Eropa Bergejolak, Islam Ingatkan Bahaya Hidup Berlebihan
Gelombang protes biaya hidup mengguncang sejumlah negara Eropa pada Oktober 2026. Ribuan hingga ratusan ribu orang turun ke jalan di Prancis, Belgia, Italia, dan Portugal pada Sabtu, 17 Oktober 2026, untuk menyuarakan keresahan tentang harga kebutuhan, upah, biaya pendidikan, dan sulitnya mendapatkan tempat tinggal.
Di Prancis, demonstrasi meluas ke sejumlah kota dan sebagian aksi berubah menjadi bentrokan, pembakaran, serta penjarahan.
Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan mendasar: ketika biaya hidup terus menekan masyarakat, sejauh mana pemerintah mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya?
Menurut laporan Al Jazeera pada 17 Oktober 2026, tuntutan para demonstran berbeda di setiap negara, tetapi memiliki benang merah berupa tekanan ekonomi dan ketidakpuasan terhadap layanan publik. Di Portugal, persoalan harga rumah dan sewa menjadi sorotan.
Di Prancis, tuntutan juga menyangkut daya beli, harga bahan bakar, upah, dan kondisi pendidikan. Baca laporan Al Jazeera.
Situasi tersebut mengingatkan kita pada ajaran Islam tentang hidup sederhana, larangan berlebih-lebihan, dan kewajiban pemimpin mengurus kebutuhan rakyat. Islam tidak mengajarkan manusia mengejar kemewahan tanpa batas, sementara orang lain kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.
Pada saat yang sama, Islam juga menempatkan jabatan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan adil dan bertanggung jawab.
Apa pelajaran Islam dari krisis biaya hidup di Eropa?
Pertama, Islam mengajarkan keseimbangan dalam menggunakan harta. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 67:
“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.”
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang muslim perlu mengelola pengeluaran secara bijak. Tidak boros, tetapi juga tidak kikir. Prinsip tersebut relevan ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Mengatur kebutuhan, membedakan keinginan dan keperluan, serta menghindari utang konsumtif dapat membantu keluarga menjaga kondisi keuangan.
Namun, gaya hidup sederhana tidak boleh dijadikan alasan untuk menyalahkan masyarakat miskin atas kesulitan mereka. Tidak semua persoalan biaya hidup muncul karena perilaku konsumtif. Harga pangan, biaya tempat tinggal, tingkat upah, kesempatan kerja, dan kebijakan publik juga memengaruhi kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mengapa pemerintah wajib memperhatikan rakyat kecil?
Dalam Islam, kekuasaan bukan hak istimewa untuk hidup nyaman tanpa memedulikan keadaan masyarakat. Kekuasaan adalah amanah. Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 58 agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan keputusan di antara manusia ditetapkan secara adil.
Prinsip ini menuntut pemerintah memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat. Kebijakan ekonomi perlu mempertimbangkan kemampuan rakyat membeli pangan, memperoleh tempat tinggal yang layak, mengakses pendidikan, mendapatkan layanan kesehatan, dan memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai.
Pemerintah juga perlu mengevaluasi apakah bantuan sosial tepat sasaran, apakah anggaran publik benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, dan apakah kebijakan yang dibuat memperlebar atau mengurangi kesenjangan. Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi. Kondisi kehidupan warga juga harus menjadi ukuran.
Apakah Islam membenarkan kerusuhan sebagai bentuk protes?
Keluhan masyarakat yang menghadapi kesulitan hidup patut didengar. Menyampaikan aspirasi secara damai juga merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat. Namun, keresahan ekonomi tidak otomatis membenarkan kekerasan, penjarahan, atau perusakan fasilitas umum.
Tindakan tersebut dapat merugikan warga lain, termasuk pedagang kecil yang kehilangan tempat usaha dan masyarakat yang membutuhkan layanan publik. Karena itu, pemerintah perlu membuka ruang dialog dan menanggapi tuntutan secara serius, sementara masyarakat menyampaikan aspirasi dengan cara yang tidak merusak hak orang lain.
Gelombang protes di Eropa menjadi pengingat bahwa stabilitas sosial membutuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Kepercayaan itu sulit tumbuh jika warga merasa kebutuhan dasarnya terabaikan, sementara kebijakan publik tidak menjawab persoalan sehari-hari mereka.
Islam mengajarkan kesederhanaan kepada individu dan keadilan kepada pemegang kekuasaan. Masyarakat perlu mengelola harta secara bertanggung jawab. Pemerintah perlu memastikan kebijakan dan anggaran berpihak pada kemaslahatan bersama.
Sebab, kesejahteraan tidak cukup dinilai dari kemewahan yang terlihat di pusat kota atau angka pertumbuhan ekonomi. Kesejahteraan juga terlihat ketika keluarga mampu membeli makanan, anak-anak memperoleh pendidikan, pekerja menerima upah yang layak, dan masyarakat dapat menjalani hidup dengan bermartabat.
Foto: Business of Fashion
#Islam #GayaHidupIslami #HidupSederhana #KeadilanSosial #BiayaHidup #Eropa #AmanahPemimpin #EkonomiUmat #TadaburAlQuran #DamaiIndonesiaku