Ayah, Putrimu Belajar tentang Laki-Laki dari Sosokmu
Ada hal yang mungkin tidak pernah dipikirkan seorang ayah ketika sedang memeluk putrinya, mengantarnya sekolah, mendengarkan ceritanya, atau justru ketika ia membentak sang ibu di rumah.
Bagi anak perempuan, ayah bukan sekadar sosok laki-laki pertama yang ia kenal. Ayah bisa menjadi salah satu pengalaman awal yang membentuk cara seorang anak memahami rasa aman, kasih sayang, penghargaan, sekaligus bagaimana seharusnya seorang laki-laki memperlakukan perempuan. Itulah mengapa peran ayah bagi anak perempuan bukan perkara sepele.
Anak perempuan belajar tentang cinta dari rumah
Seorang anak perempuan mungkin belum memahami seperti apa pasangan hidup ketika masih kecil. Tetapi ia sedang mengamati.
Bagaimana Ayah berbicara kepada Ibu? Apakah Ayah mau mendengarkan? Apakah Ayah menunjukkan kasih sayang tanpa membuat anggota keluarga merasa takut? Apakah Ayah menghargai pendapat perempuan di rumah?
Atau sebaliknya, apakah rumah justru menjadi tempat di mana ia sering melihat kemarahan, bentakan, penghinaan, bahkan kekerasan? Semua pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari pemahamannya tentang relasi.
Ketika seorang anak tumbuh dengan ayah yang hangat, perhatian, konsisten, dan menghargai keluarganya, ia memiliki pengalaman bahwa hubungan dengan laki-laki bisa terasa aman. Kelak, pengalaman itu dapat ikut memengaruhi standar yang ia gunakan ketika menilai hubungan romantis.
Bukan berarti seorang perempuan pasti akan mencari pasangan yang persis seperti ayahnya. Tetapi apa yang ia lihat sejak kecil dapat memengaruhi apa yang terasa familiar, wajar, atau justru tidak bisa ia toleransi dalam sebuah hubungan.
Ketika bentakan dianggap sebagai hal biasa
Bayangkan seorang anak perempuan berkali-kali melihat ayah membentak ibunya. Atau ia melihat ibunya diperlakukan dengan kasar, direndahkan, bahkan mengalami kekerasan fisik.
Meski perlakuan tersebut tidak ditujukan kepadanya, anak tetap bisa terdampak. Ia sedang belajar tentang relasi dari orang-orang yang paling dekat dengannya. Jika pengalaman semacam itu terus berulang, seorang anak dapat tumbuh dengan rasa takut terhadap hubungan atau memiliki gambaran yang tidak sehat tentang bagaimana laki-laki memperlakukan perempuan.
Pada sebagian orang, pengalaman masa kecil seperti ini bahkan dapat meninggalkan trauma dan memengaruhi kepercayaan terhadap pasangan ketika dewasa.
Namun, penting juga untuk tidak menyederhanakannya menjadi, “ayah kasar, anak pasti mendapatkan suami kasar.” Manusia tidak sesederhana itu. Seseorang tetap bisa menyadari pola yang tidak sehat, mencari bantuan, membangun batasan, dan memilih hubungan yang jauh lebih sehat daripada yang pernah ia lihat di rumah.
Ayah sedang membangun standar, bukan menentukan masa depan
Inilah bagian pentingnya. Ayah memang punya pengaruh besar, tetapi ayah bukan penentu tunggal masa depan putrinya. Yang bisa dilakukan seorang ayah adalah memberikan pengalaman yang sehat sebanyak mungkin.
Tunjukkan bahwa laki-laki boleh kuat tanpa harus kasar. Bahwa menjadi kepala keluarga bukan berarti bebas mengontrol. Bahwa menyayangi pasangan bukan tanda kelemahan. Bahwa meminta maaf ketika salah justru menunjukkan kedewasaan.
Dan bahwa anak perempuan layak didengarkan, dihargai, serta diperlakukan dengan lembut.
Hal-hal yang terlihat sederhana itu bisa menjadi bekal emosional yang sangat berharga. Ketika kelak putrinya menjalin hubungan, ia diharapkan punya gambaran bahwa cinta tidak seharusnya membuatnya terus-menerus takut, berjalan di atas kulit telur, atau merasa dirinya tidak berharga.
Karena suatu hari, putrimu akan memilih untuk dirinya sendiri
Ayah tidak bisa memilihkan pasangan untuk putrinya. Tidak juga bisa menjamin bahwa ia tidak akan pernah bertemu laki-laki yang salah. Tetapi Ayah bisa membantu putrinya memahami satu hal sejak awal: cinta yang sehat seharusnya terasa aman, bukan menakutkan.
Maka, Ayah, jangan hanya sibuk mengajarkan putrimu menjadi perempuan yang baik. Ajarkan juga lewat perilakumu bahwa ia berhak mendapatkan laki-laki yang baik. Sebab mungkin suatu hari nanti, ketika ada seseorang datang menawarkan cinta, putrimu akan bertanya dalam dirinya sendiri:
“Apakah aku merasa aman bersamanya?”
Dan pengalaman yang ia dapatkan dari rumah akan menjadi salah satu bekal untuk menemukan jawabannya.
Foto: Pexels
#AyahDanAnak #AyahAnakPerempuan #ParentingAnak #ParentingIndonesia #PeranAyah #AyahHebat #KeluargaHarmonis #PolaAsuhAnak #ParentingTips #KeluargaIndonesia