Alquran untuk Semua, Kisah Indah Islam yang Memudahkan Umat Membaca Kalam Allah
Tidak semua orang dapat membaca Alquran dengan cara yang sama. Ada yang membacanya melalui mushaf biasa, ada yang menggunakan huruf Braille karena keterbatasan penglihatan, dan kini semakin banyak upaya agar teman tuli juga dapat mempelajari Alquran melalui bahasa isyarat.

Inilah wajah Islam yang penuh kasih. Agama ini tidak mempersulit umatnya untuk mendekat kepada Allah Swt., tetapi justru menghadirkan berbagai ikhtiar agar setiap muslim memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal dan membaca kalam-Nya.

Semangat itulah yang tampak dalam penyelenggaraan Training of Trainers (TOT) Alquran Bahasa Isyarat Batch 3 yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Masjid Baitut Tholibin bekerja sama dengan Baitul Maal Muamalat.

Selama dua hari, para pendidik mendapatkan pembekalan mengenai metode pembelajaran Alquran berbasis bahasa isyarat. Mereka tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga praktik mengajar agar mampu memberikan layanan pembelajaran yang sesuai bagi peserta didik penyandang disabilitas rungu.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif. Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Talenta Kemendikdasmen, Mariman Darto, menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan implementasi pendidikan inklusif dan pendidikan khusus yang membutuhkan perhatian bersama.

Komitmen itu juga diperkuat melalui kolaborasi dengan Baitul Maal Muamalat, Yayasan Wakaf Salman, serta Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen VPKPLK). Bahkan, Kemendikdasmen berencana kembali menyelenggarakan pelatihan serupa bertepatan dengan Hari Tuli Internasional dan Hari Bahasa Isyarat Internasional.

Sekretaris Ditjen VPKPLK, Suparto, menjelaskan bahwa program ini juga merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin hak setiap penyandang disabilitas memperoleh pendidikan yang inklusif. Menurutnya, kesempatan mempelajari Alquran harus dibuka seluas-luasnya bagi seluruh warga negara, termasuk peserta didik penyandang disabilitas rungu.

Langkah tersebut sejalan dengan prinsip Islam yang selalu memudahkan, bukan mempersulit.

Allah Swt. berfirman dalam Alquran:

"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185).

Ayat ini menjadi salah satu landasan bahwa syariat Islam dibangun di atas asas kemudahan. Ketika ada keterbatasan fisik atau kondisi tertentu, Islam membuka berbagai jalan agar seorang muslim tetap dapat beribadah sesuai kemampuannya.

Hal itu juga tampak dalam sejarah perkembangan pembelajaran Alquran. Saat ini telah tersedia mushaf Braille bagi penyandang tunanetra, aplikasi Alquran digital dengan fitur audio, terjemahan dalam berbagai bahasa, hingga metode bahasa isyarat bagi teman tuli. Semua ini menunjukkan bahwa teknologi dan inovasi dapat menjadi jembatan agar semakin banyak orang dekat dengan Alquran.

Ustaz Adi Hidayat dalam berbagai kajiannya juga kerap mengingatkan bahwa membaca Alquran bukan sekadar aktivitas ibadah, tetapi cara Allah berbicara kepada hamba-Nya. Karena itu, beliau mendorong setiap muslim untuk meluangkan waktu membaca Alquran setiap hari sesuai kemampuan.

Menurut Ustaz Adi Hidayat, jangan menunggu mampu membaca dengan sempurna untuk mulai berinteraksi dengan Alquran. Teruslah belajar karena setiap huruf yang dibaca bernilai pahala, bahkan orang yang masih terbata-bata pun mendapat dua pahala, yaitu pahala membaca dan pahala atas kesungguhannya belajar. Penjelasan tersebut merujuk pada hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Rasulullah saw. bersabda:

"Orang yang mahir membaca Alquran akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Adapun orang yang membaca Alquran dengan terbata-bata dan merasa kesulitan, maka baginya dua pahala." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini membawa kabar gembira bagi siapa pun yang sedang belajar membaca Alquran. Tidak ada alasan untuk merasa minder hanya karena belum lancar. Justru setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh mendapat apresiasi langsung dari Allah Swt.

Karena itu, pelatihan Alquran bahasa isyarat bukan sekadar program pendidikan. Lebih dari itu, program ini merupakan bentuk nyata bahwa setiap muslim berhak merasakan keindahan berinteraksi dengan Alquran, apa pun kondisi fisiknya.

Di tengah perkembangan teknologi dan semakin terbukanya akses pendidikan, sudah saatnya masyarakat ikut mendukung terciptanya lingkungan yang ramah bagi penyandang disabilitas. Sebab, kemuliaan seseorang di hadapan Allah tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik, melainkan oleh ketakwaan dan kesungguhannya dalam mencari petunjuk-Nya.

Semakin banyak jalan yang dibuka untuk mempelajari Alquran, semakin besar pula peluang lahirnya generasi muslim yang mencintai kitab sucinya. Dan itulah salah satu bukti bahwa Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam, karena selalu menghadirkan kemudahan agar setiap hamba dapat mendekat kepada Allah Swt.

 

Foto: Kemendikdasmen

 

#Alquran #BahasaIsyarat #PendidikanInklusif #Kemendikdasmen #TemanTuli #Disabilitas #LiterasiAlquran #UstazAdiHidayat #IslamRahmatanLilAlamin #MuslimIndonesia