Kembali ke semua artikel
Sejarah Tahun Baru Hijriah, Peran Cemerlang Umar bin Khattab Menentukan Kalender Islam!
Muharam & Tahun Baru Islam 16 June 2026 4 menit baca

Sejarah Tahun Baru Hijriah, Peran Cemerlang Umar bin Khattab Menentukan Kalender Islam!

Ditulis oleh Subhanhariadi Putra

Setiap tanggal 1 Muharram, umat Islam merayakan Tahun Baru Hijriah. Namun, tahukah Anda bahwa kalender ini tidak digunakan sejak zaman Rasulullah SAW? Sebagaimana dikutip dari sejarah, penetapan awal tahun baru Islam terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab RA. Sejarah tahun baru Hijriah adalah bukti kecerdasan dan kebijaksanaan sahabat dalam membangun peradaban. Inilah kisah di balik kalender yang kita gunakan hingga hari ini.

Michael H. Hart dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah menempatkan Umar bin Khattab pada urutan ke-51. Penaklukan besar-besaran oleh Arab di bawah kepemimpinan Umar yang brilian menjadi salah satu alasannya. Al-Askari mengatakan, “Umar bin Khattab adalah khalifah pertama yang diberi gelar ‘Amirul Mukminin.’ Ia juga khalifah pertama yang menentukan peristiwa hijrah sebagai awal tahun penanggalan Islam.” (Jalaluddin As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa).

Umar bin Khattab yang berkuasa pada 634-644 M/13-23 H juga merupakan kepala negara pertama yang membuat Baitul Mal (kas negara). Ia pula imam yang menghidupkan kembali tradisi shalat tarawih berjamaah. Ia juga pejabat publik yang mula-mula blusukan malam-malam untuk menjamin keamanan warganya dari kejahatan dan kelaparan. Sungguh, Umar adalah pemimpin yang luar biasa.

Kisah penetapan kalender Hijriah berawal dari sepucuk surat dari Abu Musa Al-Asy'ari kepada Umar. “Sungguh, surat-surat darimu telah kami terima tanpa catatan tanggal, bulan, dan tahun,” tulis Abu Musa. Umar kemudian mengundang para sahabat terkemuka untuk memusyawarahkan masalah ini. (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari). Inilah awal mula lahirnya kalender Hijriah.

“Hari apa yang kita dapat jadikan patokan dalam menulis penanggalan?” kata Sayyidina Umar membuka musyawarah. Ada beberapa usulan: berdasarkan pengangkatan kenabian, berdasarkan hijrah, atau berdasarkan wafatnya Nabi. Umar memilih hijrah karena peristiwa ini memisahkan yang hak dan batil. “Hijrah memisahkan yang hak dan batil. Jadikan ia sebagai pedoman tahun penanggalan,” kata Umar.

Setelah menentukan tahun (hijrah), pembahasan beralih ke bulan pertama. Ada yang mengusulkan Ramadhan, ada yang mengusulkan Rajab. Namun, sahabat Utsman bin Affan RA mengusulkan Muharram. “Tulislah sejak Muharram karena ia bulan haram. Ia menjadi bulan awal tahun dan waktu jamaah haji bergegas meninggalkan Kota Makkah,” kata Utsman. Usulan ini disetujui oleh Umar dan para sahabat lainnya.

Menurut riwayat Al-Hakim, Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA mengusulkan agar penanggalan dimulai dari hari pertama Rasulullah SAW berhijrah, meninggalkan tanah kemusyrikan (Kota Makkah). Pendapat ini diterima dan dijalankan oleh Umar bin Khattab. Musyawarah penentuan kalender Hijriah ini terjadi pada tahun 17 H (tahun keempat kepemimpinan Umar). Kesepakatan ini adalah ijma' sahabat yang sangat kuat.

Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 36, “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram.” Bulan Muharram adalah salah satu bulan haram yang dimuliakan. Dengan menjadikannya sebagai awal tahun, Umar dan para sahabat ingin mengajarkan bahwa tahun baru harus dimulai dengan semangat hijrah: meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, meninggalkan kemalasan menuju produktivitas.

Fenomena yang sering terjadi adalah umat Islam merayakan 1 Muharram dengan pesta kembang api dan konvoi motor, tetapi lupa dengan esensi hijrah. Padahal, tahun baru Islam adalah momentum untuk introspeksi diri (muhasabah). Umar bin Khattab memilih hijrah sebagai patokan karena hijrah adalah titik balik peradaban Islam. Tanpa hijrah, mungkin Islam tidak akan sekuat sekarang.

Kesimpulannya, sejarah tahun baru Hijriah adalah sejarah kebijaksanaan. Mari kita sambut Muharram dengan semangat hijrah yang sesungguhnya: berhijrah dari konsumtif menuju produktif, dari maksiat menuju taat, dan dari perpecahan menuju persatuan. “Hijrah memisahkan yang hak dan batil.” Selamat Tahun Baru Islam 1448 H. Wallahu a'lam.

#SejarahTahunBaruHijriah #UmarBinKhattab #KalenderHijriah #PeristiwaHijrah #Muharram #BulanHaram #SahabatNabi #AmirulMukminin #FathulBari #MomentumHijrah

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua