Setiap pasangan tentu ingin rumah tangganya selalu dipenuhi cinta dan kebahagiaan. Namun, setelah bertahun-tahun bersama, tidak sedikit suami istri yang mulai merasakan hubungan mereka berubah. Percakapan semakin sedikit, perhatian berkurang, dan hari-hari terasa berjalan begitu saja.

Jika kondisi itu terjadi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa cinta telah hilang. Dalam banyak kasus, yang muncul sebenarnya adalah rasa bosan. Kabar baiknya, kebosanan bukanlah akhir dari sebuah pernikahan, melainkan sinyal bahwa hubungan perlu dirawat kembali.

Mamah Dedeh pernah mengingatkan bahwa rumah tangga tidak akan selalu berjalan mulus. Karena itu, suami dan istri harus sama-sama belajar memahami pasangan, bukan sibuk mencari kesalahannya.

"Kalau ada masalah di rumah tangga, jangan selalu menyalahkan pasangan. Introspeksi diri dulu, karena rumah tangga itu dibangun oleh dua orang," kata Mamah Dedeh.

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan konselor keluarga Bendri Jaisyurrahman yang menyebut kebosanan sebagai sesuatu yang manusiawi. Selama masih hidup di dunia, tidak ada manusia yang benar-benar terbebas dari rasa bosan.

Bahkan, Al-Qur'an memberi gambaran bahwa kehidupan tanpa rasa negatif hanya akan dirasakan penghuni surga. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al Hijr ayat 47 bahwa Dia akan menghilangkan segala perasaan buruk dari hati penghuni surga sehingga mereka hidup penuh kedamaian.

Artinya, selama masih hidup di dunia, rasa bosan adalah bagian dari ujian yang harus dikelola dengan bijak, termasuk dalam kehidupan rumah tangga.

Bosan Bisa Menjadi Awal Masalah yang Lebih Besar
Masalahnya bukan pada rasa bosan itu sendiri, melainkan ketika dibiarkan berlarut-larut.

Menurut Bendri Jaisyurrahman, kebosanan ibarat virus. Jika tidak segera diatasi, perasaan itu dapat berkembang menjadi konflik yang lebih serius, mulai dari renggangnya komunikasi hingga perselingkuhan dan perceraian. Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mencari penyebabnya, bukan mencari kambing hitam.

Apakah rasa bosan muncul karena hubungan dengan pasangan memang semakin renggang? Atau justru karena hati mulai sibuk membandingkan pasangan dengan orang lain?

Di era media sosial, godaan itu semakin nyata. Potongan video romantis, drama Korea, unggahan pasangan yang tampak sempurna, hingga kenangan masa lalu yang tiba-tiba muncul di linimasa dapat memengaruhi cara seseorang memandang pasangannya sendiri.

Tanpa disadari, seseorang mulai membangun ekspektasi yang sulit diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Padahal, hubungan yang terlihat sempurna di media sosial belum tentu mencerminkan kehidupan sebenarnya.

Islam pun mengingatkan pentingnya menjaga pandangan. Perintah ini tidak hanya ditujukan kepada laki-laki, tetapi juga perempuan, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah An Nur ayat 31 agar perempuan beriman menjaga pandangannya.

Menjaga pandangan bukan sekadar menghindari hal yang haram. Di era digital, maknanya juga mencakup menjaga hati agar tidak mudah terpikat oleh kehidupan orang lain yang belum tentu nyata.

Perbaiki Cara Berkomunikasi
Tidak sedikit pasangan yang sebenarnya saling mencintai, tetapi gagal menyampaikan perasaan. Ketika kecewa, sebagian orang memilih menyindir. Ada pula yang langsung menyalahkan pasangan.

Padahal, menurut Bendri Jaisyurrahman, laki-laki umumnya lebih mudah menerima masukan jika didahului dengan apresiasi dan empati. Daripada berkata, "Kamu tidak pernah membantu," akan jauh lebih baik jika diawali dengan penghargaan, lalu disampaikan harapan secara lembut.

Cara berkomunikasi seperti ini membuat pasangan merasa dihargai, bukan dihakimi.

Hal senada juga sering disampaikan Mamah Dedeh. "Suami istri itu jangan pelit ngobrol. Banyak masalah selesai hanya karena mau saling mendengar," ujarnya.

Al-Qur'an smenggambarkan bahwa salah satu kenikmatan penghuni surga adalah saling bercakap-cakap dengan penuh kehangatan, sebagaimana disebutkan dalam Surah As-Saffat ayat 50. Pesan ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar bertukar informasi, melainkan cara menjaga kedekatan hati.

Jangan Biarkan Rutinitas Mematikan Kehangatan
Rumah tangga yang sehat bukan berarti setiap hari harus diisi pekerjaan, mengurus anak, atau memenuhi berbagai tanggung jawab. Rasulullah saw. justru mengajarkan pentingnya memberi ruang untuk menikmati kebersamaan.

Beliau pernah bersabda bahwa di antara hal yang dibolehkan untuk menghibur diri adalah bercanda dengan pasangan.

Karena itu, sesekali cobalah melakukan aktivitas baru bersama. Berjalan-jalan, memasak, membaca buku, berolahraga, atau sekadar menikmati secangkir teh sambil berbincang tanpa gangguan ponsel dapat menjadi cara sederhana menghidupkan kembali kehangatan yang mulai memudar.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships juga menunjukkan bahwa pasangan yang rutin melakukan aktivitas baru bersama cenderung memiliki kepuasan pernikahan yang lebih tinggi. Pengalaman baru membantu membangun kembali kedekatan emosional dan mengurangi kejenuhan dalam hubungan.

Rumah Tangga Bahagia Dimulai dari Introspeksi
Tidak ada pasangan yang sempurna. Akan selalu ada fase ketika cinta terasa naik turun, komunikasi tidak berjalan baik, atau rutinitas membuat hubungan terasa hambar.

Namun, kebahagiaan rumah tangga bukan ditentukan oleh seberapa sering masalah datang, melainkan bagaimana suami dan istri menghadapinya.

Alih-alih sibuk menuntut pasangan berubah, cobalah lebih dulu mengoreksi diri sendiri. Sebab, ketika masing-masing berusaha menjadi pasangan yang lebih baik, rumah tangga akan lebih mudah dipenuhi kasih sayang, mawaddah, dan rahmat dari Allah Swt.

 

Foto: Pexels

 

#RumahTangga #MamahDedeh #Pernikahan #KeluargaSakinah #TipsPernikahan #BendriJaisyurrahman #Islam #SuamiIstri #Muslim #Relationship