Kembali ke semua artikel
Bangun Tengah Malam Mau Tahajud? UAH Bilang: Bukan Jam 12 atau 3, Tapi Ini Waktu Paling Istimewa!
Opini Islami 29 April 2026 4 menit baca

Bangun Tengah Malam Mau Tahajud? UAH Bilang: Bukan Jam 12 atau 3, Tapi Ini Waktu Paling Istimewa!

Ditulis oleh Subhanhariadi Putra

Bayangkan Anda bangun pukul 12 malam, shalat tahajud dengan khusyuk, lalu tidur lagi. Atau bangun pukul 3 pagi, shalat, lalu lanjut tidur. Ternyata menurut penjelasan Ustaz Adi Hidayat, kedua waktu itu belum masuk kategori paling afdhol. Sebagaimana dikutip dari tvonenews.com, waktu terbaik untuk shalat tahajud adalah menjelang fajar, sekitar jam 4 pagi atau saat orang-orang biasa bangun untuk sahur. Ini bukan tanpa alasan. Quran sendiri yang menunjukkan keistimewaan waktu tersebut.

Islam adalah agama yang fleksibel. Tidak kaku hanya satu waktu untuk beribadah. Allah SWT berfirman dalam surat Adz-Dzariyat ayat 18, “Wa bil as-haari hum yastaghfirun” – Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa “as-haar” adalah akhir malam, saat angin mulai berembus tanda fajar akan datang. Inilah mengapa UAH menegaskan bahwa waktu sahur atau menjelang subuh adalah momen paling istimewa untuk tahajud sekaligus beristighfar.

Fenomena menarik di masyarakat kita, banyak yang merasa bangun jam 12 malam sudah luar biasa. Padahal dalam perspektif Islam, tahajud secara bahasa berarti “berupaya melawan atau meninggalkan tidur.” Semakin dekat dengan waktu subuh, semakin berat perjuangan meninggalkan tidur. Dan semakin berat perjuangan, semakin besar pahalanya. Rasulullah SAW bersabda, “Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta akan Kuberi, siapa yang memohon ampun akan Kuampuni” (HR. Bukhari & Muslim). Sepertiga malam terakhir itulah yang dimaksud, yaitu sekitar 1-1.5 jam sebelum subuh.

Yang menarik, Islam memberikan kelonggaran waktu tahajud. Boleh jam 12, boleh jam 1, boleh jam 3. Semuanya sah dan berpahala. Tapi keutamaan bertingkat. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang tidak mempersulit hamba-Nya. Siapa yang tidak kuat bangun menjelang fajar karena sakit atau kelelahan, maka ia tetap bisa meraih pahala tahajud di waktu awal malam. Namun, barangsiapa yang mampu mengalahkan kantuk di sepertiga malam terakhir, ia mendapatkan bonus spiritual yang luar biasa.

Dalam ceramahnya, UAH juga mengingatkan bahwa momen menjelang fajar adalah waktu mustajab untuk berdoa. Setelah shalat tahajud, dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan memohon hajat dunia-akhirat. Inilah yang disebut sebagai “sahar” dalam Al-Quran. Para salafus shalih sangat menjaga waktu ini. Mereka tidak hanya shalat, tapi juga menangis memohon ampun, membaca Al-Quran dengan tartil, dan berdoa untuk umat. Bayangkan, betapa indahnya jika kita bisa rutin menghidupkan waktu sahur dengan tahajud dan doa.

Ada keunikan lain: shalat tahajud di waktu ini sekaligus menjadi persiapan spiritual untuk menyambut subuh. Tidak terburu-buru, tidak tergesa. Setelah selesai tahajud, kita bisa berzikir hingga adzan subuh berkumandang. Kemudian shalat subuh dengan kekhusyukan yang maksimal. Ini adalah paket lengkap ibadah malam yang membuat hati terasa lapang sepanjang hari. Banyak orang mengeluh stres dan gelisah, padahal mereka meninggalkan “obat” super dahsyat ini.

Lalu bagaimana niatnya? UAH menjelaskan bacaan niat shalat tahajud: “Ushalli sunnatat tahajjudi rak‘ataini lillahi ta‘ala” – Aku niat shalat sunnah tahajud dua rakaat karena Allah Ta’ala. Jumlah rakaatnya pun fleksibel, minimal 2 rakaat, maksimal tidak terbatas, tapi yang paling umum adalah 8 atau 10 rakaat ditambah witir. Nabi SAW sendiri pernah shalat tahajud 11 rakaat termasuk witir, dan pernah juga 13 rakaat. Inilah bukti bahwa Islam memberikan ruang gerak yang luas.

Mari kita renungkan, seberapa sering kita mengisi sepertiga malam terakhir dengan tidur nyenyak? Padahal saat itu Allah sedang menanti hamba-Nya yang mau bangun. Bukan untuk menyiksa, tapi untuk memberikan karunia yang tidak diberikan di waktu lain. Cobalah untuk mulai mengubah kebiasaan. Jika biasa bangun jam 3 untuk tahajud, geser perlahan ke jam 4. Rasakan perbedaannya. Ketenangan yang menghujam di hati saat fajar hampir tiba adalah sensasi yang tidak bisa digantikan apapun di dunia ini.

Wallahu a’lam. Semoga kita semua diberi kemudahan untuk mengamalkan tahajud di waktu yang paling afdhol ini. Karena satu rakaat tahajud di sepertiga malam terakhir, kata para ulama, bisa lebih baik dari seribu rakaat di siang hari.

#WaktuTahajudAfdhol #UAH #ShalatTahajud #MenjelangFajar #SepertigaMalam #AdzDzariyatAyat18 #IstighfarSubuh #AmalanMalam #DoaMustajab #KeutamaanTahajud

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua