Teknologi AI Kawal Muktamar NU ke-35. Nahdhiyin Wajb Berinovasi!
Siapa yang tidak bangga melihat organisasi keagamaan terbesar di Indonesia terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman? Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026, menjadi sorotan karena menghadirkan terobosan baru dalam sistem tata kelola forum tertinggi organisasi tersebut. Panitia Muktamar memasang lebih dari 100 titik kamera pengawas atau CCTV yang terintegrasi dengan pusat kendali atau command center .
Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah penyelenggaraan muktamar, teknologi digital mutakhir diterapkan secara masif untuk memperketat pengawasan keamanan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan peserta . Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menjelaskan bahwa seluruh perangkat teknologi pengawas tersebut telah terhubung ke dalam satu sistem pemantauan terpadu. "Di arena utama, iya. Mulai di tempat cuci tangan, kemudian di tower-tower, di tempat akomodasi, di tempat konsumsi, maupun di jalan-jalan," katanya .
Penggunaan teknologi ini dirancang tidak hanya untuk pengamanan, tetapi juga kemudahan operasional peserta. Setiap peristiwa di lapangan terpantau langsung melalui command center . Jika muncul kendala, sistem akan mencatat laporan secara otomatis dan menetapkan petugas yang bertanggung jawab untuk penanganan di lapangan . "Semua ini agar muktamar lebih transparan, terkendali dan menggunakan mekanisme yang terukur. Mudah-mudahan dengan adanya command center ini layanan menjadi lebih mudah, cepat mengatasi masalah dan segera mencarikan jalan keluar," ujar Gus Ipul .
Selain itu, panitia juga menerapkan ID card berbasis cip paten untuk memverifikasi identitas peserta sebelum tiba di lokasi . Setiap kartu peserta telah diatur berdasarkan wilayah akses sehingga pemegang kartu hanya dapat memasuki area yang sesuai dengan kewenangannya . "Sudah pakai cip, sudah paten, sehingga dengan demikian enggak bisa dimanipulasi," kata Sekretaris Steering Committee Muktamar ke-35 NU, Profesor Mohammad Nuh . Panitia juga memanfaatkan AI agent yang terhubung ke aplikasi WhatsApp untuk memudahkan peserta mengetahui lokasi akomodasi mereka . Fitur AI ini juga difungsikan untuk menerima laporan barang hilang maupun kondisi darurat medis yang akan direspons secara cepat oleh petugas command center .
Muktamar NU: Forum Persatuan dan Kontribusi untuk Bangsa
Muktamar ke-35 NU mengusung tema "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa" . Forum ini bukan sekadar ajang pergantian kepemimpinan, tetapi menjadi ruang intelektual untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan respons NU terhadap tantangan sosial, keagamaan, kebangsaan, dan perkembangan global . Rais Syuriah PBNU, Prof KH Zainal Abidin, menekankan pentingnya menjaga persatuan dan musyawarah dalam muktamar. "Perbedaan pandangan hal lumrah dalam organisasi yang besar. Namun perbedaan tersebut jangan sampai menghilangkan persaudaraan dan kekompakan warga NU,” ujarnya .
Muktamar ini juga menjadi momentum penting bagi NU memasuki abad kedua perjuangannya. NU diharapkan mampu membaca perkembangan zaman secara lebih luas tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar dan khazanah keilmuan yang diwariskan para pendiri . Kepemimpinan NU ke depan perlu memperkuat tradisi keilmuan, kaderisasi, pelayanan sosial, serta kontribusi organisasi dalam pembangunan bangsa . Dengan demikian, ukuran keberhasilan Muktamar bukan hanya terpilihnya kepemimpinan baru, tetapi juga kemampuan menghasilkan arah organisasi yang menjaga persatuan sekaligus menjawab kebutuhan bangsa dan masyarakat .
Inovasi dan Teknologi: Bukti NU Adaptif dan Profesional
Penggunaan lebih dari 100 CCTV, ID card berbasis cip, dan AI agent menunjukkan bahwa NU tidak alergi terhadap kemajuan teknologi. Justru, NU menunjukkan bahwa organisasi keagamaan bisa menjadi pelopor dalam pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan profesionalisme dan transparansi. Gus Ipul menegaskan bahwa keterlibatan teknologi dalam pendaftaran dan pemantauan peserta membuat seluruh proses kegiatan menjadi transparan serta tercatat secara resmi . "Bahkan kita sudah melibatkan teknologi. Jadi enggak ada yang bisa ngibul, enggak ada yang bisa main-main, gitu loh. Jadi setiap pendaftaran, kegiatan, sudah terekam semua," tegasnya .
