Kembali ke semua artikel
KDM Murka, Suruh Polisi Ganyang Preman Palang Pintu Kereta! Ini Baru Pemimpin Melawan
Berita Terkini 29 April 2026 4 menit baca

KDM Murka, Suruh Polisi Ganyang Preman Palang Pintu Kereta! Ini Baru Pemimpin Melawan

Ditulis oleh Subhanhariadi Putra

Bayangkan setiap hari Anda melewati perlintasan kereta. Palang pintu naik turun seenaknya. Lalu ada preman meminta uang dengan ancaman. Lalu suatu hari, karena sistem kacau karena ulah preman, kecelakaan maut terjadi. Darah tumpah. Inilah yang menyulut amarah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Sebagaimana dikutip dari viva.co.id, KDM dengan tegas meminta polisi menertibkan ormas preman yang menguasai palang pintu perlintasan kereta. Ini bukan sekadar operasi biasa. Ini adalah pernyataan perang terhadap kelompok yang mengorbankan nyawa rakyat demi uang haram.

Islam memiliki konsep yang sangat keras terhadap premanisme. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari & Muslim). Preman yang menguasai palang pintu adalah kebalikan dari hadits ini. Mereka tidak hanya tidak mencintai saudaranya, tapi mereka dengan sadar menciptakan kondisi yang mematikan. Mereka mengacaukan sistem keselamatan, meminta pungli, dan ketika ada kecelakaan, mereka kabur atau bahkan ikut jadi korban karena ulah mereka sendiri.

Yang membuat tindakan KDM ini luar biasa adalah keberaniannya menyentuh sarang preman. Banyak pemimpin yang tahu praktik ini, tapi tutup mata karena takut atau ikut makan uang haram itu. Dedi Mulyadi menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah yang tega menindak preman meskipun itu kelompok terorganisir. Dalam sejarah Islam, Khalifah Umar bin Khattab pernah memecat seorang gubernur hanya karena dia membiarkan rakyatnya dizalimi pedagang curang. Umar berkata, “Kenapa engkau diam saat ada yang dizalimi?” Diamnya pemimpin terhadap preman adalah dosa besar.

Preman palang pintu kereta ini modus operandinya klasik: mereka mengatur kapan palang ditutup atau dibuka, lalu meminta uang dari pengendara yang lewat. Jika tidak diberi, mereka akan memperlambat buka tutup sehingga antrean panjang dan memicu kemacetan. Lebih parah, mereka kerap bermain dengan waktu sehingga pengendara nekat menerobos saat kereta sudah dekat. Inilah yang menjadi pemicu kecelakaan berulang. Dalam fiqih jinayah, tindakan ini masuk kategori “hirabah” (pemberontakan bersenjata yang mengganggu keamanan publik). Hukumannya sangat berat, bisa sampai dijatuhi hukuman mati.

KDM meminta polisi bertindak tegas. Ini adalah momen ujian bagi institusi kepolisian. Akankah mereka berani atau justru melindungi preman karena ada “jatah” bulanan? Sebagai pendakwah, saya mengingatkan bahwa polisi yang takut pada preman sama saja dengan kambing yang menggembala serigala. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah” (QS. An-Nisa: 135). Keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu, bahkan terhadap preman yang mungkin punya koneksi ke oknum aparat sekalipun.

Yang unik dari peristiwa ini adalah bahwa premanisme di perlintasan kereta sudah terjadi puluhan tahun. Banyak yang tahu, tapi tidak ada yang berani. KDM tidak hanya berani, tapi juga memberikan batas waktu. Ini menunjukkan urgensi bahwa keselamatan publik tidak bisa ditawar. Jika preman merusak palang pintu otomatis atau mengubah jadwal operasional palang, maka mereka sama saja dengan pembunuh berantai. Karena satu keputusan salah mereka bisa menyebabkan puluhan nyawa melayang.

Masyarakat punya peran besar dalam hal ini. Laporkan jika melihat preman beraksi. Jangan beri mereka uang. Rekam video dan sebarkan. Tekan pemerintah untuk bertindak. Dalam Islam, mencegah kemungkaran dengan tangan adalah kewajiban. Jika tidak mampu dengan tangan, maka dengan lisan (melapor). Jika tidak mampu, maka dengan hati (membenci dan menjauhi). Jangan sampai kita menjadi pendukung diam atas kejahatan preman.

Wallahu a’lam, langkah KDM ini harus ditiru oleh seluruh gubernur dan bupati di Indonesia. Preman bukan hanya di perlintasan kereta, tapi di pasar, di terminal, di pelabuhan. Mereka adalah parasit yang menggerogoti kenyamanan rakyat. Pemimpin yang takut memberantas preman adalah pemimpin yang durhaka pada amanat rakyat. Dedi Mulyadi sudah memberi contoh. Sekarang giliran kita mendukung dan mengawal.

 

Foto: Yeni Lestari/ VIVA

#KDM #PremanPalangPintu #TertibkanOrmas #KeretaAmanTanpaPreman #DediMulyadiTegas #PemimpinBerani #Hirabah #PemberantasanPreman #PolisiHarusGerak #KeselamatanRakyatPrioritas

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua