Pernah merasa sesak saat melihat teman lebih sukses, lebih cantik, lebih kaya, atau lebih berprestasi? Perasaan itu sering muncul tanpa diundang.

Dalam Islam, rasa iri memang bisa muncul sebagai fitrah manusia. Yang menjadi persoalan adalah ketika iri dibiarkan tumbuh hingga berubah menjadi hasad.

Hasad bukan sekadar ingin memiliki nikmat seperti orang lain. Hasad adalah berharap nikmat yang dimiliki orang lain hilang.

Inilah penyakit hati yang sangat berbahaya karena merusak hubungan dengan sesama sekaligus hubungan dengan Allah Swt.

Rasulullah saw. mengingatkan: "Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud)

Artinya, ibadah yang sudah susah payah kita lakukan bisa terkikis akibat hati yang dipenuhi rasa dengki.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Langkah pertama adalah menyadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Alquran menegaskan bahwa Allah membagi rezeki, kemampuan, dan kedudukan manusia sesuai hikmah-Nya.

Allah Swt. berfirman: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain." (QS. An-Nisa: 32)

Ayat ini bukan melarang kita berprestasi. Justru Allah memerintahkan agar manusia meminta karunia kepada-Nya, bukan sibuk menghitung nikmat orang lain.

Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa obat pertama bagi penyakit iri adalah memahami takdir Allah.

Menurutnya, seseorang yang yakin Allah Mahaadil akan lebih mudah menerima bahwa setiap orang memiliki ujian dan rezekinya masing-masing.

"Kalau Allah memberi kepada orang lain, itu bukan berarti jatah kita berkurang," jelas Ustaz Adi Hidayat.

Cara kedua adalah mengubah iri menjadi ghibthah. Dalam Islam, ghibthah adalah keinginan memiliki kebaikan yang sama tanpa berharap nikmat orang lain hilang.

Misalnya, kamu melihat teman rajin bersedekah. Daripada berharap dia berhenti bersedekah, lebih baik berdoa agar Allah juga memberimu kemampuan yang sama.

Rasulullah saw. bahkan membolehkan rasa iri dalam bentuk ghibthah pada dua golongan. Orang yang diberi harta lalu menggunakannya di jalan Allah, dan orang yang diberi ilmu kemudian mengamalkan serta mengajarkannya.

Cara ketiga adalah memperbanyak syukur.

Penelitian psikologi positif yang dipelopori Robert Emmons dari University of California menunjukkan bahwa kebiasaan bersyukur mampu meningkatkan kebahagiaan sekaligus mengurangi kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain.

Saat fokus pada apa yang belum dimiliki, hati akan terus merasa kurang. Sebaliknya, ketika menghitung nikmat yang sudah Allah berikan, rasa iri perlahan mengecil.

Aa Gym juga sering mengingatkan bahwa sumber ketenangan hidup adalah hati yang bersyukur.

"Kalau sibuk menghitung nikmat orang lain, kita tidak akan pernah bahagia. Hitung nikmat Allah yang ada pada diri kita," pesan Aa Gym.

Cara keempat adalah membatasi kebiasaan membandingkan diri, terutama di media sosial.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan membuat seseorang lebih mudah merasa rendah diri karena hanya melihat sisi terbaik kehidupan orang lain.

Padahal, yang ditampilkan di media sosial sering kali hanyalah potongan kecil kehidupan, bukan kenyataan secara utuh.

Jika setelah membuka media sosial kamu justru sering merasa minder, mungkin bukan hidupmu yang kurang, tetapi sudut pandangmu yang perlu diperbaiki.

Cara kelima adalah mendoakan orang yang membuatmu iri.

Ini memang tidak mudah, tetapi sangat ampuh.

Ketika hati mulai berkata, "Kenapa dia yang dapat?", segera ubah menjadi, "Ya Allah, berkahilah dia dan berilah aku rezeki yang baik juga."

Doa seperti ini melatih hati agar bersih dari hasad sekaligus memperkuat keyakinan bahwa rezeki Allah tidak terbatas.

Jangan lupa bahwa setiap nikmat selalu membawa ujian. Orang yang terlihat sukses mungkin sedang menghadapi tekanan yang tidak kamu ketahui. Orang yang tampak bahagia bisa jadi sedang berjuang dalam diam.

Karena itu, membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain hampir selalu menghasilkan penilaian yang tidak adil.

Pada akhirnya, musuh terbesar bukanlah keberhasilan orang lain, melainkan ketidakmampuan kita menerima ketetapan Allah. Semakin hati dipenuhi syukur, semakin kecil ruang bagi iri untuk tumbuh.

Kamu tidak perlu menjadi seperti orang lain agar bernilai di hadapan Allah. Yang Allah nilai bukan siapa yang paling banyak hartanya, tetapi siapa yang paling bertakwa dan paling baik amalnya.

 

Foto: Pexels

 

#IriHati #Hasad #Islam #MotivasiIslam #Muhasabah #PenyakitHati #Syukur #AkhlakMulia #KajianIslam #LifestyleIslami