SEJARAH MOBIL LISTRIK INDONESIA: MEMANG TINGGAL SEJARAH
Saya ingat betul. Terbaca jelas di sebuah media online: IKIP Bandung (sekarang UPI) menjuarai mobil listrik dunia. Itu terjadi 15 tahun lalu. Saya kasih tahu istri saya untuk mengucapkan selamat karena dekan Fakultas Tekniknya teman sekelas istri saya. Istri saya menelepon Agus, begitu nama dekannya, mengucapkan selamat. Setelah istri saya basa-basi, telepon saya ambil. Saya juga ikut mengucapkan selamat. Saya bertanya tentang penyambutan kepulangan para juara itu karena disebutkan dalam berita itu akan sampai Jakarta besok malam.
“Nanti saja habis Lebaran, Kang Nur, di upacara kampus,” kata Pak Dekan. Waduh, masa juara dunia tidak ada yang menyambut kedatangannya gara-gara Lebaran. Lebaran sih tiap tahun. Tapi IKIP Bandung juara dunia belum dapat dipastikan kapan terjadi lagi. Bayangkan, mahasiswa IKIP Bandung mengalahkan raksasa otomotif dunia: Jerman, Amerika, Jepang, dll. Apakah Cina ikut? Saya lupa. Apakah Vietnam ikut? Saya lupa juga. Kedua negara itu belum menunjukkan geliatnya di bidang otomotif waktu itu.
Tapi akhirnya penjemputan terjadi. Menteri Pendidikan Tinggi pada waktu itu, M. Nasir, dan Rektor IKIP Bandung, Prof. Furqon, mengalungkan bunga kepada para juara. Karena berita Lebaran sepi, maka acara penyambutan pun menjadi berita utama di beberapa media. Cukup menghebohkan. Tentu saja kita bangga punya anak-anak bangsa menjadi juara dunia untuk sesuatu yang di kita tidak punya dasar teknologinya kecuali dari Jepang.
Lima belas tahun kemudian, anak-anak IKIP Bandung, para juara itu, hanya mengelus dada. Kepeloporannya tidak ada harganya. Ternyata tanah kelahirannya sudah dibanjiri mobil listrik buatan Cina dan Vietnam. Padahal kedua negara itu belum diperhitungkan dalam kejuaraan waktu itu. Hanya dalam lima belas tahun, kedua negara komunis ini sudah berjaya di dunia menjadi produsen utama mobil listrik.
Menurut GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), ada 16 merek mobil Cina yang beroperasi di Indonesia: Wuling, BYD, DFSK, Chery, Neta, Jaecoo, dan lain-lain. Dan BYD menguasai pasar mobil listrik terbesar di Indonesia dengan penjualan Januari–September mencapai 42.710 unit. BYD ini menguasai 63% pasar mobil listrik Indonesia. Disusul Jaecoo sebesar 26.886 unit, baru Wuling di angka 20 ribuan unit. Tak satu merek pun produk anak bangsa.
Tak ketinggalan, Vietnam mulai agresif untuk menapaki pasar mobil Indonesia ini. Dengan merek VinFast, Vietnam menjadikan Indonesia sebagai rumah kedua basis pemasarannya di Asia Tenggara. VinFast membangun pabriknya di Subang, Jawa Barat. Dari Subang ini, VinFast akan mengekspornya ke negara Asia Tenggara lainnya. Menurut data GAIKINDO, penjualan VinFast dari Januari–Mei 2026 terjual 1.424 unit. Masih kecil sih angkanya. Tapi Vietnam sangat agresif.
Jadi, rupanya hasil penelitian anak-anak IKIP Bandung itu hanya masuk perpustakaan. Tidak ada yang tertarik untuk membawanya ke industri. Lima belas tahun lalu kita sudah punya cikal bakal mobil listrik dari anak-anak IKIP. Dan sampai sekarang masih menjadi cikal bakal di perpustakaan IKIP Bandung.
Pernah dilakukan secara serius pembuatan mobil listrik ini zaman Menteri BUMN Dahlan Iskan. Dia memanggil lima orang putra terbaik bangsa yang sedang bekerja di perusahaan raksasa otomotif dunia: Amerika, Jepang, dan Jerman. Maaf, saat itu Cina dan Vietnam belum ada dalam hitungan. Ada lima orang yang dipanggil Dahlan Iskan, yaitu Ricky, Epson, Dasep Ahmadi, Gendist, dan Danet Suryatma. Dahlan Iskan menyebutnya sebagai putra Petir.
Kelima anak-anak pilihan ini diminta untuk membuat mobil listrik versi masing-masing. Maka lahirlah tipe-tipe mobil dari para anak cerdas ini. Ada mobil balap supercar, mobil sport bergaya Lamborghini, MPV sekelas Alphard, dan mobil MPV biasa serta bus listrik. Kalau dilihat gambarnya, mobil ini keren-keren.
Beberapa mobil listrik ini sempat mau disiapkan untuk dipamerkan di KTT APEC di Bali dengan dukungan pendanaan dari beberapa BUMN. Tapi mobil-mobil itu gagal diproduksi karena regulasi. Gara-gara mobil ini tidak memiliki knalpot sehingga tidak bisa diuji emisi. Jadi, ekosistem industrinya dianggap belum siap. Jadi, hukum buat mobil listrik belum ada. Padahal, mungkin candaannya, kalau zaman Jokowi pasti sudah dikeluarkan Perpu untuk mendukung mobil listrik ini.
Diperparah lagi, pengadaan mobil listrik berujung kasus hukum. Dasep Ahmadi divonis bersalah karena dituduh korupsi dalam pengadaan mobil listrik ini. Bahkan Dahlan Iskan pun sempat menjadi tersangka. Berakhirlah episode pengadaan mobil listrik yang sudah jadi ini. Pengadaan mobil listrik Dahlan Iskan ini akan tetap dikenang sebagai prestasi yang pernah ditorehkan dalam sejarah otomotif bangsa ini. Untung mahasiswa IKIP Bandung tidak pernah masuk arena riset seperti yang dialami Danet Suryadarma (masuk Bui).
Ternyata memang pasar mobil listrik kita sudah ditakdirkan milik Cina dan Vietnam. Kita memang cocoknya jadi konsumen yang menjadi pasar produk orang. Padahal beberapa kali kita berdekatan dengan mobil listrik ciptaan anak bangsa ini. Cukup mobil listrik Indonesia hanya dicatat dalam sejarah bahwa anak bangsa ini pernah bisa membuat mobil listrik. Mobil listrik Indonesia hanya untuk dikenang.
Oleh: Nurjaman Mochtar - Pimred One.News
#MobilListrik #MobilListrikIndonesia #EVIndonesia #MobilListrikCina #BYDIndonesia #VinFastIndonesia #GAIKINDO #IndustriOtomotif #MobilNasional #TeknologiOtomotif
Foto: Gesit P - Kumparan