Darah dan Air Mata Sudan Mengalir, Umat Islam Masih Saja Tidur Nyenyak? Ayo Bangun!
Bayangkan anak-anak dengan perut kembung karena kelaparan. Ibu-ibu yang hanya bisa menangis melihat bayinya kurus kering. Saat ini bukan cerita fiksi. Inilah realita di Sudan Selatan. Sebagaimana dikutip dari news.un.org, lebih dari separuh populasi Sudan Selatan – tepatnya 7,8 juta jiwa – berada dalam krisis kelaparan akut. Bahkan 73.300 orang di antaranya mengalami kelaparan tingkat paling mengerikan (Phase 5), lonjakan 160 persen dari perkiraan sebelumnya. 2,2 juta anak menderita gizi akut. Dan umat Islam di mana-mana masih sibuk dengan urusan dunia masing-masing.
Islam memiliki kewajiban yang sangat tegas dalam hal ini. Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 71, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” Penolong di sini bukan sekadar ucapan simpati. Tapi tindakan nyata, termasuk dengan harta, jiwa, bahkan kekuatan militer jika diperlukan. Sudan Selatan yang mayoritas penduduknya muslim sedang dibantai oleh kelaparan dan konflik bersenjata. Kelompok pemberontak RSF terus melakukan kekejaman yang membuat akses bantuan kemanusiaan terhambat.
Yang memprihatinkan, organisasi PBB melaporkan bahwa konflik dan perpindahan massal adalah penyebab utama krisis ini. Di Jonglei saja, hampir 300.000 orang terusir dari rumah mereka. Mereka tersesat di hutan, tanpa makanan bersih, tanpa air layak. Sementara akses kemanusiaan diblokade oleh RSF. Di sinilah dunia Islam seharusnya bergerak. Bantuan ekonomi dan logistik adalah kewajiban minimal. Tapi jika memang diperlukan, pasukan militer dari negara-negara muslim harus dikerahkan untuk membuka blokade dan menggempur RSF hingga tuntas.
Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam rasa cinta, kasih sayang, dan rasa iba bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan merasakan demam” (HR. Muslim). Saat ini, tubuh umat Islam sedang sakit parah di Sudan Selatan. Tapi apakah kita terjaga? Atau kita malah sibuk menambah pundi-pundi harta, sibuk dengan liburan mewah, sibuk dengan gosip artis? Naudzubillah. Ini bukan sikap saudara seiman.
Yang lebih tragis lagi adalah nasib anak-anak. PBB memproyeksikan 700.000 anak akan menderita gizi buruk akut hingga Juli 2026. Mereka adalah generasi penerus yang tubuh dan otaknya sedang hancur karena kekurangan protein dan vitamin. Bayi-bayi yang seharusnya tertawa dan bermain, kini hanya bisa merengek lemas di pangkuan ibu yang juga kelaparan. 1,2 juta ibu hamil dan menyusui juga mengalami malnutrisi. Seorang ibu yang lemas tidak bisa memproduksi ASI yang berkualitas. Anaknya tumbuh kerdil, otaknya tidak optimal.
Dalam sejarah Islam, saat terjadi paceklik di masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau rela tidak makan daging dan memastikan bantuan dari seluruh penjuru kekhalifahan dikirim ke daerah yang tertimpa musibah. Bahkan beliau pernah berkata, “Jika seekor kambing mati di tepi sungai Furat karena kelaparan, aku takut Allah akan menanyakan pertanggungjawabannya kepadaku.” Sekarang puluhan ribu manusia sekarat di Sudan Selatan. Di mana para pemimpin muslim? Di mana ulama-ulama kaya? Dimana kita yang setiap Jumat mendengar khotbah tentang ukhuwah Islamiyah?
Solusinya tidak bisa setengah-setengah. Pertama, dunia Islam harus mengirimkan kapal-kapal bantuan berisi bahan makanan, obat-obatan, dan tenaga medis. Kedua, memanfaatkan kekuatan diplomasi Islam (OKI) untuk mendesak gencatan senjata. Ketiga, jika RSF terus menghalangi, maka dunia Islam harus siap mengirim pasukan penjaga perdamaian yang dipersenjatai dengan baik. Membiarkan saudara sendiri mati karena tidak berdaya adalah dosa kolektif yang sangat besar. Allah berfirman, “Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita, maupun anak-anak?” (QS. An-Nisa: 75).
Ini bukan saatnya berdebat mazhab atau aliran. Bukan saatnya adu argumen soal fiqih. Ini saatnya aksi. Mari kita kumpulkan dana melalui lembaga-lembaga terpercaya, tekan pemerintah kita masing-masing untuk bertindak, dan sebarkan informasi ini sampai ke seluruh penjuru dunia Islam. Jangan sampai kelak di akhirat, anak-anak Sudan yang mati kelaparan itu menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita cuek dan abai.
Foto: UNICEF/Mohamed Zakaria A displacement centre in El Fasher, North Darfur (file).
#SudanSelatanDarurat #7JutaKelaparan #BantuSudan #RSFTerorUmat #UkhuwahDarah #KrisisKemanusiaan #JihadBantuSaudara #AnakSudanKelaparan #OKIBergerak #LawanBlokadeRSF