Kembali ke semua artikel
Parenting Gaya VOC Kembali Ramai, Masih Layak Dipakai?
Parenting 08 June 2026 5 menit baca

Parenting Gaya VOC Kembali Ramai, Masih Layak Dipakai?

Ditulis oleh Ovi Shofianur

Di media sosial, istilah "parenting gaya VOC" belakangan sering muncul dalam berbagai diskusi.

Sebagian orang menggunakannya untuk menggambarkan pola asuh yang keras, tegas, penuh disiplin, dan minim kompromi terhadap anak. Pendukungnya menilai pola tersebut mampu membentuk mental tangguh.

Namun tidak sedikit yang menganggap pendekatan itu sudah tidak sesuai dengan perkembangan ilmu psikologi modern.

Perdebatan ini menarik karena muncul di tengah kekhawatiran banyak orang tua terhadap generasi yang dianggap semakin rapuh menghadapi tekanan hidup. Di sisi lain, muncul pula kritik terhadap pola asuh yang terlalu keras karena berpotensi meninggalkan luka psikologis jangka panjang.

Lalu, apakah parenting gaya VOC benar-benar solusi atau justru masalah?

Apa yang Dimaksud Parenting Gaya VOC?
Istilah ini sebenarnya bukan konsep ilmiah dalam dunia psikologi. Sebutan tersebut lahir dari media sosial sebagai sindiran terhadap pola asuh yang sangat otoriter.

Anak dituntut patuh tanpa banyak bertanya. Orang tua menjadi pusat keputusan. Hukuman lebih sering digunakan dibanding dialog. Ekspresi emosi anak sering dianggap sebagai bentuk kelemahan atau pembangkangan.

Karena dikaitkan dengan citra kolonial yang keras dan penuh kontrol, muncullah istilah "parenting gaya VOC".

Meski terdengar ekstrem, sebagian masyarakat menganggap pola tersebut pernah berhasil membentuk generasi yang mandiri dan tahan banting.

Mengapa Ada yang Mendukung?
Kelompok yang mendukung parenting keras biasanya memiliki satu argumen utama. Mereka melihat banyak anak masa kini kesulitan menghadapi penolakan, kritik, atau kegagalan.

Menurut mereka, anak terlalu sering dimanjakan.

Segala kebutuhan dipenuhi. Semua kesalahan ditoleransi. Orang tua terlalu takut membuat anak sedih.

Akibatnya, sebagian anak tumbuh dengan daya tahan mental yang rendah. Ketika menghadapi dunia kerja atau persaingan hidup, mereka mudah menyerah.

Pendukung parenting tegas percaya bahwa disiplin ketat akan membentuk karakter kuat. Anak belajar menghargai aturan, tanggung jawab, dan konsekuensi sejak dini.

Mereka juga sering menunjuk generasi terdahulu yang tumbuh dalam lingkungan lebih keras tetapi mampu bertahan dalam berbagai kesulitan ekonomi dan sosial.

Kritik dari Psikolog
Masalahnya, banyak penelitian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter memiliki dampak negatif yang tidak selalu terlihat secara langsung.

Anak memang bisa menjadi patuh. Namun kepatuhan tidak selalu berarti sehat secara emosional.

Banyak anak yang tumbuh dalam lingkungan terlalu keras mengalami kecemasan, rendah diri, kesulitan mengungkapkan pendapat, hingga takut mengambil keputusan sendiri.

Psikolog perkembangan anak menjelaskan bahwa anak membutuhkan disiplin sekaligus rasa aman secara emosional.

Ketika anak hanya mengenal hukuman tanpa komunikasi, mereka sering belajar untuk takut, bukan memahami alasan di balik aturan.

Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi hubungan anak dengan orang tua hingga masa dewasa.

Bahaya Normalisasi Kekerasan
Salah satu risiko terbesar dari parenting gaya VOC adalah normalisasi kekerasan.

Kalimat seperti "saya dulu dipukul dan baik-baik saja" sering digunakan untuk membenarkan perlakuan keras terhadap anak.

Padahal tidak semua luka terlihat secara fisik.

Sebagian orang memang berhasil melewati masa kecil yang keras. Namun sebagian lainnya membawa trauma hingga puluhan tahun kemudian.

Trauma itu bisa muncul dalam bentuk kemarahan yang sulit dikendalikan, hubungan sosial yang buruk, atau pola pengasuhan yang sama kepada generasi berikutnya. Inilah yang disebut siklus antargenerasi.

Ketika pola asuh yang menyakitkan dianggap normal, siklus tersebut terus berulang.

Apakah Parenting Modern Terlalu Lembek?
Di sisi lain, kritik terhadap parenting modern juga tidak sepenuhnya salah.

Sebagian orang tua memang terjebak pada pola asuh permisif. Anak diberi kebebasan tanpa batas. Aturan menjadi longgar. Orang tua enggan memberikan konsekuensi karena takut dianggap keras.

Akibatnya, anak bisa tumbuh tanpa disiplin dan sulit menghormati batasan.

Karena itu, pilihan sebenarnya bukan antara parenting keras atau parenting lembek. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan.

Pola Asuh yang Lebih Efektif
Banyak ahli menyebut pola asuh otoritatif sebagai pendekatan yang paling sehat.

Orang tua tetap memiliki aturan yang jelas. Anak tetap diberi batasan. Konsekuensi tetap ada.

Namun semua dilakukan melalui komunikasi, penjelasan, dan penghormatan terhadap perasaan anak.

Anak belajar disiplin tanpa kehilangan rasa aman.

Mereka memahami bahwa aturan dibuat bukan karena kekuasaan orang tua semata, tetapi demi kebaikan bersama.

Pendekatan seperti ini juga membantu anak membangun kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab, dan kecerdasan emosional.

Pandangan Islam tentang Mendidik Anak
Dalam Islam, pendidikan anak juga tidak identik dengan kekerasan.

Rasulullah saw. dikenal sebagai sosok yang penuh kasih sayang kepada anak-anak. Beliau mendidik dengan keteladanan, kelembutan, dan dialog.

Namun Islam juga menekankan pentingnya disiplin, tanggung jawab, serta adab.

Artinya, kasih sayang dan ketegasan bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya harus berjalan bersama.

Anak yang hanya mendapatkan kelembutan tanpa aturan berisiko kehilangan arah. Sebaliknya, anak yang hanya mendapatkan tekanan tanpa kasih sayang berisiko kehilangan kedekatan emosional.

Karena itu, perdebatan tentang parenting gaya VOC seharusnya tidak berhenti pada nostalgia masa lalu atau tren media sosial.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pola asuh tersebut benar-benar membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, mandiri, berkarakter, dan bahagia.

Sebab tujuan pengasuhan bukan sekadar membuat anak patuh hari ini, tetapi mempersiapkan mereka menjadi manusia dewasa yang mampu menjalani hidup dengan baik di masa depan.

 

Foto: Magnific

 

#Parenting #PolaAsuhAnak #KesehatanMental #PsikologiAnak #ParentingModern #KeluargaIndonesia #PendidikanAnak #AyahBunda #GenerasiMuda #InspirasiKeluarga

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua