongan besar bagi peta industri, politik, serta diplomasi tanah air.
Ada rasa perpisahan yang begitu getir terasa bagi sebagian orang, seolah tombol power pada sirkuit raksasa yang menggerakkan kemandirian teknologi nasional mendadak padam. Namun, ia tidak benar-benar pergi. Sang pengusaha nasional meninggalkan warisan abadi yang abadi dalam ingatan jutaan masyarakat Indonesia.

 

Nostalgia Sang Pewaris: Dari Sapu Pabrik hingga Kampus Elite Jepang
Mengenang masa mudanya adalah melihat kembali potret keteladanan dari sebuah proses yang ditempa dengan keras. Lahir sebagai anak kelima dan putra sulung dari maestro legendaris Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel—sang pelopor industri televisi pertama Indonesia bermerek "Tjawang"—Rachmat kecil tidak langsung mendapatkan karpet merah kemewahan.
Saat duduk di bangku SMP, sang ayah memberikan doktrin kepemimpinan yang sangat membumi:
- Wajib magang menjadi kuli angkut komponen dan penyapu gudang pabrik keluarga di kala liburan sekolah.
- Membaur bersama buruh kasar untuk merakit langsung kabel-kabel sirkuit elektronik dari level yang paling dasar.

Tempaan mental dari akar rumput ini mengantarkannya terbang ke Jepang. Di bawah bayang-bayang prinsip Kaizen (perbaikan berkelanjutan), ia menyelesaikan studi Perdagangan Internasional di Chuo University Tokyo pada tahun 1987 sebelum mengasah kemampuannya di Matsushita Electric Osaka. Perjalanan akademis berprestasi tersebut di kemudian hari membawanya dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari kampus elite Jepang yang sama.

 

Langkah Berani Menantang Badai Krisis 1998
Ketika estafet kepemimpinan Gobel Group beralih ke pundaknya, ujian terhebat pun datang: Krisis Moneter 1998. Di saat konglomerasi lain tumbang dan memilih jalan pintas berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal bagi para buruhnya, Rachmat Gobel berdiri dengan tegak menentang arus.
Memegang amanah luhur ayahnya untuk terus melindungi hajat hidup rakyat kecil, ia meyakinkan mitra raksasanya di Jepang, Panasonic Corporation, bahwa Indonesia adalah pasar tangguh yang tak boleh ditinggalkan. Hasilnya luar biasa: Gobel Group melompat keluar dari krisis '98 tanpa menjatuhkan PHK sepihak pada satu pun buruh pabriknya. Lebih dari itu, ia memimpin aksi patriotik dalam ekosistem manufaktur dengan mendongkrak Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melampaui angka 40%, membuktikan bahwa komponen lokal mampu merajai industri global.

 

Pengabdian Paripurna: Dari Kursi Kabinet hingga Penjaga Budaya Nusantara
Jejak pengabdian almarhum membentang luas di ranah kenegaraan. Dipercaya oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Perdagangan (2014–2015), ia kerap terekam kamera turun langsung melakukan sidak pasar demi menjamin stabilitas harga pangan rakyat kecil. Keluwesan diplomasinya dengan para petinggi Negeri Sakura juga menjadikannya sosok krusial sebagai Utusan Khusus Presiden RI untuk Jepang (2017–2019) guna menarik arus investasi asing ramah tenaga kerja ke dalam negeri.
Kariernya kian paripurna saat melenggang ke Senayan sebagai Wakil Ketua DPR RI (2019–2024). Di panggung politik legislatif inilah ia membakar semangat pemerataan ekonomi dan menyerukan kemajuan bagi wilayah Indonesia Timur yang kerap terlupakan.
Namun, di luar jubah politiknya, Rachmat Gobel adalah kurator kebudayaan yang militan. Dialah sosok di balik terkenalnya Kain Karawo khas Gorontalo—tanah leluhurnya—hingga melenggang anggun di panggung mode kelas dunia seperti New York dan Paris. Atas bakti tulus membumikan budaya inilah, Dewan Adat Gorontalo menganugerahinya gelar adat sakral: Pulanga "Ti Bulilango Hunggia", sang Pemberi Cahaya Negeri.

 

Selamat Jalan, Ti Bulilango Hunggia!
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka kawasan Jakarta Selatan, sebelum diterbangkan untuk dikebumikan di tanah leluhur, Gorontalo. Ia meninggalkan istri tercinta, Retno Damayanti, kedua putra-putrinya, serta cucu-cucu yang ia sayangi.
Kini, layar monitor industri nasional sedikit meredup, sang "Pemberi Cahaya Negeri" telah merampungkan sirkuit pengabdiannya di dunia fana. Terima kasih, Rachmat Gobel. Setiap embusan angin sejuk pendingin udara dan nyala layar televisi di rumah-rumah keluarga Indonesia akan selalu menjadi monumen bisu yang merawat memori tentang dedikasi besarmu bagi negeri.

Allahummagfirlahu Warhamhu Wa'afihi Wa'fu'anhu

 Foto: Istimewa