"Bila jodoh sudah diatur Allah, kenapa masih harus berusaha?"

Pertanyaan seperti ini masih sering muncul. Tidak sedikit orang memilih pasrah sambil berharap pasangan hidup datang dengan sendirinya. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar.

Pesan inilah yang disampaikan Prof. Quraish Shihab dalam sebuah kajian yang kemudian banyak dibagikan di media sosial. Beliau mengatakan:

"Jangan tunggu jodoh. Carilah jodohmu dengan cara-cara yang dibenarkan agama, karena jodoh itu rezeki. Cari simpati, berdandan yang baik, berilmu yang tinggi, biar orang senang pada Anda."

Kalimat singkat tersebut mengandung pesan yang dalam. Jodoh memang bagian dari takdir Allah Swt., tetapi takdir tidak pernah menghapus kewajiban manusia untuk berikhtiar.

Jodoh Memang Rezeki, Tetapi Rezeki Perlu Dijemput

Dalam Al-Qur'an, Allah Swt. berkali-kali memerintahkan manusia untuk berusaha. Begitu pula dalam urusan rezeki.

Jodoh termasuk salah satu bentuk rezeki. Namun, sebagaimana rezeki berupa pekerjaan atau ilmu yang harus dicari, pasangan hidup juga perlu diupayakan melalui jalan yang benar.

Rasulullah saw. sendiri mengajarkan umatnya agar aktif mencari pasangan yang baik. Bahkan dalam banyak hadis, beliau mendorong sahabat yang telah mampu untuk menikah.

Artinya, menunggu tanpa usaha bukanlah sikap yang dicontohkan dalam Islam.

Ikhtiar bisa dilakukan melalui ta'aruf, meminta bantuan keluarga, sahabat, guru, atau lingkungan yang terpercaya. Semua dilakukan dengan menjaga adab dan batas-batas syariat.

Mencari Simpati Bukan Berarti Mencari Perhatian Berlebihan

Pesan Prof. Quraish Shihab berikutnya juga menarik.

Beliau mengajak setiap orang untuk "mencari simpati".

Sebagian orang langsung mengaitkannya dengan pencitraan. Padahal, yang dimaksud bukanlah berpura-pura menjadi orang lain demi disukai.

Mencari simpati berarti membangun kepribadian yang menyenangkan.

Seseorang yang jujur, ramah, bertanggung jawab, mudah membantu, dan menjaga akhlak tentu lebih mudah mendapatkan kepercayaan orang lain.

Dalam psikologi, kualitas seperti ini dikenal sebagai prosocial behavior, yaitu perilaku yang mendorong hubungan sosial yang sehat.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa karakter positif jauh lebih menentukan keberhasilan hubungan jangka panjang dibanding sekadar penampilan fisik.

Karena itu, jika ingin dipilih sebagai pasangan hidup, mulailah dengan menjadi pribadi yang memang layak dipilih.

Berdandan yang Baik adalah Bentuk Menghargai Diri

Pesan berikutnya adalah "berdandan yang baik."

Sebagian orang mengira penampilan bukan sesuatu yang penting. Sebaliknya, ada pula yang terlalu berlebihan hingga mengabaikan batas syariat.

Islam mengambil jalan tengah.

Rasulullah saw. menyukai kebersihan, kerapian, dan penampilan yang pantas. Beliau pernah bersabda,

"Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan." (HR. Muslim)

Berdandan dalam konteks ini bukan berarti tampil mewah atau menghamburkan biaya.

Yang dimaksud adalah menjaga kebersihan tubuh, berpakaian rapi, beraroma baik, serta tampil sopan sesuai tuntunan agama.

Penampilan yang baik menunjukkan bahwa seseorang menghargai dirinya sendiri sekaligus menghormati orang lain.

Ilmu Membuat Seseorang Lebih Menarik

Prof. Quraish Shihab juga menekankan pentingnya memiliki ilmu yang tinggi.

Nasihat ini sering terlupakan ketika banyak orang lebih fokus memperbaiki penampilan daripada memperkaya wawasan.

Padahal, hubungan rumah tangga tidak hanya dibangun oleh rasa cinta.

Ia membutuhkan kemampuan berkomunikasi, menyelesaikan konflik, memahami hak dan kewajiban, mengelola keuangan, hingga mendidik anak.

Semua itu membutuhkan ilmu.

Orang yang terus belajar biasanya memiliki cara berpikir lebih dewasa, lebih bijaksana dalam mengambil keputusan, dan lebih siap menghadapi dinamika kehidupan pernikahan.

Karena itu, memperbaiki kualitas diri melalui ilmu merupakan investasi terbaik sebelum menikah.

Tawakal Datang Setelah Ikhtiar
Pesan Prof. Quraish Shihab sebenarnya mengingatkan umat Islam agar tidak memahami takdir secara keliru.

Tawakal bukan berarti diam.

Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah Swt. setelah semua usaha terbaik dilakukan.

Prinsip ini sejalan dengan hadis Rasulullah saw. ketika seseorang bertanya apakah untanya cukup dilepas lalu bertawakal. Rasulullah menjawab,

"Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah." (HR. Tirmidzi)

Maknanya jelas. Ikhtiar dan tawakal tidak boleh dipisahkan.

Dalam urusan jodoh, ikhtiar bisa berupa memperbaiki akhlak, memperluas pergaulan yang sehat, meningkatkan ilmu, memperbaiki ibadah, serta membuka diri terhadap proses ta'aruf yang sesuai syariat.

Jika semua sudah dilakukan, barulah hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah Swt.

Pada akhirnya, jodoh bukan sekadar tentang menemukan orang yang tepat. Lebih dulu, jadilah pribadi yang tepat untuk dipilih.

Sebab, seperti diingatkan Prof. Quraish Shihab, jodoh adalah rezeki. Dan setiap rezeki layak dijemput dengan usaha yang baik, doa yang tulus, serta cara-cara yang diridai Allah Swt.

 

Foto: Pexels

 

#JodohdalamIslam #QuraishShihab #PernikahanIslam #Taaruf #MotivasiIslam #Hijrah #MuslimMilenial #TipsPernikahan #Islam #TipsCariJodoh