"Dulu, Aku Sering Nonton Bola Bareng Ayah"
Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang gol spektakuler, kejutan dari tim kuda hitam, atau perebutan trofi paling bergengsi di dunia. Bagi sebagian orang tua, turnamen empat tahunan ini menghadirkan sesuatu yang jauh lebih berharga: kesempatan menciptakan kenangan bersama anak.
Mungkin kita masih mengingat Piala Dunia pertama yang kita tonton saat kecil. Nama-nama seperti Ronaldo, Zidane, Ronaldinho, atau David Beckham terasa seperti pahlawan yang tak akan pernah menua. Kita menghafal susunan pemain, mengoleksi stiker, dan berdebat dengan teman tentang siapa pesepak bola terbaik di dunia.
Kini, waktu telah berlalu. Anak-anak yang dulu berteriak saat tim favorit mencetak gol perlahan berubah menjadi orang tua. Namun menariknya, Piala Dunia kembali menghadirkan keajaiban yang sama—kali ini melalui mata anak-anak kita.
Ketika Anak Mulai Jatuh Cinta pada Sepak Bola
Ada orang tua yang sejak bayi sudah membelikan jersey tim kesayangan untuk anaknya. Ada pula yang berharap suatu hari sang anak akan mengikuti hobinya menonton sepak bola. Namun kenyataannya, kecintaan terhadap olahraga tidak bisa dipaksa. Anak perlu menemukan sendiri ketertarikannya. Ia perlu bermain, berlari, menendang bola, dan merasakan kegembiraan bersama teman-temannya.
Karena itu, ketika suatu hari anak mulai bertanya, "Ayah, siapa yang lebih hebat, Messi atau Ronaldo?" atau "Kenapa pemain itu sujud setelah mencetak gol?", momen tersebut terasa begitu spesial.
Bukan karena pertanyaannya sulit dijawab, tetapi karena kita sedang menyaksikan lahirnya rasa penasaran yang mungkin akan menjadi kenangan seumur hidup.
Anak Tidak Sedang Menonton Pertandingan, Mereka Sedang Belajar
Sering kali orang tua menganggap sepak bola hanya hiburan. Padahal bagi anak, menonton pertandingan bisa menjadi pengalaman belajar yang sangat kaya.
Mereka belajar mengenal berbagai negara melalui bendera dan seragam tim. Mereka belajar tentang kerja sama ketika melihat sebuah tim membangun serangan. Mereka belajar bahwa kemenangan membutuhkan usaha, sementara kekalahan harus diterima dengan lapang dada.
Bahkan dalam perspektif Islam, olahraga dapat menjadi sarana pendidikan karakter yang baik selama diarahkan dengan benar. Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk memiliki tubuh yang kuat. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya ada kebaikan."
Nilai-nilai seperti disiplin, sportivitas, kerja keras, dan semangat pantang menyerah dapat ditemukan dalam dunia olahraga.
Jangan Hanya Menonton, Bangun Percakapan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menjadikan pertandingan sebagai aktivitas pasif. Padahal momen terbaik justru hadir ketika orang tua terlibat dalam percakapan dengan anak.
Misalnya dengan bertanya:
Tim mana yang paling kamu suka?
Mengapa kamu memilih pemain itu?
Apa yang bisa dipelajari dari pertandingan tadi?
Bagaimana perasaan pemain yang kalah?
Pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak belajar berpikir, mengungkapkan pendapat, dan memahami emosi orang lain.
Menurut berbagai pakar parenting, aktivitas bersama yang disertai komunikasi berkualitas jauh lebih berpengaruh terhadap kedekatan orang tua dan anak dibanding sekadar berada di ruangan yang sama.
Kenangan yang Akan Diingat Bertahun-Tahun
Menariknya, anak sering kali tidak mengingat skor pertandingan. Mereka juga mungkin lupa siapa yang menjadi juara.
Namun mereka cenderung mengingat pengalaman yang menyertainya. Mereka mengingat saat menempel stiker pemain bersama ayah atau ibu. Mereka mengingat teriakan gembira ketika tim favorit mencetak gol. Mereka mengingat camilan yang disantap bersama saat menonton pertandingan. Dalam banyak kasus, hal-hal sederhana itulah yang justru bertahan paling lama dalam ingatan.
Setiap turnamen pada akhirnya akan usai. Trofi akan diangkat, stadion akan kembali sepi, dan perhatian dunia beralih ke peristiwa berikutnya. Namun hubungan antara orang tua dan anak tidak berhenti ketika peluit akhir dibunyikan.
Karena itu, jangan melihat sepak bola semata-mata sebagai tontonan. Lihatlah sebagai kesempatan untuk hadir lebih dekat dalam kehidupan anak. Mungkin suatu hari nanti mereka tidak lagi mengidolakan pemain yang sama. Mungkin mereka akan beralih ke hobi lain, dari musik hingga gim atau kegiatan yang sama sekali berbeda.
Tetapi waktu yang dihabiskan bersama hari ini akan tetap menjadi bagian dari cerita masa kecil mereka. Dan bisa jadi, bertahun-tahun dari sekarang, ketika Piala Dunia kembali bergulir, anak yang dulu duduk di samping kita akan berkata kepada anaknya sendiri:
"Dulu, aku sering nonton bola bareng Ayah."
Mungkin itulah kemenangan terbesar yang bisa diraih seorang orang tua.
Foto: AI Generated
#Parenting #PialaDunia2026 #WorldCup2026 #AyahDanAnak #KeluargaHarmonis #PendidikanAnak #InspirasiParenting #SepakBola #MuslimParenting #HobiBola