Ini adalah pesan penting bahwa menjadi organisasi keagamaan tidak berarti harus ketinggalan zaman. Justru, dengan mengadopsi teknologi, NU dapat melayani warganya dengan lebih baik dan menjaga marwah organisasi di mata publik. Inovasi ini juga menjadi jawaban atas tuntutan profesionalisme di era digital, sekaligus menghilangkan stigma bahwa organisasi tradisional tidak mampu beradaptasi dengan perubahan.
99 Masjid Ramah Muktamirin dan Dukungan Lintas Elemen
Untuk menyambut para muktamirin dan penggembira, program "99 Masjid Ramah Muktamirin" diluncurkan di Jombang . Program kolaborasi antara Dewan Masjid Indonesia (DMI), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Lembaga Takmir Masjid (LTM) PCNU Jombang ini menfungsikan 99 masjid yang tersebar di 21 kecamatan menjadi titik singgah rest area dan tempat menginap sementara . Bupati Jombang, Warsubi, mengapresiasi penyiapan jaringan masjid ini dan mengimbau pengelola masjid menjaga kebersihan dan kenyamanan fasilitas dasar .
Selain itu, GP Ansor mengerahkan 8.300 personel gabungan Banser dan Pagar Nusa untuk mengamankan seluruh rangkaian muktamar . Dukungan juga datang dari Muhammadiyah yang mengirimkan personel Kokam untuk membantu pengamanan dan mendirikan posko kuliner gratis . Semua ini menunjukkan bahwa Muktamar NU bukan hanya agenda internal, tetapi juga menjadi momentum kebersamaan dan solidaritas lintas elemen masyarakat.
NU Harus Menjadi Solusi Umat, Bukan Wadah Politik Belaka
Di tengah hiruk-pikuk perhelatan akbar ini, kita perlu mengingatkan bahwa NU adalah organisasi keagamaan yang lahir untuk menjadi solusi bagi umat, bukan sekadar wadah politik praktis. Muktamar adalah forum untuk bermusyawarah menentukan arah perjuangan NU ke depan, bukan ajang adu popularitas atau kepentingan politik sesaat. NU harus terus menjadi kekuatan masyarakat sipil yang mampu menghadirkan Islam yang moderat, inklusif, dan konstruktif dalam kehidupan kebangsaan .
Rais Syuriah PBNU, Prof KH Zainal Abidin, mengingatkan bahwa Muktamar harus dilaksanakan dengan penuh kegembiraan, khidmat, dan mengedepankan persatuan warga Nahdlatul Ulama . Hal ini sejalan dengan semangat Islam yang mengajarkan persaudaraan dan kebersamaan. Muktamar adalah milik seluruh warga NU, dan hasilnya harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, bukan hanya untuk segelintir elite.
Hikmah dan Pelajaran Islam dari Muktamar NU
Perhelatan Muktamar NU ini memberikan banyak hikmah dan pelajaran berharga bagi umat Islam. Pertama, inovasi dan adaptasi terhadap teknologi adalah bagian dari ikhtiar untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam berorganisasi. Kedua, persatuan dan musyawarah adalah kunci untuk mencapai kemaslahatan bersama. Ketiga, kolaborasi dan dukungan lintas elemen adalah cerminan dari semangat ukhuwah Islamiyah dan kebangsaan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 103, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." Ayat ini menjadi landasan bagi umat Islam untuk selalu bersatu dan bekerja sama dalam kebaikan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh NU dan berbagai elemen masyarakat dalam menyukseskan Muktamar ke-35.
Semoga Muktamar NU ke-35 ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kontribusi bagi bangsa, dan melahirkan kepemimpinan yang amanah dan membawa kemaslahatan bagi umat dan negara. NU harus terus menjadi teladan dan inspirasi, bukan hanya bagi warganya, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia.
Foto: Dok. Istimewa
#MuktamarNU35 #Jombang #CCTV #Teknologi #Inovasi #Persatuan #Kebangsaan #PesantrenTambakberas #PBNU #Indonesia