Kembali ke semua artikel
Apakah Kejahatan Sudah Ditakdirkan? Buya Yahya: Jangan Salah Paham, Ini Faktanya...
Opini Islami 25 June 2026 3 menit baca

Apakah Kejahatan Sudah Ditakdirkan? Buya Yahya: Jangan Salah Paham, Ini Faktanya...

Ditulis oleh Subhanhariadi Putra

Banyak orang masih bingung ketika membahas hubungan antara takdir Allah dan perbuatan manusia. Tidak sedikit pula yang menggunakan alasan “semua sudah ditakdirkan” untuk membenarkan kesalahan yang mereka lakukan. Sebagaimana dikutip dari penjelasan Buya Yahya, seorang muslim memang wajib beriman kepada qada dan qadar Allah. Namun, keimanan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan. Apakah kejahatan sudah ditakdirkan? Jawaban Buya Yahya bikin banyak orang tersadar: Jangan gunakan takdir untuk membenarkan dosa!

Buya Yahya menjelaskan bahwa qada berkaitan dengan pengetahuan Allah terhadap segala sesuatu yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Sementara qadar adalah apa yang Allah tetapkan dan berlaku kepada makhluk-Nya sesuai dengan pengetahuan-Nya tersebut. “Allah sudah tahu apa yang terjadi dan akan terjadi,” jelas Buya Yahya. Allah mengetahui segala sesuatu sejak zaman azali. Namun, manusia tetap diberi akal, pilihan, dan kemampuan untuk berusaha. Jadi, manusia memiliki kebebasan memilih, tetapi Allah sudah mengetahui pilihan yang akan diambil.

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah ketika seseorang beranggapan bahwa jika dirinya memang ditakdirkan masuk surga, maka berbuat dosa tidak akan menjadi masalah. “Ada orang berkata kalau memang sudah ditentukan saya ini menjadi ahli surga, biarpun saya dosa akan tetap masuk surga. Itu namanya ente sok tahu. Siapa bilang ahli surga?” tegas Buya Yahya. Hanya Allah yang mengetahui akhir kehidupan seseorang. Karena itu, manusia tidak boleh merasa aman dari dosa hanya karena beranggapan takdirnya sudah ditentukan.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Insan ayat 3, “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diberi pilihan untuk memilih jalan yang lurus atau jalan yang sesat. Allah tidak memaksa manusia untuk berbuat jahat. Kejahatan adalah pilihan manusia, bukan takdir yang dipaksakan. Oleh karena itu, setiap orang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di akhirat.

Fenomena "menyalahkan takdir" sering terjadi di masyarakat. Ada yang melakukan korupsi, lalu berkata "ini sudah takdir." Ada yang berbuat zina, lalu berkata "ini sudah suratan." Ini adalah pemikiran yang sangat berbahaya. Takdir tidak bisa dijadikan tameng untuk menghindari tanggung jawab. Jika seseorang berbuat dosa, maka ia harus bertaubat dan memperbaiki diri. Jangan menyalahkan Allah atas kesalahan yang kita perbuat sendiri.

Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.” (HR. Muslim). Hadits ini mengajarkan kita untuk berusaha dan tidak menyalahkan takdir. Jika kita gagal, evaluasi diri. Jika kita berhasil, bersyukur. Jangan pernah menjadikan takdir sebagai alasan untuk malas atau berbuat dosa.

Kesimpulannya, kejahatan bukanlah takdir yang mutlak. Manusia memiliki pilihan. “Ada orang berkata kalau memang sudah ditentukan saya ini menjadi ahli surga, biarpun saya dosa akan tetap masuk surga. Itu namanya ente sok tahu.” Mari kita jadikan pemahaman ini sebagai landasan untuk bertanggung jawab atas setiap perbuatan kita. Jangan menyalahkan takdir, tetapi perbaikilah diri.

#BuyaYahya #Takdir #Qada #Qadar #Kejahatan #Dosa #TanggungJawab #Pilihan #Manusia #Kesadaran

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua