Sharenting Rivalry, Kompetisi Terselubung Para Ibu yang Berbahaya
Pernahkah kamu merasa insecure setelah melihat unggahan ibu lain di Instagram? Mulai dari foto bayinya yang sudah MPASI lahap, balita yang jago bahasa Inggris, hingga dekorasi kamar anak yang estetik parah.
Tanpa sadar, muncul keinginan dalam diri kita untuk membuat konten tandingan yang memperlihatkan bahwa anak kita juga tidak kalah hebat.
Kondisi inilah yang disebut sebagai sharenting rivalry, sebuah fenomena kompetisi terselubung antarorang tua di media sosial. Istilah ini merujuk pada kebiasaan membagikan momen anak secara berlebihan (sharenting) yang didasari oleh rasa gengsi dan persaingan demi mendapatkan validasi digital berupa likes dan pujian.
Mengapa Fenomena Ini Makin Marak di Media Sosial?
Media sosial zaman sekarang telah bergeser dari tempat berbagi momen menjadi panggung kurasi kehidupan.
Kita disuguhi standar pengasuhan ideal yang belum tentu nyata, sehingga memicu beberapa alasan maraknya fenomena ini:
Pencarian Validasi Instan: Pujian netizen terhadap anak sering kali dianggap sebagai indikator kesuksesan kita dalam mendidik anak.
Algoritma yang Kompetitif: Fitur interaksi digital memicu hormon dopamin yang membuat kita kecanduan untuk terus mengunggah konten yang lebih "wow" dibanding ibu-ibu lain.
Akibatnya, anak tidak lagi dipandang sebagai individu seutuhnya, melainkan sebagai "aset konten" demi memenangkan ego orang tua di dunia maya.
Bahaya Penyakit Ain Menurut Psikolog Islam
Menanggapi maraknya fenomena ini, para psikolog Islam dari asosiasi kredibel mengingatkan adanya bahaya psikologis sekaligus spiritual yang mengintai. Menurut pandangan psikologi Islam, kompetisi pamer anak ini erat kaitannya dengan penyakit ain (pandangan mata yang disertai rasa iri atau takjub yang merusak).
Ketika kita sengaja mengunggah pencapaian anak demi bersaing, kita sedang membuka celah bagi rasa dengki orang lain masuk ke dalam kehidupan anak kita.
Rasulullah saw. secara tegas mengingatkan bahwa pengaruh ain itu nyata adanya. Secara psikologis, anak yang terus-menerus dijadikan objek kompetisi akan tumbuh menjadi pribadi yang haus validasi dan rentan stres karena selalu dituntut tampil sempurna demi konten ibunya.
Foto: Pexels
#SharentingRivalry #ParentingZamanNow #StopPamerAnak #IbuBijak #PenyakitAin #PsikologiIslam #GenZParenting #MilenialParenting #BijakSosmed #KesehatanMentalIbu