Puasa Asyura Berapa Hari? Ini Penjelasan UAH dan Jadwal Lengkapnya
Muharram selalu membawa semangat baru bagi umat Islam. Selain menandai pergantian tahun Hijriah, bulan pertama dalam kalender Islam ini juga menyimpan sejumlah amalan istimewa, salah satunya puasa Tasua dan Asyura.
Menjelang 10 Muharram 1448 H, banyak muslim kembali bertanya-tanya: Puasa Asyura sebenarnya berapa hari? Apakah cukup tanggal 10 Muharram saja, atau sebaiknya ditambah tanggal 9 dan 11 Muharram?
Pertanyaan tersebut semakin ramai karena tahun ini terdapat perbedaan penetapan awal Muharram antara pemerintah, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU), sehingga jadwal puasa juga tidak sepenuhnya sama.
Mengapa Puasa Asyura Istimewa?
Puasa Asyura dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram. Rasulullah sangat menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan hari tersebut dengan berpuasa. Keutamaan puasa ini disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim: "Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang lalu."
Karena itulah, banyak ulama menyebut Asyura sebagai salah satu puasa sunah paling utama setelah puasa Ramadan.
Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam berbagai kajiannya juga menegaskan bahwa puasa Asyura merupakan amalan yang memiliki keutamaan luar biasa karena secara khusus disebutkan oleh Rasulullah sebagai sebab penghapus dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya.
Menurut UAH, seorang muslim tidak seharusnya melewatkan kesempatan ini hanya karena menganggapnya sebagai amalan sunah biasa.
"Puasa Asyura memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah secara khusus menyebutkan penghapusan dosa setahun yang telah berlalu. Ini peluang yang sayang jika dilewatkan," terang Ustaz Adi Hidayat tentang amalan Muharram.
Mengapa Ada Puasa Tasua?
Selain Asyura, umat Islam juga dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharram yang dikenal sebagai Puasa Tasua. Anjuran ini berangkat dari hadis Ibnu Abbas ra. ketika para sahabat menyampaikan kepada Rasulullah bahwa kaum Yahudi juga mengagungkan dan berpuasa pada hari Asyura.
Mendengar hal tersebut, Rasulullah saw. bersabda:v"Jika aku masih hidup hingga tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR Muslim)
Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa puasa Tasua berfungsi sebagai pembeda antara amalan umat Islam dan tradisi yang dilakukan umat lain.
Puasa Asyura Berapa Hari?
Inilah bagian yang paling sering menjadi perdebatan. Sebagian orang mengira puasa Asyura harus dilakukan tiga hari berturut-turut. Sebagian lain beranggapan cukup satu hari saja.
Dalam kitab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa terdapat tiga tingkatan pelaksanaan puasa Asyura.
Tingkatan Pertama
Puasa tanggal 10 Muharram saja.
Ini sudah sah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah.
Tingkatan Kedua
Puasa tanggal 9 dan 10 Muharram.
Ini merupakan pendapat yang banyak dianjurkan ulama Syafi'iyah dan Hanabilah karena mengikuti keinginan Rasulullah SAW untuk menambah puasa pada tanggal 9 Muharram.
Tingkatan Ketiga
Puasa tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.
Sebagian ulama menilai ini sebagai tingkatan paling sempurna karena semakin mempertegas perbedaan dengan puasa yang dilakukan kaum Yahudi. Dengan demikian, seseorang boleh berpuasa satu hari, dua hari, maupun tiga hari sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026
Karena terdapat perbedaan penetapan awal Muharram, jadwal puasa tahun ini juga berbeda.
Versi Pemerintah dan Muhammadiyah: Pemerintah melalui Kementerian Agama serta Muhammadiyah sama-sama menetapkan 1 Muharram 1448 H jatuh pada 16 Juni 2026.
Maka jadwal puasanya adalah:
Puasa Tasua (9 Muharram): Rabu, 24 Juni 2026
Puasa Asyura (10 Muharram): Kamis, 25 Juni 2026
Versi Nahdlatul Ulama (NU). PBNU menetapkan 1 Muharram 1448 H pada 17 Juni 2026.
Sehingga jadwalnya menjadi:
Puasa Tasua (9 Muharram): Kamis, 25 Juni 2026
Puasa Asyura (10 Muharram): Jumat, 26 Juni 2026
Perbedaan ini merupakan hal yang lumrah dalam penetapan kalender Hijriah dan tidak perlu menjadi bahan perdebatan di tengah masyarakat.
Niat Puasa Tasua dan Asyura
Bagi yang ingin melaksanakan Puasa Tasua, berikut niatnya:
Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatit Tasû'â lillâhi ta'âlâ.
"Aku berniat puasa sunah Tasua esok hari karena Allah Swt."
Sementara niat Puasa Asyura adalah:
Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta'âlâ.
"Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah Swt."
Jangan Sibuk Memperdebatkan, Fokus pada Amalannya
Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah Swt. Karena itu, semangat yang perlu dikedepankan bukanlah memperdebatkan perbedaan tanggal, melainkan memanfaatkan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh.
Jika mampu, berpuasalah pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Jika ingin menyempurnakannya, tambahkan tanggal 11 Muharram. Namun bila hanya mampu melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharram, tetap ada keutamaan besar yang dijanjikan Rasulullah.
Pada akhirnya, yang terpenting bukan berapa hari puasanya, melainkan bagaimana kita memanfaatkan bulan Muharram sebagai momentum memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah Swt.
Foto: Pexels
#PuasaAsyura #PuasaTasua #Muharram1448H #TahunBaruIslam #UstazAdiHidayat #AmalanMuharram #PuasaSunnah #Islam #MuslimIndonesia #InfoIslamHariIni