Hubungan AS-Israel Mulai Retak, Akankah Romansa Itu Berakhir?
Selama puluhan tahun, hubungan Amerika Serikat dan Israel sering digambarkan sebagai salah satu aliansi paling kuat dalam politik global. Washington menjadi pelindung diplomatik utama Israel, sementara Tel Aviv menjadi sekutu strategis Amerika di Timur Tengah. Namun perkembangan terbaru memunculkan pertanyaan yang mulai ramai dibahas para analis internasional: apakah hubungan istimewa AS-Israel sedang memasuki fase baru?
Pertanyaan itu menguat setelah serangkaian pernyataan keras, perbedaan kebijakan, hingga manuver politik yang menunjukkan bahwa Washington dan Tel Aviv tidak lagi selalu berjalan seirama. Meski belum bisa disebut "perceraian politik", tanda-tanda keretakan mulai terlihat semakin jelas.
Netanyahu Bantah Israel Dikendalikan Trump
Perdebatan terbaru bermula ketika Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Israel sangat menghormatinya dan melakukan apa yang ia katakan. Dalam sebuah wawancara, Trump bahkan menyatakan dirinya memiliki pengaruh yang cukup besar untuk mengendalikan tindakan Israel di kawasan. Pernyataan tersebut langsung memicu respons dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Dalam sebuah forum internasional di Yerusalem, Netanyahu menolak anggapan bahwa dirinya mengikuti instruksi Trump atau sebaliknya. Menurut Netanyahu, baik Amerika Serikat maupun Israel adalah negara merdeka yang mengambil keputusan berdasarkan kepentingan nasional masing-masing. Pernyataan itu mungkin terdengar diplomatis. Namun bagi banyak pengamat, kalimat tersebut merupakan pesan bahwa Israel tidak ingin dipersepsikan sebagai pihak yang berada di bawah kendali Washington.
Retak Setelah Perang Iran?
Beberapa pekan terakhir, media internasional ramai menyoroti meningkatnya perbedaan pandangan antara pemerintahan Trump dan kabinet Netanyahu pascakonflik Iran. Setelah operasi militer bersama terhadap Iran pada awal tahun, arah kebijakan kedua negara mulai terlihat berbeda.
Washington lebih fokus pada stabilitas kawasan, jalur energi global, dan upaya mengamankan kesepakatan damai yang melibatkan Teheran. Sebaliknya, pemerintahan Netanyahu masih ingin mempertahankan tekanan militer terhadap berbagai kelompok yang dianggap mengancam keamanan Israel, termasuk di Lebanon. Perbedaan prioritas inilah yang mulai memunculkan gesekan.
Bahkan sejumlah media Israel melaporkan bahwa Amerika Serikat telah memberikan batasan baru terhadap ruang gerak militer Israel di Lebanon. Jika sebelumnya Tel Aviv memiliki keleluasaan yang lebih besar, kini Washington disebut tidak lagi memberikan "cek kosong" seperti tahun-tahun sebelumnya.
Trump Mulai Kehilangan Kesabaran?
Ketegangan semakin terlihat ketika Trump secara terbuka mengkritik serangan Israel yang dinilai berpotensi mengganggu kesepakatan regional yang sedang dibangun Amerika. Sejumlah pejabat Gedung Putih disebut-sebut mulai frustrasi terhadap sikap sebagian tokoh pemerintahan Netanyahu yang terus menentang pendekatan diplomatik AS terhadap Iran.
Wakil Presiden JD Vance bahkan menyampaikan kritik yang cukup tajam. Menurutnya, tidak bijak jika sejumlah menteri Israel justru menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih secara konsisten mendukung mereka di panggung internasional. Pernyataan itu menunjukkan bahwa hubungan kedua negara kini tidak lagi sekadar dipenuhi pujian dan kesepakatan.
Washington Mulai Melirik Pengganti Netanyahu?
Inilah bagian yang paling menarik.
Sejumlah media Israel menyebut pemerintahan Trump mulai membuka komunikasi informal dengan sejumlah tokoh oposisi Israel. Nama mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dan mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot disebut masuk dalam radar Washington. Tujuannya bukan untuk menentukan pemenang pemilu Israel, melainkan membangun jalur komunikasi alternatif jika terjadi pergantian pemerintahan.
Langkah seperti ini tergolong tidak biasa. Karena selama bertahun-tahun, hubungan personal antara pemimpin AS dan Netanyahu menjadi salah satu fondasi utama kerja sama kedua negara. Ketika Washington mulai aktif membangun hubungan dengan calon-calon pemimpin baru, banyak analis melihatnya sebagai sinyal bahwa kepercayaan terhadap Netanyahu mulai berkurang.
Rakyat Israel Mulai Berubah Sikap
Masalah Netanyahu tidak hanya datang dari luar negeri. Survei yang dilakukan Hebrew University of Jerusalem bersama Agam Institute menunjukkan angka yang mengejutkan.
Lebih dari 90 persen responden menilai Iran keluar sebagai pihak yang lebih diuntungkan setelah konflik terbaru berakhir. Sebagian besar responden juga menyatakan tidak percaya terhadap klaim pemerintah bahwa Israel berhasil mencapai tujuan strategisnya. Tingkat dukungan terhadap Netanyahu pun mengalami penurunan signifikan dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Bagi seorang pemimpin yang selama ini membangun citra sebagai penjaga keamanan Israel, hasil survei tersebut menjadi sinyal peringatan yang serius.
Akankah Romansa AS-Israel Berakhir?
Jawabannya kemungkinan besar: belum. Hubungan Amerika Serikat dan Israel terlalu dalam untuk runtuh hanya karena satu konflik atau satu pemerintahan. Kerja sama militer, ekonomi, intelijen, teknologi, dan diplomasi yang telah dibangun selama puluhan tahun masih menjadi fondasi yang sangat kuat.
Namun yang sedang berubah adalah bentuk hubungan itu. Jika sebelumnya Israel sering mendapatkan dukungan hampir tanpa syarat dari Washington, kini Amerika tampaknya mulai lebih berani mengingatkan, mengkritik, bahkan membatasi beberapa langkah sekutunya.
Fenomena ini menjadi tanda meningkatnya ketegangan strategis meskipun dapat juga dilihat sebagai proses normal ketika dua sekutu memiliki kepentingan yang tidak selalu identik. Dengan kata lain, hubungan AS-Israel mungkin tidak sedang menuju perpisahan.
Tetapi keduanya tampaknya mulai menyadari bahwa persahabatan panjang tidak selalu berarti harus sepakat dalam segala hal. Dan jika tren ini berlanjut, dunia mungkin akan menyaksikan babak baru dalam hubungan dua negara yang selama puluhan tahun dianggap tak terpisahkan.
Foto: AFP
Hashtags: #ASIsrael #DonaldTrump #BenjaminNetanyahu #TimurTengah #Iran #Lebanon #PolitikGlobal #Geopolitik #WorldNews #PerangIran