Kalimat-kalimat ini sudah sering sekali kita dengar.

"Anak perempuan jangan main bola."

"Anak laki-laki jangan masuk dapur."

Kalimat seperti ini mungkin masih sering terdengar di banyak keluarga. Sebagian orang tua menganggapnya sebagai bagian dari cara mendidik anak. Padahal, tanpa disadari, cara berpikir seperti itu bisa membuat anak ragu mengeksplorasi bakat dan kemampuan yang Allah Swt. titipkan.

Bukan berarti peran laki-laki dan perempuan harus disamakan. Islam telah menetapkan fitrah dan tanggung jawab masing-masing. Namun, membatasi kesempatan anak untuk belajar, berpendapat, atau mengembangkan potensinya hanya karena jenis kelamin justru dapat menghambat tumbuh kembang mereka.

Para psikolog menilai keluarga merupakan tempat pertama yang membentuk cara pandang anak terhadap laki-laki dan perempuan. Nilai saling menghargai, bekerja sama, dan menghormati setiap anggota keluarga seharusnya mulai diajarkan sejak anak masih kecil.

Mereka juga mengingatkan bahwa diskriminasi berbasis gender tidak selalu muncul dalam bentuk yang besar. Kebiasaan sederhana di rumah pun bisa menjadi awal munculnya ketidakadilan. Misalnya, ketika semua pekerjaan rumah dianggap hanya tugas ibu atau anak perempuan, sementara anak laki-laki tidak pernah diajak ikut bertanggung jawab.

Padahal, merapikan tempat tidur, mencuci piring, menyapu lantai, atau menyiapkan makanan bukan sekadar pekerjaan domestik. Semua itu adalah keterampilan hidup yang akan dibutuhkan siapa pun ketika dewasa.

Karena itu, orang tua dianjurkan membangun komunikasi yang sehat di dalam keluarga, termasuk saat membagi tugas rumah. Pembagian tanggung jawab sebaiknya dilakukan berdasarkan kesepakatan dan kemampuan masing-masing, bukan semata-mata karena anak berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.

Hal yang sama berlaku dalam pendidikan. Anak perempuan yang menyukai sepak bola perlu didukung mengembangkan bakatnya. Sebaliknya, anak laki-laki yang ingin belajar memasak, menjahit, atau keterampilan lain yang bermanfaat juga tidak layak dipandang sebelah mata. Selama kegiatan tersebut membawa manfaat dan tidak bertentangan dengan syariat, orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk bertumbuh.

Di rumah, anak juga perlu dibiasakan menyampaikan pendapat. Ketika ayah dan ibu mau mendengar pendapat anak laki-laki maupun perempuan dengan sikap yang sama, mereka belajar bahwa setiap orang berhak dihargai dan didengarkan.

Selain itu, setiap anak perlu dibekali keterampilan hidup, termasuk kemampuan mengelola keuangan, mengambil keputusan, dan melindungi diri dari berbagai bentuk kekerasan. Bekal ini akan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab.

Islam memandang laki-laki dan perempuan sebagai hamba Allah Swt. yang sama-sama dimuliakan. Keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu, beramal saleh, dan memberi manfaat bagi orang lain. Yang membedakan keduanya di sisi Allah bukanlah jenis kelamin, melainkan ketakwaan.

Allah Swt. berfirman: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan... Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (QS. Al Hujurat: 13).

Ayat ini menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi yang layak dikembangkan. Orang tua tidak seharusnya membatasi kesempatan anak hanya karena anggapan bahwa suatu kegiatan lebih cocok dilakukan oleh laki-laki atau perempuan.

Teladan terbaik datang dari Rasulullah saw. Aisyah ra. pernah menceritakan bahwa ketika berada di rumah, Rasulullah saw. biasa membantu pekerjaan keluarganya. Ketika waktu salat tiba, beliau keluar untuk menunaikan salat. Hadis riwayat Imam Bukhari ini menunjukkan bahwa membantu pekerjaan rumah adalah bagian dari akhlak mulia.

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Nasaruddin Umar juga menegaskan bahwa hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam dibangun di atas prinsip kemitraan. Keduanya diciptakan untuk saling melengkapi, saling menghormati, dan saling menguatkan dalam membangun keluarga. Karena itu, setiap anggota keluarga perlu diberi kesempatan mengembangkan kemampuan terbaiknya tanpa melupakan tanggung jawab yang telah ditetapkan syariat.

Bagi orang tua muda, pelajaran terpenting bukanlah mengarahkan anak agar sesuai dengan stereotip yang berkembang di masyarakat. Tugas orang tua adalah mengenali potensi yang Allah titipkan, lalu membimbingnya agar berkembang menjadi kemampuan yang bermanfaat.

Jika anak menyukai olahraga, dukung ia berlatih. Jika anak senang memasak, beri kesempatan untuk belajar. Jika anak berbakat berbicara di depan umum, bantu ia membangun rasa percaya diri. Potensi yang diasah sejak kecil dapat menjadi bekal berharga bagi masa depannya.

Mendidik anak secara adil bukan berarti menghapus perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Justru, orang tua perlu memahami fitrah masing-masing sambil memastikan setiap anak memperoleh kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan kemampuan terbaiknya. Ketika rumah dipenuhi sikap saling menghargai, kerja sama, dan kasih sayang, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia sekaligus siap menghadapi kehidupan.

 

Foto: Pexels

 

#Parenting #OrangTuaMuda #PendidikanAnak #KeluargaMuslim #Islam #PolaAsuh #PendidikanKarakter #AkhlakAnak #InspirasiMuslim #ParentingIslami