Pesta ulang tahun dengan dekorasi mewah, venue eksklusif, makanan berlimpah, hiburan, dan hadiah bernilai ratusan juta rupiah kembali ramai terlihat di media sosial.

Ketika yang menggelar influencer atau public figure, pesta tersebut bisa menjadi tontonan jutaan orang.

Ada yang kagum, ada yang ikut bahagia, tetapi tidak sedikit pula yang bertanya, benarkah menghabiskan ratusan juta untuk ulang tahun merupakan bentuk syukur?

Islam tidak melarang seseorang menikmati harta yang halal. Orang yang diberi rezeki luas juga berhak menggunakan hartanya untuk menikmati kehidupan.

Persoalannya bukan semata-mata pada mahal atau murahnya sebuah pesta. Yang perlu diperiksa adalah dari mana hartanya, bagaimana cara menggunakannya, apa niatnya, dan apakah penggunaannya melewati batas.

Kementerian Agama mengingatkan bahwa Islam tidak mengajarkan gaya hidup berlebihan. QS Al-Isra ayat 26-27 melarang tabdzir atau pemborosan. Kemenag juga menjelaskan bahwa harta seharusnya dikelola dengan bijak dan tidak sekadar digunakan untuk mengejar gaya hidup. 

Syukur Tidak Berhenti pada Pesta
Ada hal yang sering keliru dipahami. Syukur bukan berarti harus memperlihatkan seberapa besar nikmat yang kita punya.

Syukur berarti menyadari bahwa nikmat tersebut berasal dari Allah Swt., mengucapkan pujian kepada-Nya, serta menggunakan nikmat sesuai dengan jalan yang diridai-Nya.

Karena itu, seseorang yang memiliki uang Rp500 juta untuk menggelar pesta belum tentu tidak bersyukur. Sebaliknya, pesta Rp500 juta juga tidak otomatis menjadi bukti bahwa ia sedang bersyukur.

Kita tidak mengetahui isi hati seseorang. Bisa saja pesta tersebut menjadi cara berkumpul bersama keluarga dan sahabat. Bisa juga ada tujuan berbagi kepada banyak orang.

Selama hartanya halal dan penggunaannya tidak melanggar syariat, kita tidak perlu terburu-buru menuduhnya riya atau sombong.

Menampakkan nikmat pada dasarnya tidak otomatis menjadi riya. Yang membedakan antara tahadduts bin ni'mah dan pamer adalah niat serta dampaknya. 

Namun, ada pertanyaan yang lebih penting bagi kita sebagai penonton.

Apakah kita perlu ikut merasa kurang hanya karena melihat pesta orang lain?

Jawabannya tidak.

Media sosial membuat kita melihat potongan kehidupan orang lain yang paling gemerlap. Kita melihat ballroom, gaun, makanan, mobil, hadiah, dan dekorasi. Kita tidak melihat keseluruhan hidupnya. Karena itu, jangan menjadikan pesta orang lain sebagai alat ukur kebahagiaan diri sendiri.

Kapan Kemewahan Menjadi Masalah?
Kemewahan mulai patut dipertanyakan ketika seseorang menggunakannya secara berlebihan, mengabaikan kewajiban, berutang demi gengsi, merendahkan orang lain, atau menjadikan harta sebagai alat mencari pengakuan.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-A'raf ayat 31 agar manusia makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan. Kemenag juga menekankan pentingnya pola konsumsi yang tidak boros dan tidak sekadar mengejar gaya hidup. 

Jadi, ukuran syukur bukan seberapa mahal pesta yang dibuat.

Orang kaya bisa bersyukur dengan pesta. Bisa juga bersyukur dengan menjamu keluarga, membantu orang yang membutuhkan, membayar zakat, bersedekah, membangun fasilitas pendidikan, atau membahagiakan orang-orang yang selama ini ikut berjuang di belakangnya.

Bahkan orang yang memiliki kemampuan finansial didorong untuk memperluas kontribusi melalui infak, sedekah, hibah, dan wakaf.

Di sisi lain, kita sebagai penonton juga perlu menjaga hati. Jangan iri ketika melihat orang lain mampu mengadakan pesta yang tidak sanggup kita lakukan. Jangan pula buru-buru mencibir.

Biarkan mereka mempertanggungjawabkan hartanya di hadapan Allah Swt. Kita punya pertanggungjawaban sendiri.

Kalau rezeki kita cukup untuk makan sederhana bersama keluarga, bersyukurlah. Kalau suatu hari Allah memberi rezeki lebih luas, gunakan dengan bijak.

Sebab syukur tidak diukur dari berapa ratus juta yang dihabiskan dalam satu malam, tetapi dari seberapa baik nikmat itu membawa kita semakin dekat kepada Allah Swt. dan semakin bermanfaat bagi orang lain.

 

Foto: Pexels

 

#Islam #Syukur #Harta #Sedekah #Muslim #Dakwah #Lifestyle #Inspirasi #Keluarga #Rezeki