Belajar agama hari ini semudah membuka ponsel. Dalam hitungan detik, ribuan video ceramah, kajian, hingga potongan nasihat bisa muncul di TikTok, YouTube, Instagram, atau podcast. Fenomena ini membuat semakin banyak anak muda memulai perjalanan hijrah melalui ruang digital.

Kemudahan tersebut patut disyukuri karena akses terhadap ilmu agama menjadi jauh lebih luas. Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab setiap muslim, terutama orang tua muda. Apakah semua konten agama yang muncul di media sosial layak dijadikan pegangan?

Survei Indonesia Millennials and Gen Z Report 2026 dari IDN Research menunjukkan sekitar 65 persen generasi milenial dan Gen Z mengakses konten spiritual atau keagamaan setiap pekan melalui media sosial. Sementara itu, laporan We Are Social mencatat lebih dari 207 juta penduduk Indonesia aktif menggunakan media sosial. Data ini menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi salah satu tempat utama masyarakat belajar agama.

Pakar antropologi agama Prof. Imam Subchi menilai media sosial telah menjadi ruang baru untuk belajar agama. Menurutnya, realitas ini tidak bisa dihindari karena generasi muda kini banyak mengaji melalui YouTube, TikTok, Instagram, podcast, hingga komunitas digital.

Meski demikian, Prof. Imam mengingatkan adanya perubahan besar dalam cara masyarakat menentukan siapa yang dianggap sebagai rujukan agama. Popularitas di media sosial sering kali lebih mudah menarik kepercayaan dibandingkan proses menuntut ilmu yang panjang.

Menurutnya, seseorang bisa dianggap ahli agama hanya karena sering muncul di FYP atau memiliki jutaan pengikut. Padahal, otoritas keagamaan seharusnya lahir dari kedalaman ilmu, proses belajar yang panjang, serta tanggung jawab moral.

Ia juga mengingatkan agar hijrah tidak berhenti pada perubahan yang terlihat dari luar. Hijrah sejati bukan sekadar soal penampilan, unggahan media sosial, atau simbol keagamaan, tetapi perubahan akhlak, cara berpikir, dan kepedulian terhadap sesama.

Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Nasaruddin Umar. Ia berkali-kali mengingatkan bahwa agama bukan sekadar pengetahuan yang dihafal, melainkan nilai yang harus membentuk karakter dan perilaku sehari-hari.

Menurut Prof. Nasaruddin Umar, ukuran keberhasilan seseorang dalam beragama bukan banyaknya simbol yang ditampilkan, melainkan sejauh mana ajaran agama melahirkan sikap rendah hati, kasih sayang, kejujuran, serta membawa kedamaian bagi orang lain.

Karena itu, belajar agama tidak cukup hanya mengumpulkan potongan video berdurasi singkat. Seorang muslim juga perlu membangun kebiasaan membaca Al-Qur'an, memahami hadis, menghadiri majelis ilmu, serta belajar kepada guru yang memiliki kompetensi dan sanad keilmuan yang jelas.

Islam sendiri telah memberikan pedoman dalam mencari ilmu. Allah Swt. berfirman: "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An Nahl: 43).

Ayat ini menunjukkan bahwa ketika menghadapi persoalan agama, seorang muslim diperintahkan bertanya kepada ahlinya. Bukan kepada orang yang sekadar terkenal atau banyak ditonton.

Rasulullah saw. juga bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini terasa semakin relevan di era media sosial. Algoritma tidak bekerja berdasarkan kualitas ilmu, melainkan berdasarkan perhatian pengguna. Konten yang paling memancing emosi atau kontroversi sering kali lebih mudah viral dibandingkan penjelasan yang utuh dan mendalam.

Bagi orang tua muda, kondisi ini menjadi pengingat untuk mendampingi anak saat belajar agama di ruang digital. Bukan dengan melarang mereka mengakses media sosial, melainkan mengajarkan cara memilih sumber yang kredibel, memeriksa dalil yang digunakan, serta membiasakan bertanya kepada guru ketika menemukan hal yang belum dipahami.

Media sosial tetap dapat menjadi sarana dakwah yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan bijak. Namun, hijrah digital akan benar-benar membawa kebaikan ketika dibarengi dengan semangat mencari ilmu dari sumber yang benar, memperbaiki akhlak, dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab pada akhirnya, yang akan dinilai Allah Swt. bukan seberapa sering seseorang membagikan konten agama, melainkan seberapa jauh ilmu tersebut mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih bertakwa dan bermanfaat bagi sesama.

 

Foto: Pexels

 

#HijrahDigital #BelajarAgama #MediaSosial #GenZ #ParentingMuslim #LiterasiDigital #Islam #Muslim #DakwahDigital #Akhlak