Jangan Sok Kuat, Iman Bisa Tergerus Teman
Pernah merasa yakin bahwa iman kamu cukup kuat sehingga tidak akan terpengaruh lingkungan pertemanan? Hati-hati. Anggapan seperti ini justru bisa membuat seseorang lengah.
Memilih teman bukan sekadar soal siapa yang seru diajak ngobrol, punya hobi sama, atau selalu ada ketika dibutuhkan. Dalam Islam, lingkungan pergaulan juga berkaitan dengan penjagaan iman.
Apa yang sering kita lihat, dengar, dan anggap biasa perlahan dapat memengaruhi cara berpikir dan perilaku.
Pesan ini disampaikan Dr. Sh. Haifaa Younis. Ia mengingatkan agar seseorang memilih lingkungan pertemanan dengan bijak karena secara perlahan kita bisa menjadi seperti orang-orang yang paling sering berada di sekitar kita.
Pesan tersebut juga menyoroti satu hal yang sering dianggap sepele. Jangan merasa terlalu kuat untuk terpengaruh.
Kita mungkin berkata, “Saya tahu itu salah. Saya tidak akan ikut-ikutan.” Namun, pengaruh pertemanan sering bekerja secara perlahan.
Sesuatu yang awalnya membuat kita tidak nyaman bisa berubah menjadi hal yang biasa karena terlalu sering melihatnya.
Dr. Haifaa juga menggambarkan bagaimana seseorang bisa terjerumus. Langkah pertama belum tentu langsung melakukan dosa.
Bisa dimulai dari menerima atau membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah. Setelah itu, seseorang mulai membela perilaku tersebut, mencari alasan untuk membenarkannya, bahkan ikut berdebat demi mempertahankannya.
Pada tahap berikutnya, ia bisa saja melakukan hal yang sebelumnya ia yakini sebagai dosa.
Di sinilah pentingnya mengevaluasi lingkaran pertemanan.
Rasulullah saw. bahkan mengingatkan bahwa seseorang mengikuti agama atau jalan hidup teman dekatnya. Karena itu, setiap orang diperintahkan memperhatikan dengan siapa ia berteman.
Hadis lain menggambarkan teman yang baik dan buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.
Dari penjual minyak wangi, seseorang setidaknya mendapatkan aroma yang baik. Sementara dari pandai besi, seseorang bisa terkena percikan api atau mendapatkan bau tidak sedap.
Pesannya jelas. Pengaruh teman tidak selalu muncul dalam bentuk ajakan langsung.
Kadang pengaruh itu hadir melalui candaan yang terus diulang. Bisa juga melalui gaya hidup yang awalnya terasa asing, kemudian menjadi normal karena sering dilakukan bersama.
Termasuk ketika seseorang mulai menganggap remeh salat, membuka aurat, konsumsi alkohol, hubungan yang melampaui batas, perkataan kasar, atau berbagai bentuk maksiat lainnya.
Masalahnya, manusia memiliki kecenderungan beradaptasi dengan lingkungannya. Hal yang dilakukan berulang kali bisa kehilangan rasa asing. Batas antara “ini salah” dan “ini biasa saja” pun perlahan menjadi kabur.
Karena itu, jangan menggunakan alasan “iman saya kuat” untuk membenarkan lingkungan yang terus menyeret kamu menjauh dari Allah.
Memilih teman baik juga tidak berarti harus memusuhi orang yang berbeda atau merasa lebih suci dari orang lain. Kamu tetap bisa bersikap baik kepada siapa saja. Namun, kedekatan memiliki konsekuensi.
Tidak semua orang harus menjadi teman dekat, tempat berbagi rahasia, atau orang yang paling sering kamu ikuti.
Coba lihat lingkaran terdekat kamu. Setelah sering bersama mereka, apakah kamu semakin dekat dengan Allah atau justru semakin jauh? Apakah mereka mengingatkan ketika kamu salah atau justru membuat kesalahan terasa normal?
Apakah keberadaan mereka membuat kamu lebih menjaga batas agama atau semakin sering mencari pembenaran?
Pertanyaan itu penting karena menjaga iman membutuhkan kewaspadaan.
Jangan menunggu sampai hati terbiasa dengan dosa baru kemudian sadar bahwa lingkungan pertemanan ikut membentuk diri kita.
Teman yang baik seharusnya membantu kamu menjadi pribadi yang lebih baik. Ia tidak harus sempurna. Namun, setidaknya kehadirannya membuat kamu lebih mudah mengingat Allah, menjaga akhlak, dan kembali ketika mulai menyimpang.
Jadi, sebelum berkata “Saya tidak akan terpengaruh,” coba tanyakan kepada diri sendiri: “Mengapa saya terus berada di lingkungan yang bisa mengikis iman?”
Kadang menjaga iman bukan soal seberapa kuat kita menghadapi pengaruh buruk. Menjaga iman juga berarti cukup bijak untuk tahu kapan harus menjaga jarak.
Foto: Pexels
#TemanBaik #PertemananIslami #MenjagaIman #IslamicLifestyle #NasihatIslam #AkhlakMuslim #Hijrah #MuslimLifestyle #KajianIslam #DrHaifaaYounis