Kembali ke semua artikel
Tahun Baru Hijriah: Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Panggilan Mewujudkan Keadilan Sosial!
Muharam & Tahun Baru Islam 16 June 2026 4 menit baca

Tahun Baru Hijriah: Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Panggilan Mewujudkan Keadilan Sosial!

Ditulis oleh Subhanhariadi Putra

Setiap kali lembaran kalender Hijriah berganti memasuki bulan Muharram, umat Islam sering terjebak dalam ritme perayaan seremonial belaka. Riuh rendah festival dan rutinitas simbolik sering mengaburkan substansi asli dari momen tersebut. Sebagaimana dikutip dari sebuah refleksi kritis, esensi terdalam pergantian tahun dalam Islam adalah muhasabah. Tahun Baru Hijriah dan panggilan mewujudkan keadilan sosial harus menjadi momentum untuk berhenti sejenak, berkaca pada cermin waktu, menghitung rekam jejak spiritual, serta mengevaluasi dampak nyata keberadaan kita di muka bumi.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat 18, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” Perintah untuk bermuhasabah ini menunjukkan betapa pentingnya bagi seseorang untuk mengevaluasi diri, baik dalam setiap hari, pekan, bulan, hingga terkhusus pada setiap akhir tahun. Jangan biarkan tahun baru berlalu tanpa introspeksi yang mendalam.

Gagasan muhasabah tahunan akan kehilangan taringnya jika hanya bermuara pada perbaikan moralitas individual yang pasif. Kesalehan tidak boleh berhenti di wilayah privat; ia harus bertransformasi menjadi energi yang mampu mengintervensi ruang publik. Untuk menjadikan pergantian tahun ini sebagai titik balik yang sesungguhnya, muhasabah harus dibagi ke dalam dua dimensi yang saling menguatkan: kesalehan individu dan keadilan struktural.

Pertama: Kesalehan Individu. Ini adalah momen untuk "membersihkan rumah batin". Imam Al-Ghazali menggunakan analogi perdagangan. Jika ibadah wajib telah ditunaikan dengan baik, kita harus bersyukur dan bertekad konsisten. Jika hanya mampu mengerjakan ibadah wajib, maka sebatas balik modal. Namun, jika ditambah dengan ibadah sunnah, maka kita untung. Jangan sampai kita hanya merugi di akhir tahun.

Kedua: Keadilan Struktural. Kita harus berani melangkah dari moralitas individual menuju keadilan struktural. Urusan kita di ranah ini adalah menguji apakah aturan permainan, produk hukum, rancangan anggaran, hingga arah kebijakan publik sudah benar-benar berpihak pada kemaslahatan bersama, atau justru diam-diam melanggengkan penindasan. Kesalehan sejati tidak akan membiarkan matanya terpejam ketika melihat sistem yang timpang.

Dalam cakupan hukum dan tata kelola, kita harus menguji apakah regulasi yang berlaku saat ini sudah memperlakukan setiap warga negara secara setara. Evaluasi Muharram yang jujur wajib melahirkan gugatan internal: beranikah para penegak hukum bersuara dan mengoreksi SOP serta praktik diskriminatif di lapangan? Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin.” (HR. Bukhari). Jabatan adalah amanat, bukan hak istimewa untuk memerintah sewenang-wenang.

Dalam cakupan ekonomi dan bisnis, kita harus menguji apakah sistem pengupahan dan pembagian keuntungan sudah berlandaskan keadilan sistemik. Evaluasi akhir tahun bukan lagi tentang seberapa besar laba bersih, melainkan tentang bagaimana laba itu didistribusikan. Sudahkah struktur gaji pekerja memberikan ruang untuk hidup layak? Atau justru kita memanfaatkan celah hukum untuk mengeksploitasi keringat mereka demi kemewahan segelintir manajemen puncak?

Imam Ghazali menjelaskan bahwa muhasabah bersama mitra bisnis bertujuan memeriksa modal awal, keuntungan, dan kerugian secara transparan. Jika untung, ambil hak dengan syukur. Jika rugi, tuntut ganti rugi dan perbaiki strategi. Prinsip ini harus diterapkan oleh para pemilik bisnis dan manajer. Jangan sampai karyawan menjadi korban ketidakadilan struktural.

Walhasil, Tahun Baru Hijriah adalah alarm untuk menyelaraskan kesalehan individu dengan keadilan struktural. Muhasabah tidak boleh berhenti di wilayah privat, melainkan harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial dengan mengevaluasi peran dan tanggung jawab kita dalam sistem kemasyarakatan. “Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” Wallahu a'lam.

#Muhasabah #TahunBaruHijriah #KeadilanSosial #KesalehanIndividu #KeadilanStruktural #SuratAlHasyr #ImamGhazali #KepemimpinanAmanah #EkonomiAdil #EvaluasiDiri

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua