Coba renungkan sejenak, betapa sering kita mendengar berita kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi silih berganti setiap tahun. Asap mengepul, kesehatan masyarakat terganggu, aktivitas ekonomi lumpuh, dan ekosistem rusak parah. Namun, tahukah kita apa akar masalahnya? Salah satu penyebab utamanya adalah praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Petani dan pemilik lahan seringkali memilih cara ini karena dianggap murah, cepat, dan praktis. Namun, dampaknya sangat merugikan banyak pihak. Lalu, bagaimana seharusnya seorang pemimpin menyikapi hal ini? Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, memberikan contoh nyata yang patut kita teladani.

Solusi Konkret: Alat Berat untuk Buka Lahan Tanpa Bakar
Gubernur Sherly Tjoanda melakukan upaya pencegahan karhutla di Maluku Utara dengan cara yang sangat cerdas dan solutif. Melalui akun media sosial pribadinya, ia mengajak petani dan pemilik lahan agar tidak membakar lahan saat membuka kebun. Sebagai gantinya, Pemprov Maluku Utara menyediakan alat berat untuk membantu masyarakat membuka lahan. "Mau buka kebun? Jangan dibakar. Lapor torang bantu buka. Membakar lahan berisiko api meluas ke kebun, hutan dan permukiman serta mengganggu kesehatan masyarakat," ujarnya.

Dikutip dari tvonenews.com, Gubernur Sherly menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari perintah Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga lahan dan mencegah karhutla. "Jadi pesan Presiden cegah karhutla, nanti disediakan alat berat dari pemprov," katanya. Ini adalah contoh nyata bagaimana seorang pemimpin tidak hanya melarang, tetapi juga memberikan solusi. Bukan sekadar instruksi, tetapi hadir dengan bantuan konkret yang dibutuhkan rakyat.

Prosedur yang Mudah dan Berpihak pada Petani Kecil
Yang menarik, prosedur untuk mendapatkan bantuan alat berat ini sangat mudah dan berpihak pada petani kecil. Masyarakat yang membutuhkan pembukaan lahan cukup melapor kepada Kepala Desa. Setelah itu, akan ada verifikasi lahan dan penjadwalan untuk tim dan alat datang membantu. "Siapkan NIK, nomor HP, lokasi dan luas lahan, status lahan, foto lahan, serta mau ditanam apa," imbuh Gubernur Sherly.

Menurutnya, ada prioritas untuk petani kecil, lahan yang jelas statusnya kepemilikannya, dan benar-benar akan ditanami. Ini adalah kebijakan yang sangat berpihak pada rakyat kecil. Pemerintah hadir untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan hanya mereka yang memiliki modal besar. Ini adalah wujud nyata keadilan sosial yang diajarkan dalam Islam.

Hikmah dan Pelajaran Islam: Kepemimpinan yang Melayani
Dalam Islam, seorang pemimpin adalah pelayan rakyat. Rasulullah SAW bersabda, "Imam (pemimpin) itu adalah pelayan, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya." (HR. Ahmad). Gubernur Sherly Tjoanda telah menunjukkan teladan kepemimpinan yang melayani. Ia tidak hanya duduk di belakang meja, tetapi turun ke lapangan, mendengar keluhan rakyat, dan memberikan solusi yang tepat. Ia memahami bahwa membuka lahan dengan cara membakar adalah praktik yang merugikan, tetapi ia juga memahami bahwa petani membutuhkan lahan untuk bercocok tanam. Oleh karena itu, ia menyediakan alternatif yang lebih baik: alat berat untuk membuka lahan tanpa harus membakar.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 205, "Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan keturunan. Dan Allah tidak menyukai kerusakan." Karhutla adalah bentuk nyata dari kerusakan di muka bumi. Mereka yang sengaja membakar hutan, atau membiarkan praktik ini terjadi, telah melakukan kezaliman yang besar. Gubernur Sherly telah berusaha mencegah kerusakan ini dengan cara yang bijak dan solutif. Ini adalah bentuk tanggung jawab seorang pemimpin dalam menjaga amanah Allah.

Data Karhutla Nasional: Alarm yang Harus Dijawab
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa luas karhutla nasional selama periode Januari–Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare. Lima provinsi dengan luas karhutla terbesar berturut-turut adalah Kalimantan Barat (28.680,47 hektare), Riau (15.477,95 hektare), Nusa Tenggara Timur (10.538,30 hektare), Maluku (7.091,07 hektare), dan Papua Selatan (6.281,81 hektare). Bahkan, sepanjang periode 1 Januari hingga 3 September 2026, Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri telah menangani 167 laporan polisi terkait karhutla.

