Media sosial kembali diramaikan oleh tren yang memicu perdebatan. Kali ini, sorotan tertuju pada perubahan lirik lagu "Gapapa" milik pedangdut senior Anisa Bahar.

Lagu yang semula berisi pesan tentang ketegaran justru diubah sebagian warganet menjadi lirik bernuansa seksual demi konten hiburan.

Perubahan itu memancing reaksi keras dari anggota DPR RI sekaligus tokoh publik, Atalia Praratya.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia mengaku prihatin melihat fenomena tersebut.

Menurutnya, mengubah lirik lagu menjadi bermakna vulgar bukan sekadar candaan, tetapi dapat merendahkan martabat perempuan dan memberi contoh yang buruk bagi generasi muda.

"Mereka merendahkan kaumnya sendiri dan merusak moral bangsa," tulis Atalia dalam unggahannya.

Pernyataan itu segera mendapat perhatian luas. Banyak warganet menyatakan sepakat bahwa kebebasan berkreasi di media sosial tetap memiliki batas.

Tidak semua hal layak dijadikan bahan candaan, apalagi jika mengandung unsur yang mengarah pada pornografi atau pelecehan terhadap perempuan.

Lagu "Gapapa" sendiri dikenal sebagai lagu yang mengajak pendengarnya tetap kuat menghadapi cobaan hidup. Namun, belakangan muncul tren di media sosial yang mengganti beberapa bagian lirik menjadi kalimat berkonotasi seksual. Video-video tersebut kemudian menyebar di berbagai platform dan ditonton jutaan kali.

Anisa Bahar pun ikut menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai perubahan lirik tersebut telah menghilangkan makna asli lagu yang diciptakan dengan penuh pesan positif.

Sebagai penyanyi sekaligus pencipta karya, Anisa berharap masyarakat lebih menghargai karya seni dan tidak mengubahnya menjadi sesuatu yang merusak nilai yang ingin disampaikan.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana algoritma media sosial sering kali mendorong pengguna berlomba membuat konten yang paling mengejutkan demi memperoleh perhatian.

Semakin kontroversial sebuah video, semakin besar peluangnya mendapatkan komentar, dibagikan, atau masuk halaman rekomendasi. Akibatnya, sebagian orang rela mengorbankan etika agar kontennya viral.

Padahal, perhatian yang diperoleh dengan cara seperti itu umumnya hanya bersifat sesaat.

Yang tertinggal justru jejak digital yang bisa terus beredar dan memengaruhi cara orang lain memandang perilaku tersebut.

Dalam dunia psikologi, perilaku mengikuti tren tanpa mempertimbangkan dampaknya sering dikaitkan dengan kebutuhan akan validasi sosial. Keinginan memperoleh pengakuan dari lingkungan dapat membuat seseorang mengabaikan norma yang sebelumnya dianggap penting.

Ketika konten vulgar mendapat banyak respons, sebagian pengguna terdorong membuat versi yang lebih ekstrem agar tidak tenggelam di tengah derasnya arus media sosial.

Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga lisan dan setiap bentuk komunikasi. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al Ahzab ayat 70:

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."

Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi. Di era digital, pesan itu tidak hanya berlaku pada percakapan langsung, tetapi juga pada lirik, video, komentar, maupun konten yang diunggah ke media sosial.

Rasulullah juga bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi pedoman bahwa kreativitas seharusnya tidak mengorbankan nilai kesopanan dan kehormatan orang lain.

Kritik Atalia Praratya bukan semata membahas sebuah lagu yang diubah liriknya.

Pesan yang ingin disampaikan lebih luas, yaitu mengingatkan bahwa ruang digital tetap membutuhkan tanggung jawab moral. Kreativitas memang penting, tetapi akan lebih bermakna jika digunakan untuk menyebarkan inspirasi, bukan sekadar mengejar sensasi.

Bagi anak muda, media sosial menawarkan peluang besar untuk berkarya. Banyak kreator sukses lahir karena ide-ide segar yang mereka bagikan secara konsisten.

Namun, kreativitas tidak harus dibangun dari konten yang vulgar atau merendahkan pihak tertentu. Justru karya yang membawa manfaat memiliki peluang bertahan lebih lama dan meninggalkan jejak positif.

Perdebatan soal perubahan lirik lagu "Gapapa" menjadi pengingat bahwa setiap unggahan memiliki dampak.

Sebelum mengikuti tren yang sedang viral, ada baiknya bertanya pada diri sendiri, apakah konten tersebut benar-benar menghibur, atau justru mengikis nilai yang selama ini dijunjung bersama.

 

Foto: Instagram/@ataliapr

 

#AtaliaPraratya #AnisaBahar #Gapapa #LaguViral #MediaSosial #KontenViral #EtikaDigital #GenerasiMuda #LiterasiDigital #Akhlak