Kembali ke semua artikel
Dipanggil Pak Haji tapi Belum Haji? Hati-Hati, Bisa Jadi Jebakan Riya' yang Berbahaya!
Kabar Haji 29 April 2026 4 menit baca

Dipanggil Pak Haji tapi Belum Haji? Hati-Hati, Bisa Jadi Jebakan Riya' yang Berbahaya!

Ditulis oleh Subhanhariadi Putra

Bayangkan seseorang dengan bangga menyandang gelar "Pak Haji". Padahal ia belum pernah menjejakkan kaki di tanah suci. Atau seorang "Ibu Hajah" yang rajin mengatur acara pengajian, tapi sebenarnya hanya ingin dipanggil dengan sebutan itu. Sebagaimana dikutip dari tvonenews.com, pertanyaan tentang hukum merasa senang dipanggil "Pak Haji" atau "Ibu Hajah" bagi yang belum haji adalah persoalan yang sering mengganjal di masyarakat kita. Dan jawabannya ternyata sangat dalam, bukan sekadar hitam putih boleh atau tidak.

Islam memiliki konsep yang sangat tegas tentang rendah hati. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra ayat 37, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan setinggi gunung.” Kesombongan, sekecil apa pun, adalah penyakit hati yang paling dibenci oleh Allah. Panggilan "Pak Haji" secara sosiologis memang mengandung kehormatan. Tapi jika kehormatan itu dinikmati tanpa dasar yang sah, maka ia bisa menjadi racun iman.

Fenomena panggilan "Pak Haji" di Indonesia sudah membudaya. Banyak orang yang belum berhaji ikut-ikutan dipanggil demikian karena ingin dihormati. Bahkan ada yang sengaja meminta anak buah atau tetangganya untuk memanggil "Pak Haji". Inilah yang dalam Islam disebut sebagai "takalluf" – memaksakan diri mendapat status yang bukan haknya. Padahal, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian rendah hati dan jangan ada seorang pun yang sombong terhadap yang lain” (HR. Muslim). Bayangkan, perintah rendah hati ini sampai diwahyukan secara khusus.

Yang menarik, para ulama membedakan antara "senang" dan "menghendaki". Jika seseorang dipanggil "Pak Haji" tanpa ia minta dan tanpa ia bangga di dalam hati, itu berbeda dengan orang yang diam-diam senang dan berharap terus dipanggil begitu. Imam An-Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa perasaan bangga dengan sebutan kehormatan, meskipun tidak diminta, bisa menjadi pintu masuk riya’. Dan riya’ sendiri adalah syirik kecil yang bisa menggugurkan pahala ibadah.

Lalu bagaimana jika seseorang lalai dan tidak mengoreksi orang yang memanggilnya "Pak Haji"? Dalam Islam, ini masuk dalam kategori "membiarkan kemungkaran". Jika anda tahu bahwa anda belum haji, lalu ada orang yang memanggil anda "Pak Haji", maka wajib hukumnya untuk meluruskan. Jangan diam karena merasa sayang dengan gelar itu. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang diam terhadap kebenaran, maka ia adalah setan yang bisu” (HR. Baihaqi). Meluruskan panggilan adalah bentuk kejujuran dan ketawadhu'an.

Kebiasaan ini semakin pelik ketika gelar "Pak Haji" kemudian digunakan untuk mencari kepercayaan publik, menjadi panitia masjid, atau bahkan caleg. Naudzubillah. Ini sudah masuk kategori penipuan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengatakan bahwa orang yang mengambil status tanpa haknya, maka ia seperti pemakai pakaian palsu. Di dunia mungkin orang terhormat, tapi di akhirat ia akan telanjang.

Yang menjadi solusi dalam Islam sebenarnya sederhana. Gunakan saja panggilan "Bapak" atau "Ibu", atau sebutan lain yang tidak mengandung pretensi ibadah. Atau jika ingin menghormati, panggil "Ustadz" untuk yang benar-benar berilmu. Karena haji adalah ibadah fisik, finansial, dan spiritual yang luar biasa berat. Menyandang gelarnya tanpa menjalani prosesnya adalah bentuk ketidakadilan terhadap mereka yang sudah bersusah payah pergi haji.

Prinsip dalam masalah ini adalah hukum asalnya boleh saja dipanggil "Pak Haji" jika tidak disengaja dan tidak menimbulkan rasa bangga yang berlebihan. Tapi karena sulitnya mengontrol hati, maka para ulama lebih memilih sikap hati-hati (wara’) dengan menolak panggilan tersebut. Dan yang paling selamat adalah tidak menggunakan gelar "Haji" untuk yang belum haji, serta mengoreksi dengan lembut siapa pun yang memanggil demikian.

Wallahu a’lam, semoga kita semua dijauhkan dari riya’ dan takabbur dalam bentuk apa pun, termasuk dalam soal gelar kehormatan. Karena sebaik-baik gelar di sisi Allah adalah "hamba-Nya yang bertakwa", bukan "Pak Haji" yang tercetak di kartu nama.

 

Foto: Kementerian Haji dan Umrah

#PakHajiBelumHaji #HajiPalsu #RiyaDalamIbadah #TawadhuBukanGelar #BahayaSomBOng #HatiHatiGelar #MakruhBergelarHaji #AgamaTanpaTopeng #LuruskanPanggilan #JebakanIman
 
 
 

Sukai dan bagikan artikel ini

Komentar

0 tanggapan dari pembaca

Belum ada komentar untuk artikel ini.

Artikel menarik lainnya

Lanjutkan dengan membaca artikel menarik lainnya

Lihat semua