Dari Lereng Rinjani, Tiwi Buktikan Mimpi Tak Mengenal Desa Terpencil
Banyak orang menganggap tinggal di desa terpencil adalah hambatan untuk meraih mimpi. Akses pendidikan terbatas, peluang kerja sedikit, dan fasilitas yang belum memadai sering dijadikan alasan. Namun anggapan itu dipatahkan oleh Sri Trisnadewi, atau akrab disapa Tiwi, perempuan muda asal Desa Lantan, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Tiwi membuktikan bahwa tempat lahir bukan penentu sejauh apa seseorang bisa melangkah. Justru dari kaki Gunung Rinjani, ia berhasil menciptakan perubahan yang dirasakan banyak orang.
Perjalanan Tiwi dimulai dari desa yang selama bertahun-tahun belum banyak dikenal publik. Ia lahir sebagai anak kembar tiga di Desa Lantan. Di tengah keterbatasan, semangat belajarnya tidak pernah surut. Kesungguhannya mengantarkan Tiwi menjadi penerima angkatan pertama Program 1000 Cendekia NTB.
Kesempatan itu membuka jalan baginya menempuh pendidikan lebih tinggi. Setelah menyelesaikan studi S1 di Universitas Nahdlatul Wathan, Tiwi melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Kebangsaan Malaysia. Ia tercatat sebagai perempuan pertama dari desanya yang berhasil menempuh pendidikan magister di luar negeri.
Prestasi akademik itu sebenarnya sudah membanggakan. Namun yang membuat kisah Tiwi semakin istimewa adalah keputusan yang ia ambil setelah memperoleh ilmu.
Alih-alih menetap di kota atau mencari pekerjaan dengan penghasilan tinggi, Tiwi memilih kembali ke kampung halamannya. Baginya, ilmu tidak hanya untuk mengubah nasib pribadi, tetapi juga menjadi bekal membangun masyarakat.
Sejak 2022, Tiwi dipercaya memimpin Kelompok Sadar Wisata Solah di Desa Wisata Lantan. Bersama warga, ia mengembangkan potensi alam dan budaya desa menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat.
Konsep yang dibangun bukan sekadar menghadirkan tempat berfoto. Wisatawan diajak benar-benar merasakan kehidupan masyarakat desa. Mereka dapat menikmati kopi tradisional, mengikuti soft trekking menyusuri alam, mencoba eco pounding, hingga berinteraksi langsung dengan aktivitas warga.
Pendekatan ini membuat wisata di Lantan memiliki nilai pengalaman, bukan sekadar hiburan. Wisata berkembang tanpa menghilangkan identitas lokal yang selama ini menjadi kekuatan desa.
Di bawah kepemimpinan Tiwi bersama masyarakat, Desa Lantan terus berbenah. Kawasan yang dahulu hanya dikenal oleh warga sekitar kini berkembang menjadi Desa Ekowisata Nasional. Keindahan alam seperti air terjun, persawahan, dan kawasan lereng Rinjani dipadukan dengan pelestarian budaya serta pemberdayaan masyarakat.
Transformasi itu tidak terjadi dalam semalam. Tiwi percaya pembangunan desa harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Karena itu, berbagai kegiatan konservasi rutin dilakukan. Salah satunya mengajak puluhan siswa SMP membersihkan Sungai Lenek. Dalam waktu sekitar dua jam, mereka berhasil mengumpulkan tujuh karung sampah plastik. Aksi sederhana tersebut mengajarkan bahwa menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab semua orang.
Upaya mempromosikan desa juga dilakukan dengan cara yang mengikuti perkembangan zaman. Desa Lantan memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan destinasi wisata kepada masyarakat yang lebih luas. Strategi ini membuat promosi desa tidak lagi bergantung pada cara konvensional.
Kisah Tiwi menjadi pengingat bahwa pendidikan sejatinya bukan sekadar mengejar gelar. Pendidikan mencapai maknanya ketika ilmu yang diperoleh kembali memberi manfaat bagi masyarakat.
Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam. Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." Hadis riwayat ath-Thabrani ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan hanya prestasi pribadi, tetapi juga manfaat yang ia hadirkan bagi lingkungan.
Ustaz Abdul Somad juga mengingatkan bahwa ilmu akan menjadi berkah ketika diamalkan. Menurutnya, orang berilmu memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki keadaan di sekitarnya, bukan hanya meningkatkan kualitas hidup dirinya sendiri.
Tiwi menunjukkan contoh nyata dari pesan tersebut. Ia tidak menunggu kampungnya menjadi maju lebih dahulu sebelum berkontribusi. Justru ia memilih menjadi bagian dari perubahan itu.
Di tengah banyak anak muda yang bermimpi sukses di kota besar atau luar negeri, keputusan Tiwi untuk pulang kampung memberi sudut pandang berbeda. Kesuksesan tidak selalu berarti meninggalkan desa. Kadang, kesuksesan justru terlihat ketika seseorang mampu membuat kampung halamannya ikut maju bersama.
Cerita Tiwi juga membuktikan bahwa perempuan muda memiliki peran besar dalam pembangunan daerah. Kepemimpinan, pendidikan, dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan salah satunya.
Dari lereng Rinjani, Tiwi mengirim pesan sederhana kepada banyak anak muda Indonesia. Mimpi boleh setinggi langit, tetapi jangan lupa tempat berpijak. Ketika ilmu, kepedulian, dan keberanian bertemu, sebuah desa kecil pun dapat dikenal hingga tingkat nasional.
Foto: Instagram/@desa_wisata_lantan, @trisnadewi69, ntbprov.go.id
#SriTrisnadewi #TiwiLantan #DesaWisataLantan #Lombok #InspirasiPerempuan #AnakMudaIndonesia #Pendidikan #Ekowisata #PemimpinMuda #Ilmuyangberkah