PHK menghantui banyak pekerja. Lowongan kerja terasa makin kompetitif. Harga kebutuhan terus menuntut penyesuaian. Di saat yang sama, AI mulai mengambil alih sejumlah pekerjaan yang dulu dikerjakan manusia.

Buka media sosial, tekanan lain muncul. Teman menikah. Orang lain membeli rumah. Ada yang liburan ke luar negeri. Ada yang kariernya melesat. Ada pula yang terlihat selalu baik-baik saja.

Sementara kita masih sibuk bertanya, “Kapan hidup saya berubah?”

Dalam kondisi seperti ini, mudah sekali hati dipenuhi prasangka. Kepada orang lain, kepada keadaan, bahkan kepada Allah. Kita mulai merasa hidup tidak adil. Kita menganggap keberhasilan orang lain sebagai ancaman. Kita curiga ketika seseorang berubah. Kita kecewa ketika doa belum juga menemukan jawaban.

Di sinilah husnudzan, atau berbaik sangka, menjadi penting.

Husnudzan bukan berarti pura-pura semuanya baik. Bukan pula berarti membiarkan diri ditipu atau menerima ketidakadilan tanpa sikap kritis. Husnudzan berarti tidak buru-buru menuduh ketika informasi yang kita miliki belum lengkap.

Aa Gym mengingatkan bahwa baik sangka menjadi dasar sebuah persaudaraan dan persahabatan. Selama seseorang masih berada di jalur yang benar, prasangka buruk sebaiknya tidak dibiarkan merusak hubungan.

Pesan itu terasa semakin penting di era media sosial dan AI.

Hari ini, kita bisa menerima puluhan bahkan ratusan informasi dalam sehari. Sebuah potongan video dapat membuat seseorang terlihat bersalah. Sebuah unggahan dapat membuat kita merasa orang lain sedang menyindir kita. AI bahkan mampu menghasilkan foto, suara, dan video yang tampak nyata.

Kalau kita terbiasa langsung percaya dan langsung menuduh, media sosial akan membuat hati semakin mudah lelah.

Allah SWT sudah mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 agar orang-orang beriman menjauhi banyak prasangka karena sebagian prasangka merupakan dosa.

Sebab prasangka tidak berhenti di dalam hati. Ia bisa berubah menjadi komentar, pesan, pertengkaran, bahkan permusuhan.

Menariknya, pelajaran tentang ini sudah terlihat dalam sejarah Rasulullah saw.

Saat Perjanjian Hudaibiyah pada tahun keenam Hijriah, sekitar 1.400 sahabat kecewa karena kesepakatan dengan kaum Quraisy terasa sangat merugikan. Umar bin Khattab bahkan sempat mempertanyakan keputusan Rasulullah.

Namun, Rasulullah tetap yakin dengan keputusan yang telah diambil. Waktu kemudian menunjukkan bahwa apa yang tampak seperti kerugian justru menjadi salah satu jalan penting bagi perkembangan dakwah Islam.

Kisah tersebut mengajarkan satu hal penting: kita tidak selalu mampu melihat seluruh kebaikan dari sebuah kejadian ketika sedang berada di dalamnya.

Ini juga berlaku dalam kehidupan kita. Kehilangan pekerjaan bisa terasa seperti akhir. Penolakan bisa terasa seperti kegagalan. Rencana yang berantakan bisa membuat kita merasa Allah tidak berpihak kepada kita. Padahal, kita hanya melihat satu bagian dari cerita.

Karena itu, husnudzan kepada Allah bukan berarti berhenti berusaha. Kamu tetap mencari pekerjaan, meningkatkan kemampuan, mengatur keuangan, memperbaiki hubungan, dan mengambil keputusan berdasarkan fakta.

Bedanya, kamu tidak membiarkan kegagalan membuatmu menyimpulkan bahwa Allah sedang menghukummu.

Begitu pula kepada manusia. Kalau teman tidak membalas pesan, jangan langsung menganggap dia sombong. Kalau seseorang terlihat menjauh, jangan buru-buru menyimpulkan dia membencimu. Kalau mendengar kabar tentang orang lain, cari tahu sebelum ikut menyebarkannya.

Tabayun tetap perlu. Waspada tetap penting. Tetapi hati tidak harus dipenuhi prasangka. Apalagi hidup di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita memeriksanya. Kita tidak bisa mengendalikan ekonomi. Kita tidak bisa menghentikan perkembangan AI. Kita juga tidak mungkin mengatur apa yang muncul di media sosial setiap hari.

Namun, kita masih bisa mengendalikan cara hati merespons semuanya.

Saat hidup terasa berat, jangan tambahkan beban dengan mencurigai semua orang. Saat melihat keberhasilan orang lain, jangan langsung merasa rezekimu berkurang. Saat doa belum terkabul, jangan buru-buru menganggap Allah tidak mendengar.

Husnudzan adalah cara menjaga hati agar tetap waras ketika dunia terasa tidak pasti.

Berbaik sangka bukan karena hidup sedang mudah. Justru karena hidup sedang sulit, kita membutuhkan keyakinan bahwa apa yang belum kita pahami hari ini tetap berada dalam pengetahuan Allah.

Boleh jadi kita belum melihat jawabannya. Tugas kita adalah tetap berikhtiar, tetap tabayun, tetap menjaga persaudaraan, dan tetap percaya kepada Allah. Sebab tidak semua yang terlihat buruk hari ini akan berakhir buruk.

 

Foto:   Pexels

 

#Husnudzan #BerbaikSangka #IslamicReminder #KajianIslam #MotivasiIslam #SelfReminder #MuslimIndonesia #ParentingIslami #Hijrah #InspirasiIslam