Ada sebuah adegan dari Gaza yang sulit dilupakan. Seorang dokter berharap pasien kecilnya pingsan. Bukan karena ia tidak ingin anak itu sadar, tetapi karena ia tahu rasa sakit yang akan dirasakan anak tersebut ketika sebuah bagian tubuhnya harus diamputasi tanpa anestesi yang memadai.

Dr. Mark Perlmutter, dokter ortopedi asal Amerika Serikat yang pernah menjadi relawan medis di Gaza, menceritakan pengalaman itu dalam dokumenter American Doctor. Ia mengisahkan seorang anak perempuan berusia lima tahun yang harus menjalani amputasi kaki dalam kondisi medis yang sangat terbatas. Persediaan anestesi dan kebutuhan medis lainnya tidak tersedia secara memadai. 

Perlmutter menggambarkan bagaimana tim medis berharap anak itu kehilangan kesadaran selama tindakan berlangsung. Namun, harapan tersebut tidak terjadi. Anak itu tetap sadar.

Lalu apa yang bisa dilakukan dokter? Nyanyian.

Ketika obat tidak tersedia, suara manusia menjadi salah satu bentuk penghiburan yang tersisa. Dokter anestesi menyanyikan lagu untuk membantu menenangkan anak tersebut. Di tengah ruang operasi yang penuh keterbatasan, nyanyian itu menjadi cara sederhana untuk mengatakan kepada seorang anak bahwa ia tidak sendirian. (Al Jazeera)

Kisah ini memperlihatkan sisi perang yang sering hilang ketika penderitaan hanya disajikan dalam bentuk angka. Kita mungkin mendengar jumlah korban, jumlah bangunan rusak, atau jumlah orang yang mengungsi. Namun, di balik setiap angka terdapat manusia yang merasakan sakit.

Ada anak yang kehilangan kaki. Ada orang tua yang menunggu kabar anaknya. Ada dokter yang harus mengambil keputusan medis dalam keadaan yang jauh dari standar normal. Ada tenaga kesehatan yang tetap bekerja meski persediaan terus menipis.

Dalam Islam, menjaga kehidupan manusia memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Al-Qur’an dalam Surah Al-Ma’idah ayat 32 menyebut bahwa menyelamatkan satu kehidupan memiliki nilai yang sangat besar. Ayat tersebut berbicara dalam konteks ketentuan yang diberikan kepada Bani Israil, tetapi pesan moral tentang tingginya nilai sebuah kehidupan menjadi sangat kuat ketika kita melihat penderitaan manusia di tengah perang. (Quranic Arabic Corpus)

Islam juga mengenalkan Nabi Muhammad saw. sebagai rahmat bagi seluruh alam. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 107, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” 

Rahmah bukan sekadar merasa kasihan. Rahmah membuat seseorang bergerak ketika melihat manusia lain kesakitan. Itulah yang tergambar dari para tenaga medis yang tetap merawat pasien di tengah keterbatasan. Mereka mungkin tidak selalu mampu menghilangkan rasa sakit. Namun mereka berusaha agar pasien tidak menghadapinya sendirian.

Kisah ini juga mengingatkan kita agar tidak menjadikan penderitaan Gaza sekadar konsumsi media sosial. Video korban bisa viral dalam beberapa jam, lalu tenggelam oleh berita berikutnya. Namun, rasa sakit para korban tidak ikut menghilang ketika perhatian publik berpindah.

Seorang anak yang kehilangan anggota tubuh harus menjalani hidup setelah kamera berhenti merekam. Ia harus beradaptasi dengan tubuhnya. Keluarganya harus menghadapi trauma. Sistem kesehatan harus memikirkan perawatan lanjutan. Semua itu membutuhkan waktu, tenaga, dan dukungan.

Karena itu, empati tidak cukup berhenti pada rasa sedih. Kita bisa mendoakan korban. Kita bisa menyebarkan informasi dari sumber yang kredibel. Kita bisa membantu melalui lembaga kemanusiaan yang terpercaya. Kita juga bisa menjaga agar hati tidak terbiasa melihat penderitaan manusia sebagai tontonan. Sebab, di sebuah ruang operasi di Gaza, ketika anestesi tidak tersedia, seorang dokter memilih bernyanyi agar seorang anak merasa sedikit lebih aman. Mungkin kita tidak berada di sana.

Namun kita masih bisa memilih untuk tidak menjadi manusia yang berpaling.

 

Foto: Pexels, @watermelonpictures

 

#Gaza #FreePalestine #Palestine #SaveGaza #HumanityForGaza #PeduliGaza #Kemanusiaan #SolidaritasPalestina #MuslimIndonesia #PrayForGaza