Al-Quran dan Musik Tak Akan Pernah Bersatu
JAKARTA – Sebuah konten dakwah yang menyandingkan Al-Quran dengan musik dari akun Instagram @muslimafiyahcom ramai dibagikan warganet. Konten yang tayang pada 17 September itu, saat tangkapan layar diambil, telah mengumpulkan sekitar 1,4 ribu like, 5 komentar, dan 173 bagikan ulang.
Perumpamaan Minyak dan Air
Konten tersebut menganalogikan hubungan Al-Quran dan musik seperti minyak dan air yang tidak akan pernah bisa bersatu, divisualisasikan lewat gambar cairan biru dan kuning yang tertuang dari sebuah ember namun tetap terpisah. Menurut akun ini, sangat sulit bagi Al-Quran dan musik untuk berada bersama di hati seorang hamba yang bertakwa dan berusaha dekat dengan Al-Quran, terlebih bagi mereka yang ingin menghafalkannya, mendalaminya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kutipan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
Untuk memperkuat argumennya, konten ini mengutip pernyataan ulama klasik Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, yang menyebutkan bahwa Al-Quran dan nyanyian tidak akan pernah bersatu di hati seseorang selamanya, karena keduanya bertentangan. Kutipan ini disebut bersumber dari kitab Ighatsatul Lahfan.
Kaitan dengan Fenomena Hijrah
Konten ini turut menyinggung fenomena sosial di kalangan sebagian umat Islam yang sedang berproses hijrah atau kembali mendekatkan diri pada agama. Menurut akun tersebut, banyak dari mereka yang berusaha meninggalkan kebiasaan mendengarkan musik sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Al-Quran, yang dipandang sebagai petunjuk hidup dan jalan menuju keselamatan serta kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat.
Catatan
Hukum mendengarkan musik dalam Islam merupakan salah satu topik yang diperdebatkan secara luas di kalangan ulama, dengan pandangan yang beragam mulai dari yang mengharamkan secara mutlak, membolehkan dengan syarat tertentu, hingga yang membolehkan secara umum selama tidak mengandung unsur maksiat. Pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah yang dikutip dalam konten ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab yang cenderung ketat terhadap musik, dan bukan satu-satunya pandangan yang berlaku di kalangan umat Islam. Pembaca disarankan merujuk kepada ulama yang kompeten untuk memahami perbedaan pendapat ini secara lebih komprehensif.