Kenal Gadget Terlalu Dini, Benarkah Anak Makin Rentan Depresi?
Masa kecil yang dulu diisi dengan bermain, berlari, membaca buku, dan berbicara dengan orang tua kini semakin sering ditemani layar. Gadget bahkan sudah masuk ke kehidupan anak sejak usia sangat dini. Masalahnya, semakin cepat anak mengenal dunia digital, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi orang tua.
Penelitian terbaru UNSW Sydney, Australia yang dipublikasikan di JAMA Network Open pada Agustus 2026 memberi alasan untuk lebih berhati-hati. Penelitian yang melibatkan 365 remaja berusia 10 sampai 15 tahun bersama salah satu orang tua mereka menemukan hubungan antara usia pertama kali menggunakan media sosial dengan kesehatan mental. Anak yang mulai menggunakan media sosial pada usia lebih muda melaporkan lebih banyak gejala kecemasan dan depresi.
Dalam penelitian tersebut, sekitar 70 persen peserta pernah menggunakan media sosial. Sekitar separuh bahkan sudah memiliki akun sendiri. Rata-rata usia pertama kali menggunakan media sosial berada di angka 11 tahun.
Temuan yang menarik justru bukan sekadar apakah anak memiliki akun media sosial atau tidak. Usia ketika anak pertama kali masuk ke media sosial tampak lebih berkaitan dengan kondisi mental mereka. Peneliti UNSW menilai menunda paparan pertama terhadap media sosial berpotensi menjadi salah satu langkah untuk melindungi kesehatan mental anak.
Namun, orang tua juga perlu berhati-hati membaca hasil penelitian ini. Temuan tersebut menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa media sosial sendirilah yang pasti menyebabkan depresi. Kesehatan mental anak dipengaruhi banyak faktor, mulai dari keluarga, lingkungan sekolah, hubungan pertemanan, tekanan sosial, kualitas tidur, hingga kondisi psikologis sebelumnya.
Meski begitu, pola penggunaan gadget tetap perlu diperhatikan.
Gadget dapat membuat anak terbiasa mendapatkan rangsangan secara cepat. Video pendek berganti dalam hitungan detik. Gim menawarkan hadiah dan tantangan terus-menerus. Media sosial menghadirkan jumlah informasi dan perbandingan sosial yang tidak ada habisnya.
Anak yang belum matang secara emosional tentu belum selalu mampu memahami apa yang mereka lihat. Mereka bisa membandingkan dirinya dengan anak lain, merasa tidak cukup baik, mengejar perhatian melalui jumlah likes, atau mengalami tekanan ketika melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih menyenangkan.
Penelitian lain terhadap remaja Australia juga menemukan bahwa penggunaan media sosial lebih dari dua jam sehari berkaitan dengan peningkatan risiko gejala depresi dan penurunan kesejahteraan. Risikonya terlihat lebih besar pada masa awal remaja, terutama usia 12 sampai 13 tahun.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar “anak boleh atau tidak memegang gadget”. Orang tua perlu melihat kapan anak mulai mengenalnya, untuk apa gadget digunakan, konten apa yang dikonsumsi, dan berapa lama anak berada di depan layar.
Pesan tentang pengawasan gadget pada anak juga disampaikan Ustaz Abdul Somad terkait pendidikan anak di era teknologi.Beliau secara khusus membahas bagaimana orang tua mendidik anak di zaman yang serba gadget.
"Peran orang tua menjadi penting. Jangan sampai gadget diberikan kepada anak hanya karena orang tua membutuhkan cara cepat agar anak diam. Jangan pula layar menjadi pengganti interaksi, percakapan, permainan, dan perhatian dari ayah dan ibu," demikian pesan beliau.
Anak tetap membutuhkan kehadiran manusia nyata.
Ajak anak bermain tanpa gadget. Biasakan makan tanpa layar. Berikan waktu untuk berbicara sebelum tidur. Kenalkan buku, aktivitas fisik, kegiatan sosial, dan ibadah. Jika anak mulai menggunakan perangkat digital, dampingi mereka mengenali konten yang sehat dan tidak sehat.
Orang tua juga perlu memberi contoh. Sulit meminta anak mengurangi gadget jika ayah dan ibu sendiri terus memegang ponsel setiap saat.
Menunda media sosial bukan berarti menjauhkan anak dari teknologi. Justru orang tua sedang memberi kesempatan kepada anak untuk membangun kemampuan mengendalikan diri sebelum menghadapi dunia digital yang jauh lebih kompleks.
Anak tidak harus menjadi yang paling cepat mengenal teknologi. Mereka perlu cukup matang untuk menggunakannya tanpa kehilangan kendali atas dirinya.
Foto: Pexels
#ParentingIslami #KesehatanMentalAnak #GadgetAnak #MediaSosial #PolaAsuh #AnakDanGadget #ParentingIndonesia #KesehatanMental #PendidikanAnak #KeluargaMuslim