Angka-angka ini adalah alarm keras bagi kita semua. Karhutla bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah kesehatan, ekonomi, dan sosial. Asapnya menyeberang batas negara, merusak hubungan diplomatik, dan mencoreng citra bangsa. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan secara masif dan sistematis. Solusi yang ditawarkan Gubernur Sherly Tjoanda adalah salah satu contoh yang bisa direplikasi di daerah lain.

Mengapa Solusi Ini Efektif?
Solusi yang ditawarkan Gubernur Sherly efektif karena beberapa alasan:

Pertama, menyerang akar masalah. Karhutla sering terjadi karena petani membuka lahan dengan cara membakar. Dengan menyediakan alat berat, pemerintah menghilangkan alasan utama mengapa petani memilih cara membakar.

Kedua, memberdayakan petani kecil. Program ini berpihak pada petani kecil yang tidak memiliki modal untuk menyewa alat berat. Mereka diberikan akses mudah dan gratis untuk membuka lahan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

Ketiga, mencegah kerusakan lingkungan. Dengan tidak membakar lahan, risiko kebakaran meluas ke hutan dan permukiman dapat diminimalisir. Ini adalah bentuk nyata menjaga amanah Allah sebagai khalifah di bumi.

Keempat, meningkatkan kepercayaan rakyat. Rakyat melihat bahwa pemerintah benar-benar hadir dan peduli. Mereka tidak hanya dilarang, tetapi dibantu. Ini akan meningkatkan kepercayaan rakyat kepada pemerintah dan memotivasi mereka untuk bekerja sama dalam mencegah karhutla.

Seruan untuk Pemimpin Lain
Kepada para pemimpin di daerah lain, teladanilah apa yang dilakukan Gubernur Sherly Tjoanda. Jangan hanya menunggu masalah membesar, tetapi cegah dari awal. Jangan hanya melarang, tetapi berikan solusi. Jangan hanya duduk di belakang meja, tetapi turun ke lapangan dan dengarkan rakyat. Karena pada akhirnya, kepemimpinan yang sejati bukanlah tentang kekuasaan, tetapi tentang bagaimana melayani dan melindungi rakyat.

Rasulullah SAW bersabda, "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka." (HR. Abu Nu'aim). Maka jadilah pelayan yang baik bagi rakyat. Penuhi hak-hak mereka, dengar keluhan mereka, dan berikan solusi terbaik. Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang pemimpin bukanlah diukur dari seberapa banyak proyek yang dijalankan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh rakyat.

Doa untuk Para Pemimpin
Berikut adalah doa yang dapat kita amalkan untuk para pemimpin agar mereka selalu diberikan hidayah dan kekuatan dalam menjalankan amanah:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا وُلَاتَنَا، وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مَهْدِيِّينَ، وَارْزُقْهُمُ الْعَدْلَ وَالرَّحْمَةَ بِالرَّعِيَّةِ

Allahumma ashlih lana wulatana, waj'alhum hudatan mahdiyyin, warzuqhumul 'adla war-rahmata bir-ra'iyyah.

Artinya: "Ya Allah, perbaikilah pemimpin-pemimpin kami, jadikanlah mereka sebagai pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk, dan anugerahkanlah kepada mereka keadilan serta kasih sayang kepada rakyat."

Kesimpulan
Gubernur Sherly Tjoanda telah memberikan teladan kepemimpinan yang solutif dan berpihak pada rakyat. Dengan menyediakan alat berat untuk membuka lahan tanpa membakar, ia tidak hanya mencegah karhutla, tetapi juga memberdayakan petani kecil dan menjaga lingkungan. Ini adalah contoh nyata bagaimana seorang pemimpin harus bertindak: hadir dengan solusi, bukan hanya larangan. Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi para pemimpin di seluruh Indonesia untuk terus berinovasi dalam melayani rakyat. Aamiin.

 

Foto: tvonenews.com

#Karhutla #MalukuUtara #GubernurSherly #SolusiTanpaBakar #AlatBerat #PetaniKecil #LingkunganHidup #PemimpinSolutif #CegahKarhutla #IndonesiaBebasAsap