Iri Lihat Orang Lain Sukses, Ini Caranya ‘Membersihkan’ Hati
Melihat orang lain membeli rumah, memiliki kendaraan baru, mendapat jabatan, membuka usaha, atau hidup serba berkecukupan kadang membuat hati terasa tidak nyaman. Kita ikut tersenyum di depan mereka, tetapi diam-diam muncul pertanyaan, mengapa rezeki mereka begitu mudah sementara hidup kita masih begini-begini saja?
Perasaan seperti itu manusiawi. Namun, jika dibiarkan, iri bisa berubah menjadi dengki. Kita tidak lagi sekadar ingin memiliki keberhasilan yang sama, tetapi mulai tidak suka melihat orang lain menikmati nikmat yang Allah Swt. berikan. Dalam Islam, kondisi hati seperti ini perlu segera dibersihkan karena dapat mengganggu rasa syukur dan hubungan dengan sesama.
Ustaz Das'ad Latif juga mengingatkan tentang bahaya iri dan dengki. Beliau mengajak masyarakat menjauhi iri dan dengki karena keduanya dapat merusak persaudaraan. Beliau juga menekankan pentingnya berpikir positif dan memperbanyak sedekah sebagai bagian dari upaya menjaga ketenangan hati.
Kenapa Kita Mudah Iri?
Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan membandingkan hidup. Kita melihat hasil akhir kehidupan orang lain, lalu membandingkannya dengan proses hidup sendiri.
Media sosial membuat persoalan ini semakin terasa. Rumah yang bagus, liburan, kendaraan, pekerjaan, bisnis, sampai pencapaian anak orang lain bisa muncul setiap hari di layar. Kita melihat apa yang mereka punya, tetapi tidak melihat seluruh perjuangan, masalah, utang, kegagalan, atau ujian yang mereka hadapi.
Al-Qur'an mengingatkan dalam Surah an-Nisa ayat 32 agar manusia tidak berangan-angan terhadap kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian orang atas sebagian yang lain. Allah justru memerintahkan manusia meminta karunia-Nya.
Artinya, ketika melihat orang lain mendapat rezeki lebih banyak, arah hati seharusnya bukan kepada protes, melainkan kepada doa.
Bagaimana Membersihkan Hati dari Iri?
Pertama, akui perasaan itu. Jangan berpura-pura bahwa hati selalu bersih. Ketika muncul rasa iri, sadari bahwa ada bagian diri yang sedang membutuhkan perhatian.
Kedua, ubah perbandingan menjadi motivasi. Jika teman berhasil membangun bisnis, tanyakan apa yang bisa dipelajari. Jika orang lain memiliki rumah yang lebih bagus, jadikan itu inspirasi untuk bekerja dan menabung. Jangan berharap nikmatnya hilang.
Ketiga, biasakan mendoakan orang yang membuat kita iri. Ini memang tidak mudah. Namun, mendoakan kebaikan bagi orang lain melatih hati keluar dari persaingan yang tidak sehat.
Keempat, hitung nikmat sendiri. Kesehatan, keluarga, pekerjaan, kesempatan belajar, waktu bersama orang tua, hingga kemampuan beribadah juga merupakan rezeki. Ketika seseorang terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain, ia bisa lupa melihat karunia Allah yang sudah ada dalam hidupnya.
Kelima, perbanyak sedekah. Nasihat Ustaz Das'ad Latif tentang sedekah relevan untuk latihan membersihkan hati. Sedekah membuat kita belajar bahwa harta tidak berhenti pada apa yang kita simpan.
Apakah Ingin Sukses Seperti Orang Lain Itu Salah?
Tidak selalu. Islam tidak melarang seseorang menginginkan kehidupan yang lebih baik. Yang perlu dijaga adalah ketika keinginan tersebut berubah menjadi kebencian terhadap nikmat orang lain.
Ada perbedaan antara ingin mendapatkan kebaikan yang sama dan berharap nikmat orang lain hilang. Yang kedua merupakan bentuk hasad yang perlu dihindari.
Jadi, ketika melihat orang lain sukses, latih hati untuk berkata, “Ya Allah, berkahilah rezekinya dan berikan juga kepadaku rezeki yang baik.”
Rezeki orang lain tidak mengurangi jatah kita. Keberhasilan mereka juga tidak membuat Allah Swt. kehabisan karunia. Hati yang bersih akan melihat kesuksesan orang lain sebagai pengingat bahwa pintu rezeki Allah luas.
Tugas kita adalah memperbaiki ikhtiar, memperbanyak syukur, dan tetap mendoakan kebaikan bagi sesama.
Foto: Pexels
#Islam #Dakwah #Motivasi #Syukur #Rezeki #Hijrah #Muslim #Inspirasi #Sedekah #Hati