KDM Murka Lihat Perlintasan Liar Kereta di Bekasi Masih Banyak. Ayo! Jangan Ada Korban Lagi..
Bayangkan seorang pemimpin yang mendengar kabar kecelakaan, lalu diam di kantor. Atau hanya mengirim karangan bunga. Inilah yang membedakan pemimpin biasa dengan pemimpin yang takut pada Allah. Sebagaimana dikutip dari tvonenews.com, usai kecelakaan maut di Bekasi, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi murka. Bukan murka karena kesal biasa, tapi murka karena darah rakyatnya tumpah di perlintasan liar kereta. Dan beliau langsung memerintahkan: jangan ada korban lagi. Perintah ini bukan sekadar slogan. Ini adalah kewajiban syariat yang harus segera diwujudkan.
Islam mengajarkan bahwa pemimpin yang baik adalah yang cekatan. Tidak menunggu laporan tebal, tidak bertele-tele dalam rapat koordinasi, tapi langsung bergerak ke lokasi dan mengeluarkan perintah konkret. Rasulullah SAW adalah pribadi yang paling cepat tanggap terhadap musibah yang menimpa umatnya. Dalam perang Uhud ketika kabar tersebar bahwa pasukan muslim kalah, beliau langsung bangkit meski terluka. Beliau tidak pernah mengatakan, “Nanti saja, kita evaluasi dulu.” Inilah kepemimpinan yang lahir dari kesadaran bahwa nyawa manusia tidak bisa menunggu prosedur birokrasi yang berbelit.
Kecelakaan maut di Bekasi Timur bukan kejadian pertama. Perlintasan liar kereta api sudah menjadi pembunuh berulang di negeri ini. Tapi berapa banyak pemimpin yang benar-benar murka hingga ke tulang? Dedi Mulyadi menunjukkan bahwa amarah seorang pemimpin bisa menjadi rahmat jika diarahkan untuk menyelamatkan rakyat. Dalam Islam, marah karena Allah adalah akhlak mulia. Nabi SAW bersabda, “Bukanlah orang kuat yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya ketika marah.” Namun ada pengecualian: marah karena melihat kemungkaran yang membahayakan jiwa umat adalah tindakan terpuji.
Perintah tegas untuk menutup atau memperbaiki perlintasan liar adalah bentuk implementasi dari prinsip “la darara wa la dirara” (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain). Setiap perlintasan liar yang tidak berpalang pintu dan tidak berpetugas adalah sumber bahaya nyata. Membiarkannya beroperasi berarti ikut serta dalam pertumpahan darah. Para ulama fiqh sepakat bahwa jika suatu tempat atau fasilitas sudah terbukti menjadi penyebab kematian berulang, maka penguasa wajib menutupnya atau memperbaikinya secara permanen, meskipun harus mengeluarkan biaya besar.
Yang menarik dari peristiwa ini adalah betapa cekatannya seorang pemimpin provinsi langsung bereaksi. Dedi Mulyadi tidak menunggu laporan dari bawahannya berhari-hari. Beliau langsung murka dan memerintahkan percepatan pembangunan infrastruktur. Ini adalah cerminan dari firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 58, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” Cekatan dalam menetapkan solusi adalah bagian dari keadilan. Keadilan yang lambat adalah kezaliman.
Perlintasan liar di Bekasi hanyalah satu contoh. Di seluruh Indonesia, ada ribuan perlintasan sebidang tanpa pengaman. Ini adalah bom waktu yang setiap hari mengancam nyawa para pengguna kereta api dan pengendara jalan. Seorang pemimpin yang bertakwa tidak akan bisa tidur nyenyak sebelum semua perlintasan itu aman. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengisahkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah berjalan malam sendirian hanya untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan atau kesulitan. Jika Umar hidup di zaman ini, beliau akan memastikan setiap perlintasan kereta aman, bahkan sebelum kecelakaan terjadi.
Sekarang pertanyaannya: setelah amarah ini mereda, akan ada tindakan nyata tidak? Karena dalam Islam, kemarahan tanpa tindakan hanya omong kosong. Allah mencela orang-orang yang hanya berkata-kata tapi tidak berbuat (QS. Ash-Shaff: 2-3). Dedi Mulyadi sudah menunjukkan contoh: beliau murka, lalu beliau perintahkan percepatan. Kini publik harus mengawal perintah itu. Apakah anggaran sudah disiapkan? Apakah koordinasi dengan Kementerian Perhubungan sudah berjalan? Apakah perlintasan-perlintasan liar mulai ditutup satu per satu?
Masyarakat juga punya peran. Jangan menyebrang di perlintasan liar. Tolak untuk menggunakan jalur kereta sebagai jalan pintas. Ingatlah sabda Nabi SAW, “Tidak boleh mencelakakan diri sendiri dan tidak boleh mencelakakan orang lain.” Menyeberang di perlintasan liar adalah tindakan mencelakakan diri sendiri dan berpotensi mencelakakan penumpang kereta. Ini dosa yang tidak ringan.
Wallahu a’lam, semoga amarah Dedi Mulyadi menjadi berkah yang menyelamatkan ribuan nyawa di masa depan. Dan semoga seluruh pemimpin di Indonesia meneladani sikap cekatan dan tegas ini. Karena nyawa rakyat terlalu mahal untuk dipertaruhkan dengan kelambanan birokrasi.
#DediMulyadi #KecelakaanBekasi #PerlintasanLiar #KeselamatanKeretaApi #PemimpinCekatan #MarahKarenaAllah #LaDarara #NyawaRakyat #InfrastrukturAman #TeladanPemimpin