3 Fakta Mencengangkan di Balik The Salah Effect
Satu pemain sepak bola ternyata mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh banyak kampanye sosial.
Bukan sekadar mencetak gol atau membawa klub meraih gelar, kehadiran Mohamed Salah justru disebut ikut mengubah cara sebagian masyarakat Inggris memandang Islam. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai The Salah Effect.
Istilah tersebut bukan lahir dari media sosial atau penggemar Liverpool. Sebaliknya, ia muncul setelah para peneliti menganalisis dampak sosial dari popularitas Salah di Inggris.
Lantas, apa sebenarnya The Salah Effect? Benarkah kehadiran seorang pesepak bola bisa mengurangi Islamofobia?
1. Riset Stanford Menemukan Islamofobia Turun Setelah Salah Bergabung
The Salah Effect merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh para akademisi dari Stanford University dan beberapa institusi lain yang dipublikasikan melalui American Political Science Review.
Penelitian tersebut menganalisis perubahan sikap masyarakat setelah Mohamed Salah bergabung dengan Liverpool pada 2017.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Para peneliti menemukan bahwa angka kejahatan bermotif kebencian terhadap muslim di wilayah Merseyside, markas Liverpool, diperkirakan turun sekitar 18,9 persen dibandingkan wilayah pembanding.
Tidak hanya itu, ujaran bernada anti muslim di media sosial yang ditulis penggemar Liverpool juga dilaporkan menurun hingga sekitar 50 persen.
Peneliti menyimpulkan bahwa meningkatnya paparan terhadap figur muslim yang dikenal luas, berprestasi, dan diterima publik dapat mengurangi prasangka negatif terhadap kelompok tersebut.
Temuan ini menjadi salah satu contoh nyata dari teori psikologi sosial yang dikenal sebagai parasocial contact, yaitu hubungan tidak langsung dengan figur publik yang mampu mengubah persepsi seseorang terhadap kelompok tertentu.
2. Mohamed Salah Berdakwah Tanpa Banyak Ceramah
Mohamed Salah jarang berbicara panjang mengenai Islam di depan publik.
Namun, jutaan orang justru mengenal nilai-nilai Islam melalui sikapnya.
Ia kerap melakukan sujud syukur setiap selesai mencetak gol. Ia dikenal rendah hati dalam berbagai wawancara. Salah juga beberapa kali terlihat menghentikan aktivitas untuk menunaikan salat ketika jadwal pertandingan dan perjalanan memungkinkan.
Saat Ramadan, Salah tetap menjalankan ibadah puasa dalam banyak kesempatan, meski harus menyesuaikannya dengan jadwal kompetisi sesuai arahan tim medis dan ketentuan syariat.
Semua itu dilakukan tanpa memaksa orang lain mengikuti keyakinannya.
Inilah yang membuat banyak pengamat menyebut Salah sebagai duta Islam yang efektif melalui keteladanan.
Allah Swt. berfirman,
"Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik." (QS. An Nahl: 125)
Ayat ini mengingatkan bahwa dakwah tidak selalu dilakukan dari mimbar. Akhlak yang baik juga mampu menjadi jalan datangnya hidayah.
3. Akhlak Baik Lebih Sulit Dibantah daripada Stereotip
Sebelum Mohamed Salah datang ke Inggris, sebagian masyarakat Barat masih memiliki stereotip negatif terhadap muslim akibat pemberitaan tentang ekstremisme dan konflik global.
Namun, ketika mereka melihat seorang muslim yang disiplin, pekerja keras, menghormati lawan, dekat dengan keluarga, serta aktif dalam kegiatan sosial, persepsi itu mulai berubah.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa manusia sering kali mengubah pandangannya setelah berinteraksi dengan contoh nyata, bukan sekadar membaca teori.
Ustaz Adi Hidayat mengingatkan bahwa dakwah yang paling kuat adalah keteladanan.
"Akhlak yang baik adalah dakwah yang paling mudah diterima," pesan UAH.
Pesan tersebut sejalan dengan perjalanan Mohamed Salah. Banyak orang mulai penasaran terhadap Islam bukan karena dipaksa, melainkan karena mereka melihat akhlak seorang muslim yang konsisten.
The Salah Effect Bukan Hanya Tentang Sepak Bola
Fenomena ini sebenarnya membawa pelajaran yang lebih luas.
Setiap muslim adalah wajah Islam di mana pun berada.
Cara berbicara, bekerja, menepati janji, menghormati tetangga, hingga menjaga integritas dapat memengaruhi cara orang lain memandang agama yang dianutnya.
Rasulullah saw. berhasil menarik hati banyak orang bukan karena kekuatan materi, melainkan karena kejujuran dan akhlaknya.
Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, beliau sudah mendapat gelar Al Amin, orang yang dapat dipercaya.
Mohamed Salah mungkin bukan seorang dai. Ia juga tidak menyampaikan ceramah setiap hari. Namun, konsistensinya menjaga akhlak di tengah sorotan dunia membuat banyak orang melihat sisi Islam yang damai, ramah, dan penuh nilai kemanusiaan.
The Salah Effect menjadi pengingat bahwa prestasi memang bisa membuat seseorang dikenal. Namun, akhlak yang baiklah yang mampu mengubah cara pandang dunia.
Foto: ESPN
#MohamedSalah #TheSalahEffect #Islam #Liverpool #SepakBola #Islamofobia #InspirasiMuslim #AkhlakIslam #WorldCup2026 #MoSalah