Kembali ke semua artikel
Naik Pangkat Anumerta Buat Guru Nurlaela Korban Laka KRL, Harusnya Perhatian & Penghargaan Juga Diberikan Ketika Masih Hidup
Berita Terkini 30 April 2026 3 menit baca

Naik Pangkat Anumerta Buat Guru Nurlaela Korban Laka KRL, Harusnya Perhatian & Penghargaan Juga Diberikan Ketika Masih Hidup

Ditulis oleh Subhanhariadi Putra

Sebuah kabar duka sekaligus penghormatan datang dari Pemerintah Kota Bekasi. Sebagaimana dikutip dari tvonenews.com, Nurlaela, seorang guru yang menjadi korban meninggal dalam tabrakan KRL vs KA Argo Bromo di Bekasi, mendapatkan kenaikan pangkat anumerta. Hak pensiunnya juga tetap diberikan kepada keluarga. Ini adalah langkah terpuji. Pemerintah menunjukkan perhatian maksimal kepada pahlawan keselamatan yang gugur saat bertugas. Tapi sebagai seorang yang sudah mengamati birokrasi selama puluhan tahun, hati kecil saya berbisik: harusnya perhatian indah seperti ini tidak hanya terjadi saat korban sudah tidak bisa tersenyum lagi.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 261, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.” Memberi penghargaan kepada karyawan yang bekerja baik adalah investasi besar. Umar bin Khattab pernah menaikkan gaji gubernurnya karena kinerja luar biasa, bahkan memecat yang lalai. Beliau paham bahwa memperlakukan pegawai dengan adil dan apresiatif adalah bagian dari keadilan sosial. Jika penghargaan seperti kenaikan pangkat dan kepastian pensiun hanya datang saat seseorang sudah tiada, itu artinya kita gagal menghargai hidup mereka.

Fenomena “penghargaan anumerta” memang mengharukan. Tapi bukankah anumerta berarti setelah mati? Mengapa semangat yang sama tidak ditunjukkan saat sang guru masih sehat, saat beliau masih bisa merasakan bagaimana dihargai? Mari kita jujur. Banyak pegawai negeri yang kerja keras puluhan tahun, tapi naik pangkatnya tersendat karena kuota, karena “belum cukup usia”, atau karena faktor ‘koneksi’. Lalu tiba-tiba ketika meninggal karena musibah, semua fasilitas mengalir deras. Dalam Islam, ini bentuk kezaliman administratif. Rasulullah SAW bersabda, “Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya” (HR. Ibnu Majah). Jangan tunda-tunda.

Penghargaan untuk Nurlaela adalah contoh baik yang harus ditiru. Tapi jangan berhenti di situ. Pemerintah harus menerapkan pola “pensiun layak dan pangkat layak” untuk semua guru dan ASN yang berkinerja baik setiap saat. Jangan sampai ada orang yang baru dianggap berjasa setelah meninggal. Jika setiap kepala daerah atau direktur perusahaan menerapkan sistem reward yang jelas, transparan, dan cepat, niscaya Allah akan limpahkan keberkahan dalam roda organisasi itu. Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa keadilan pemimpin adalah sebab turunnya hujan dan suburnya tanah.

Yang unik dan jarang diangkat adalah bahwa memperlakukan karyawan dengan baik adalah sedekah jariyah bagi pemimpin. Setiap sen yang dibayarkan sebagai gaji yang layak, setiap penghargaan yang diberikan tepat waktu, akan menjadi pahala yang terus mengalir. Sebaliknya, pemimpin yang pelit dan tidak adil terhadap pegawainya, maka kezalimannya akan dirasakan sampai ke anak cucu karena terbentuk budaya kerja yang toxic. Semoga peristiwa Nurlaela menjadi momentum bagi semua instansi di Indonesia untuk mengevaluasi sistem penghargaan sumber daya manusia mereka. Selamat jalan, Ibu Nurlaela. Kami doakan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Dan kami titip pesan untuk para pemimpin: jangan tunggu sampai nyawa melayang baru hati Anda tersentak. 

#NaikPangkatAnumerta #GuruNurlaela #KecelakaanBekasi #PenghargaanUntukPahlawan #KeadilanParaPemimpin #RewardYangTertunda #BerkahDalamPekerjaan #NurlaelaMeninggal #PensiunLayak #EvaluasiSDMBirokrasi

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua