Maraknya pemberitaan tentang pencurian, penipuan, begal, kekerasan, hingga berbagai modus kejahatan digital bisa membuat siapa saja merasa tidak aman. Bagi sebagian orang, paparan informasi tersebut bahkan dapat memicu anxiety atau kecemasan berlebihan.

Rasa khawatir sebenarnya merupakan respons alami ketika seseorang merasa ada ancaman. Masalahnya muncul ketika rasa takut terus terbawa, bahkan saat situasi sedang aman. Pikiran mulai dipenuhi berbagai skenario buruk, muncul keinginan menghindari aktivitas di luar rumah, sulit tidur, atau terus-menerus mengecek keamanan sekitar.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gangguan kecemasan ditandai rasa takut dan khawatir yang intens serta berlebihan, sering disertai ketegangan fisik, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, hingga perasaan akan terjadi sesuatu yang buruk. Kondisi tersebut perlu diperhatikan apabila sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Di tengah modus kejahatan yang semakin beragam, menjadi lebih waspada tentu bukan hal yang salah. Justru, kewaspadaan dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih aman.

Namun, waspada berbeda dengan hidup dalam ketakutan.

Waspada membuat kita berpikir, “Apa yang bisa dilakukan agar lebih aman?” Sementara anxiety berlebihan sering membuat pikiran terjebak pada pertanyaan, “Bagaimana kalau hal buruk terjadi kepada saya?”

Perbedaan ini penting agar kita tidak kehilangan kebebasan menjalani aktivitas hanya karena terus membayangkan kemungkinan terburuk.

Batasi Konsumsi Berita Kriminal

Salah satu langkah sederhana untuk mengelola anxiety adalah mengatur paparan informasi. Media sosial membuat berita kriminal dapat muncul berulang kali dalam satu hari, bahkan dari berbagai akun dengan sudut pandang berbeda.

Tidak semua informasi harus dikonsumsi terus-menerus. Pilih sumber berita yang kredibel, baca informasi seperlunya, kemudian kembali melakukan aktivitas.

Hindari doomscrolling, terutama menjelang tidur. Membaca berbagai kasus kriminal secara terus-menerus tidak selalu membuat seseorang semakin aman. Dalam kondisi tertentu, kebiasaan tersebut justru dapat membuat pikiran terus berada dalam mode siaga.

Ubah Rasa Takut Menjadi Ikhtiar

Daripada menghabiskan energi dengan membayangkan berbagai kemungkinan buruk, arahkan rasa khawatir menjadi tindakan nyata.

Misalnya, simpan nomor darurat, beri tahu keluarga ketika bepergian, pilih rute dan transportasi yang aman, jangan mudah memberikan data pribadi, serta selalu melakukan verifikasi ketika menerima pesan atau permintaan transfer uang.

Untuk keamanan digital, jangan terburu-buru mengklik tautan, memberikan kode OTP, atau mengikuti instruksi dari orang yang identitasnya belum terverifikasi.

Dengan begitu, kewaspadaan tidak berhenti sebagai rasa takut, tetapi berubah menjadi ikhtiar.

Tenangkan Diri Ketika Pikiran Mulai Berlebihan

Ketika anxiety muncul, tubuh juga bisa ikut bereaksi. Napas menjadi lebih cepat, jantung berdebar, tubuh tegang, dan pikiran sulit berhenti membuat skenario buruk.

Cobalah berhenti sejenak dan mengembalikan perhatian pada keadaan saat ini. Tarik napas secara perlahan, lepaskan ketegangan pada tubuh, dan perhatikan benda-benda di sekitar. Cara sederhana seperti ini dapat membantu mengalihkan fokus dari bayangan buruk yang belum tentu terjadi.

Menjaga rutinitas tidur, beraktivitas fisik, berinteraksi dengan orang terdekat, serta menyediakan waktu untuk beristirahat juga dapat membantu menjaga kesehatan mental.

Ingat Bahwa Rasa Takut Akan Berlalu

Ustazah Halimah Alaydrus menyampaikan pengingat ketika hati diliputi kegelisahan dan ketakutan. Pesannya, “Jangan minta kaya, mintalah cukup. Jangan minta senang, mintalah tenang. Sebab hati yang tenang akan bahagia di manapun berada.” 

Pesan tersebut bisa menjadi refleksi bahwa ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan justru dapat berarti tetap berusaha menjaga diri sambil menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, ikhtiar dan tawakal dapat berjalan bersama. Kita tetap berhati-hati, tetapi tidak perlu membiarkan ketakutan mengambil alih seluruh hidup.

Jangan Ragu Mencari Bantuan

Jika kecemasan akibat berita kriminalitas mulai membuat seseorang sulit tidur, menghindari aktivitas, sulit bekerja atau belajar, serta mengganggu hubungan dengan orang lain, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele.

WHO menyebut gangguan kecemasan dapat mengganggu kehidupan sosial, pekerjaan, sekolah, dan aktivitas sehari-hari, tetapi kondisi ini memiliki penanganan yang efektif. 

Berbicara dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan profesional bukan berarti seseorang lemah. Justru, mencari bantuan merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Pada akhirnya, hidup di tengah berbagai risiko memang membutuhkan kewaspadaan. Namun, kewaspadaan tidak harus berubah menjadi ketakutan tanpa akhir. Kenali risiko, lakukan langkah keamanan yang masuk akal, batasi paparan berita, rawat tubuh dan pikiran, serta tetap berikhtiar dan berserah diri. Dunia mungkin tidak selalu bisa kita kendalikan, tetapi cara kita meresponsnya masih bisa dilatih.

#Anxiety #KesehatanMental #Kriminalitas #MentalHealth #TipsMengatasiAnxiety #GenZ #SelfCare #Tawakal #HidupTenang #KesehatanMentalGenZ