Meninggal Karena Dijadikan Tumbal? Buya Yahya: Itu Keyakinan Salah, Hati-Hati Syirik!
Kepercayaan tentang tumbal masih kerap menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang mengaitkan kematian seseorang dengan praktik tumbal demi kekayaan, keselamatan proyek, atau tujuan tertentu. Bahkan, muncul anggapan bahwa korban tumbal akan mengalami nasib tertentu setelah meninggal dunia. Sebagaimana dikutip dari penjelasan Buya Yahya, keyakinan mengenai tumbal tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Hindari semua yang mendekati syirik dan sihir, karena semua itu adalah dosa besar yang memancing murka Allah. Seorang Muslim harus berhati-hati agar tidak terbawa oleh kepercayaan yang dapat merusak akidah.
Buya Yahya menerangkan bahwa istilah tumbal sudah dikenal sejak zaman dahulu dan sering dikaitkan dengan keyakinan tertentu yang mengharuskan adanya korban demi memperoleh sesuatu yang dianggap besar atau sakral. “Istilah tumbal itu kurang lebihnya semacam itu. Jelas itu bukan dalam syariat Islam, tidak ada. Itu keyakinan yang salah,” ujar Buya Yahya. Seseorang memang bisa memiliki niat menjadikan orang lain sebagai tumbal karena keyakinan yang sesat. Namun, niat tersebut tidak lantas membenarkan adanya konsep tumbal dalam Islam. “Kalau ada orang niat menjadikan tumbal, berarti dia punya niat jelek, dia punya keyakinan yang salah, dia punya keyakinan yang tidak benar,” katanya.
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 48, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” Syirik adalah dosa terbesar yang tidak akan diampuni oleh Allah. Meyakini bahwa tumbal bisa mempengaruhi nasib seseorang adalah bentuk syirik, karena menggantungkan sesuatu pada selain Allah. Meyakini bahwa seseorang bisa memberikan keselamatan atau kekayaan dengan cara membunuh orang lain adalah kekufuran yang sangat keji.
Fenomena kepercayaan tumbal sering muncul di masyarakat yang masih kuat dengan budaya mistis. Ada yang mengaitkan kecelakaan proyek dengan tumbal, ada yang mengaitkan kematian mendadak dengan korban tumbal. Semua itu adalah prasangka buruk yang tidak berdasar. Seorang muslim harus menyikapi kematian dengan husnuzhon (berprasangka baik) kepada Allah. Jangan terjebak pada spekulasi yang tidak jelas kebenarannya. “Anda orang beriman, kok jika ada orang meninggal dunia ya sudah meninggal dunia. Tidak usah Anda hubungkan dengan masalah tumbal dan sebagainya,” jelas Buya Yahya.
Buya Yahya juga menegaskan bahwa jika benar ada seseorang yang menjadi korban kedzaliman akibat praktik yang disebut tumbal, maka korban tersebut justru mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. “Kalau seandainya ada orang meninggal karena dijadikan tumbal, dia mati syahid, dia mulia karena dizalimi,” ungkap Buya Yahya. Ini adalah penghiburan bagi korban. Namun, ini tidak berarti praktik tumbal dibenarkan. Pelaku yang membunuh untuk tujuan tumbal tetap berdosa besar dan harus dihukum sesuai hukum negara.
Kesimpulannya, keyakinan tentang tumbal adalah keyakinan yang salah dan dapat merusak akidah. “Istilah tumbal itu kurang lebihnya semacam itu. Jelas itu bukan dalam syariat Islam, tidak ada.” Hindari semua kepercayaan yang mendekati syirik dan sihir. Jadikan kematian sebagai pengingat untuk meningkatkan ketakwaan, bukan untuk berprasangka buruk. Wallahu a'lam.
#BuyaYahya #Tumbal #Syirik #KeyakinanSalah #Kematian #DosaBesar #Akidah #Islam #HatiHati #MatiSyahid